Website Iklan Tayang Selamanya
Promo spesial hari ini posting iklan di situs web Iklan Nusa Tenggara Timur murah sekali
setidaknya satu iklan Anda harus ada di Iklan Nusa Tenggara Timur unikbaca.com ini, agar
pengakses dapat mencari dan tahu usaha Anda, posting di Iklan Nusa Tenggara Timur murah
🎁 Hari ini sebar iklan massal murah ke 1.050 web! DISKON!

Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
thumbnail

Hikmah Film Sang Kyai

Dalam Film Sang Kyai, ada santri yang bernama Harun. Dalam kebijakan –kebijakan politiknya Sang Kyai pun sempat disalahpahami santrinya yang bernama Harun itu. Sang Kiai dianggap mengikuti keinginan tentang Jepang untuk menyerukan masyarakat menanam hasil bumi, lalu hasilnya disetorkan ke Jepang.

Nyai Kapu (istri Kyai Hasyim Asy’ari) pun sempat bertanya perihal Harun, kenapa dia begitu berprasangka buruk kepada Sang Kyai. Sang Kyai pun menjawab, “Terkadang prasangka yang buruk itu bukan datang dari niat yang buruk, tapi bisa juga datang dari sebuah ketidak tahuan. Dan aku tidak harus menerangkan kepada setiap orang alasan atau kenapa aku memilih kebijakan tersebut “. Karena memang dalam sebuah strategi kebijakan politik ada amniyah ( kerahasiaan) yang harus benar-benar dijaga. Bukanlah sebuah strategi namanya, kalau semua orang tahu apa alasan dibalik semua strategi. Yang pada akhirnya, setelah beberapa saat lamanya, Harun baru mengerti, memahami dan membenarkan kenapa dulu Sang Kyai mengambil kebijakan politik tersebut.

Sebelumnya, bahkan Harun pun memilih untuk keluar dari pesantren. Alasannya karena sang kiai Hasyim Asy'ari membiarkan K.H. Zaenal Mustofa yang menentang penyetoran hasil itu dipenggal kepalanya oleh tentara Jepang.

Apalagi sang kiai juga memenuhi keinginan Jepang untuk mengizinkan santri berlatih militer sebagai bagian dari tentara Jepang. Keinginan Harun keluar dari pesantren itu tak bisa dicegah. Meskipun dia dihalangi perempuan yang juga istri Harun sendiri, bahkan temannya.

"Tidak semua orang tahu, Bapak (panggilan Nyai Kapu kepada suaminya) membiarkan pemengggalan Kiai Zaenal Mustofa karena setuju dengan sikapnya. Bapak juga mengizinkan santri dilatih militer Jepang bukan untuk ikut Jepang, melainkan membentuk laskar tersendiri, yakni Hizbullah. Laskar yang kelak dibutuhkan saat melawan penjajah," ucap Nyai Kapu.

"Fardlu Ain" Jepang kalah perang, Sekutu mulai datang. Soekarno sebagai presiden saat itu mengirim utusannya ke Tebuireng untuk meminta Hadratusy Syaikh K.H. Hasyim Asy'ari untuk membantu mempertahankan kemerdekaan.

Sang Kiai Hasyim Asyari menjawab permintaan Soekarno dengan mengeluarkan Resolusi Jihad pada tanggal 22 Oktober 1945. Dia akhirnya mendorong barisan santri dan massa penduduk Surabaya yang didukung pemuda dari berbagai Tanah Air pun berduyun-duyun tanpa rasa takut melawan sekutu di Surabaya.

Gema Resolusi Jihad yang intinya meneguhkan bahwa membela Tanah Air adalah "fardlu ain" (kewajiban individu). Bahkan dalam radius tertentu itu pun menjadi semangat spiritual keagamaan membuat pemuda-pemuda Indonesia berani mati.

Para santri yang sebelumnya telah terlatih militer oleh tentara Jepang pun atas ridho Hasyim Asy'ari pun pergi ke Surabaya. Mereka dengan gagah berani berperang melawan tentara sekutu. Laskar Hizbullah bersama santri dan masyarakat selanjutnya tergambarkan dalam pertempuran 10 November 1945 di Surabaya yang berujung pada tewasnya Brigjen A.W.S. Mallaby.

Resolusi Jihad itu pun merupakan satu fakta lagi dari sejarah yang tak tertulis. Kala itu sejarah lebih menggambarkan semangat Arek- arek Suroboyo dalam Pertempuran 10 November 1945 yang membuat tentara Sekutu akhirnya bertekuk lutut. Meski Surabaya sempat dibombardir akibat tewasnya jenderal terbaik Sekutu itu.

Jihad membela tanah air adalah bagian dari jihad membela agama, keberadaan negara juga penting untuk bisa bebas mengamalkan agama.

Film ini secara umum mengajarkan pentingnya tiga unsur penting yakni kearifan, cinta, dan politik.

Menjadi seorang pemimpin, katanya, haruslah arif dan penuh cinta ketika berkuasa. Namun, juga harus mampu menguasai ilmu perpolitikan agar tidak terjerumus dan dipolitisasi oleh pihak lain.

Itulah yang dapatkan dari diri Sang Kyai. Beliau arif, cinta kepada keluarga, santri, dan masyarakatnya. Lebih dari itu, beliau memiliki ilmu politik dahsyat yang membuat Belanda, Jepang, dan Inggris pun ampun-ampun.
thumbnail

Rahasia Makhluk yang Bernama Kematian dan Ketukannya

 Ingin tahu apa itu kematian? kami sajikan untuk anda rahasianya, berikut penjelasan dari Abduldaem Al-Kaheel.

Ketukan waktu kematian berjalan bersama menit

Dalam setiap sel tubuh manusia ada waktu yang sangat vital dan kecermatan  yang sangat tinggi, waktu itulah yang telah dianugerahkan oleh Allah untuk mengontrol seluruh proses hidup mulai dari lahir hingga kematiannya, dan para ilmuwan mengatakan bahwa program ini terletak di setiap sel yang bergerak dan berbunyi bersama menit tidak sendirian.

Dan waktu ini telah diprogram untuk mengetuk jumlah tertentu dari detak jantung, tidak menambah atau mengurangi, dan ketika berada diakhir ketukan, maka kematian datang setelahnya dan tidak pernah bisa ditunda. Dan karena itu, kita bisa mengagumi keakuratan Allah ketika menggambarkan secara jelas kepada kita tentang kematian, Allah berfirman:

فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ

“Maka jika datang waktu kematian mereka, tidak bisa mereka tunda dan dan mendahulukannya sedetikpun”

(An-Nahl: 61].

Kematian adalah makhluk seperti halnya kehidupan

Setelah penelitian panjang dan melelahkan, para ilmuwan menemukan bahwa program kematian sel menciptakan sel yang sama, seandainya tidak ada program ini maka tidak akan mampu melanjutkan kehidupan di muka Bumi, dan para ilmuwan menegaskan bahwa kematian adalah makhluk seperti halnya kehidupan, dan seakan kematian itu adalah dasar utamanya.

Dan yang menakjubkan kita adalah bahwa hal tersebut kita dapat temukan isyarat yang jelas dalam ayat:

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

“Dialah Allah yang menciptakan kematian dan kehidupan, untuk menguji siapa diantara kalian yang terbaik amalnya”. (Al-Mulk:2)

Jadi kematian adalah makhluk… dan inilah yang ditegaskan oleh para ilmuwan dan ini pula yang telah ditegaskan oleh Al-Quran. Pertanyaannya adalah dari mana Nabi saw mendapatkan ilmu ini jika bukan dari sisi Allah?!

 Tidak ada obat untuk mencegah kematian

Mayoritas para ilmuwan menegaskan bahwa masa tua adalah cara terbaik untuk mengakhiri kehidupan manusia secara alami, jika tidak, maka setiap upaya untuk memperpanjang hidup di atas batas-batas tertentu akan memberikan banyak afek samping minimal terserang penyakit kanker.

Para ilmuwan mengatakan: “Setiap usaha untuk mencapai keabadian bertentangan dengan alam.” Para ilmuwan telah menyimpulkan hasilnya, yaitu bahwa meskipun menghabiskan miliaran dolar untuk mengobati masa tua dan berumur panjang, tetap saja tidak akan membuahkan hasil dan manfaat. Inilah yang pernah diisyaratkan oleh Nabi Muhammad saw, beliau bersabda:

تَدَاوَوْا يَا عِبَادَ اللهِ، فَإِنَّ اللهَ لَمْ يَضَعْ دَاءً إِلاَّ وَضَعَ لَهُ شَفَاءً إِلاَّ دَاءً وَاحِداً: الْهَرَمُ

“Berobatlah wahai hamba-hamba Allah, karena Allah tidak pernah memberikan suatu penyakit kecuali Allah berikan penawarnya kecuali satu masa tu” (Diriwayatkan oleh Ahmad).

Demikianlah fakta ilmu baru datang yang belum dikenal sebelumnya membuktikan dan mengkonfirmasikan kebenaran sabda Nabi saw dan kebenaran risalah Islam.

Oleh: Abduldaem Al-Kaheel

thumbnail

SEMANGAT KHAIBAR UNTUK PEMBEBASAN AL-AQSHA DAN PALESTINA


Oleh : Ali Farkhan Tsani

Komite Eksekutif Global March to Jerusalem (GMJ) mengumumkan bahwa GMJ tahun 2013 akan digelar secara serentak di berbagai belahan dunia pada tanggal 7 Juni 2013.
Aksi GMJ melibatkan seluruh gerakan pro-Palestina di dunia dilaksanakan setiap tahun untuk mengingatkan dunia akan penjajahan Israel di Palestina.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, GMJ tahun ini juga akan dilaksanakan dengan aksi longmarch besar-besaran baik di Palestina maupun di negara-negara di luar Palestina, seperti di Eropa, Amerika, Malaysia dan Indonesia.

Pengurus Pusat Global March to Jerusalem (GMJ) di Yordania menyatakan, aksi menandai peringatan ke-46 pendudukan bagian timur kota suci Yerusalem, yang meliputi kawasan Masjid Al-Aqsa dan sekitarnya.

Menurut Zaher Birawi, yang memimpin GMJ melalui Jalur Gaza, aksi diselenggarakan dalam rangka terus meningkatkan kesadaran global tentang kejahatan penjajahan Zionis Israel terhadap Palestina serta terus membuka mata dunia terhadap pelanggaran-pelanggaran yang terus meningkat terhadap kota suci Al-Quds.

Mengapa 7 Juni?

Diambilnya tanggal 7 Juni sebagai hari pelaksanaan GMJ, berkaitan dengan Perang Enam Hari (5-10 Juni 1967) atau Perang Arab-Israel 1967. Perang berlangsung antara Israel berhadapan dengan gabungan tiga negara Arab: Mesir, Yordania dan Suriah. Ketiga negara tersebut mendapat dukungan dari negara Arab lainnya: Irak, Kuwait, Arab Saudi, Sudan dan Al-Jazair.
Namun, koalisi Arab ternyata dikalahkan oleh Zionis Israel yang didukung sekutu-sekutunya Inggris, Amerika, dll. Setelah perang yang hanya berlangsung 132 jam 30 menit (kurang dari enam ari). Zionis Israel pun mencaplok Palestina keseluruhan, Jerusalem, Tepi Barat dan Jalur Gaza, Semenanjung Sinai Mesir hingga Dataran Tinggi Golan Suriah. Termasuk Pulau Tiran dan Sanafir milik Arab Saudi.

Orang-orang Palestina merasa mengalami kekalahan dan kemunduran. Oleh karena itu, hari awal serangan 5 Juni 1967 disebut sebagai Hari Kemunduran atau Hari Naksah (Naksa Day).
Pada tanggal 5 Juni 1967, tentara Israel sebenarnya sudah sampai ke Jerusalem (Al-Quds). Namun bermalam menunggu sampai tanggal 7 Juni. Mengapa? Karena menunggu tanggal 7 Juni, bertepatan dengan peristiwa kekalahan Yahudi dalam Perang Khaibar (628 M.), hingga mereka terusir dari Jazirah Arab akibat pelanggaran mereka sendiri. Padahal Khaibar terjadi sekitar 1.300 tahun sebelumnya.

Dengan dendam Khaibar itu, Zionis Israel setelah menguasai Jerusalem, mereka langsung mengusir tidak kurang dari 330 ribu warga Palestina menjadi pengungsi ke negara-negara lain.
Zionis menguasai sumber air Sungai Jordan, Selat Tiran hingga Teluk Aqabah, yang membuka jalan bagi masuknya armada-armada perang mereka.

Tentara-tentara itu ketika memasuki Jerusalem, meneriakkan nyanyian ejakan, “Muhammad, maat, maat, wa khalafa banaat”. (Muhammad -pasukan umat Muhammad- telah mati, mati, hanya menyisakan anak-anak perempuan).

Nasib Jenderal Zionis

Penyerangan, penjarahan, pengusiran, penjahan dan segala bentuk pelanggaran hak asasai manusia semuanya dilakukan rezim Zionis Israel terhadap warga Palestina. Baik muslim maupun nonmuslim kalangan Kristen menjadi sasaran tembak. Bahkan kebanyakan dari kalangan anak-anak dan kaum perempuan.

Ada beberapa nama Jenderal Zionis yang terlibat dalam Perang Enam Hari 1967. Di antaranya Ariel Sharon, Yitzhak Rabin, Moshe Dayan, Ezer Weizman dan Motta Gur.
Bagaimana nasib akhir hidup mereka setelah membuat dosa-dosa atas rakyat yang tidak berdaosa? Sangat tragis dan menjadi peringatan dan pelajaran bagi lainnya. Kita sebut satu per satu.

1. Yitzhak Rabin, Perdana Menteri Israel tahun 1974-1977 dan tahun 1992-1995. Ia tewas dibunuh oleh Yigal Amir, warga Yahudi sendiri yang menjadi aktivis sayap kanan Israel.

2. Ezer Weizman, meniti karier sampai menjadi Presiden Israel tahun 1993-2000. Anaknya bernama Saul tewas karena kecelakaan tragis mobil. Ia sendiri tewas diberondong oleh sesama warga Yahudi di Tel Aviv tahun 1995.

3. Moshe Dayan, panglima militer yang kemudian menjadi anggota Parlemen Knesset (1981). Ia meninggal karena kanker usus besar yang tidak dapat diobati.

4. Motta Gur, yang menjadi Kepala Staf Pertahanan Israel. Tahun 1995 ia dinyatakan sakit kanker yang sulit diobati. Gur akhirnya bunuh diri dengan menembakkan pistol ke kepalanya 16 Juli 1995.

5. Ariel Sharon, yang kemudian menjadi Perdana Menteri Israel (2001-2006), lebih tragis lagi nasibnya. Ia dinyatakan terkena stroke tahun 2005, mengakibatkan dirinya dicopot dari jabatannya tahun 2006. Tahun 2006 ia kembali terkena stroke lebih parah, pendarahan di otak. Bahkan dinyatakan koma, tidak sadarkan diri akibat lumpuh otak (cerebral palsy) dari tahun 2006 hingga 2013, sampai saat ini. Tim dokter rumah sakit menyebutkan biaya pengobatan Sharon sekitar 3,75 miliar rupiah per tahun. Media setempat Echorouk memberitakan, sejak Sharon koma, tim dokter dipaksa untuk melakukan operasi pemotongan bagian dari ususnya yang membusuk. Operasi pemotongan itu berlanjut pada organ tubuh lainnya satu per satu, yang mulai membusuk.

Ghazwah Khaibar

Jika Yahudi saja menjadikan Khaibar sebagai media balas dendam, bahkan untuk perbuatan sadis tidak berperikemanusiaan. Maka, kaum muslimin layak menjadikan Ghazwah (Perang) Khaibar juga, bukan untuk ajang dendam. Akan tetapi sebagai penyulut dan penyemangat ruh Khaibar bagi perjuangan dunia Islam secara terpimpijn.

Ghazwah Khaibar merupakan salah satu perang besar yang dipimpin langsung oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Perang ini terjadi tahun 9 Hijriyah, setelah Fathu Makkah (tahun 8 Hijriyah). Khaibar adalah nama tempat pemukiman Yahudi, sekitar 30 km sebelah timur laut kota Madinah.

Sebelum Ghazwah Khaibar berlangsung, orang-orang Yahudi waktu itu mampu mengalahkan reputasi penduduk asli, yaitu suku Aus dan Khajraz. Namun, keahlian Yahudi tersebut mereka gunakan untuk menguras sumberdaya alam warga setempat. Mereka pun mengembangkan sistem riba, yang membuat para petani jazirah Arab tidak berdaya.

Sebagai produsen, mereka terbelenggu riba yang diterapkan orang-orang Yahudi sebagai bandar. Sedangkan sebagai konsumen, mereka juga kesusahan mengingat segala kebutuhan dipasok dan ditentukan harganya oleh para distributor Yahudi. Setelah umat Islam datang berhijrah dari Mekkah ke Madinah, lambat laun keadaan mulai berubah. Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mulai menata muamalah (sistem sosial) umat Islam. Beliau menata perekonomian masyarakat berlandaskan kejujuran, keadilan, bebas riba, dan jauh dari eksploitasi ekonomi.
Sistem ekonomi yang dicontohkan para sahabat, segera menarik perhatian banyak kalangan di sekitar Madinah. Masyarakat pun berbondong-bondong menyambut sistem itu. Sementara itu kaum Yahudi merasa tersisihkan karena sistem kapitalisme-liberalisme ekonomi berbasis riba yang mereka kendalikan selama ini mulai terancam. Padahal sistem ekonomi syariah yang melarang riba, justru untuk keuntungan dan kesejahteraan semua pihak, termasuk nonmuslim sekalipun.

Akibat merasa tersisihkan dan mereka tidak lagi menjadi superpower yang biasanya dengan bebasnya semaunya sendiri mengendalikan masyarakat dengan sistem ribanya. Mereka pun berusaha melawan kekuatan umat Islam, dengan cara melakukan persekongkolan jahat dengan kabilah-kabilah kafirin-musyrikin Arab.

Terlebih, musyrikin Quraisy merasa dipermalukan akibat kekalahan dalam perang Badar (th 2 Hijrah), Perang Khandaq (6 Hijrah), Fathu Mekah (8 Hijrah) hingga perang Hunain (8 Hijrah).
Kekalahan Yahudi Khaibar
Andalan Yahudi waktu itu hanya tinggal benteng-benteng Khaibar yang terkenal kokoh lagi kuat. Mereka menyimpan cadangan makanan untuk dua tahun, dan menyiapkan persenjataan terhebat yang belum pernah ada dalam sejarah peperangan masa itu. Namun benteng itu dapat dirobohkan oleh pasukan kaum muslimin di bawah panglima medan tempur terdepan Ali bin Abi Thalib. Umat Islam hanya memerlukan waktu singkat saja untuk merebutnya.

Kekalahan Yahudi di benteng-benteng yang kuat di Khaibar itu, kemudian menjadi dongeng sebelum tidur yang terus-menerus diceritakan para orang tua kepada anak cucunya. Agar tumbuh dendam berkepanjangan bagaimana dapat mengalahkan umat Islam.
Merekapun mempelajari Al-Quran, apa ayat yang turun kepada Muhammad ketika dapat mengalahkan Yahudi.

Lalu, ditemukanlah ayat di dalam Surat Al-Hasyr ayat 14  :
لا يُقاتِلُونَكُمْ جَميعاً إِلاَّ في قُرىً مُحَصَّنَةٍ أَوْ مِنْ وَراءِ جُدُرٍ بَأْسُهُمْ بَيْنَهُمْ شَديدٌ تَحْسَبُهُمْ جَميعاً وَ قُلُوبُهُمْ شَتَّى ذلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لا يَعْقِلُونَ
Artinya : “Tidaklah mereka akan memerangi kalian dalam keadaan bersatu-padu, kecuali di dalam kampung-kampung yang diben¬tengi atau dari belakang dinding-dinding; permusuhan di antara sesama mereka sangat hebat. Engkau sangka mereka bersatu, padahal hati mereka berpecah-¬belah. Yang demikian itu ialah karena mereka itu adalah kaum yang tidak berakal”. (QS Al-Hasyr : 14).

Oleh Yahudi Zionis Internasional, kekalahan nenek-moyang mereka pada Perang Khaibar dijadikan bahan kajian. Diolah sedemikian rupa dari kelemahan menjadi kekuatan. Lalu dialihkan dengan berbagai cara kepada kalangan umat Islam masa kini. Sehingga yang terjadi sekarang, umat Yahudi bersatu-padu dalam ikatan yang kuat Zionisme Intenasional. Sedangkan umat Islam tercerai-berai dalam berbagai firqah dan pecahan-pecahannya.

Kini, dengan salah satu upaya melalui media GMJ, di antara ratusan, ribuan bahkan mungkin jutaan upaya amal sholeh, saatnya umat Islam mengembalikan semangat ruh Ghazwah Khaibar dalam perang menghadapi Zionis Yahudi.

Semangat persatuan dan kesatuan, bil jama’ah, dalam satu Jama’ah Muslimin yang terpimpin oleh seorang Imaamnya, dalam bingkai Khilafah ‘Alaa Minhaajin Nubuwwah sebagai kekuatan untuk membebaskan Al-Aqsha dan Palestina. Bukan hanya itu, bahkan untuk mengangkat harkat, martabat dan kehormatan Islam dan muslimin, “Li ‘izztil Islam wal muslimin”. Maka, kalau Yahudi saat mengalahkan kaum muslimin dalam Perang Enam Hari 1967 meneriakkan,“Muhammad, maat, maat, wa khalafa banaat”. (Muhammad -pasukan umat Muhammad- telah mati, mati, hanya menyisakan anak-anak perempuan).

Maka, teriakkan itu kita balas dengan teriakan lebih kencang lagi, lebih keras lagi, lebih bersemangat lagi, “Khaibar, khaibar ya Yahud, Jaisyu Muhammad saufa ya’ud”. (Khaibar, Khaibar hai Yahudi. Tentara Muhammad –umat Muhammad- datang kembali). Allahu Akbar! (mina).
thumbnail

Kita Perlu Allah, Bukan Khadam

“Dan (ingatlah) hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan mereka semuanya kemudian Allah berfirman kepada Malaikat: “Apakah mereka ini dahulu menyembah kamu?”. Malaikat-malaikat itu menjawab: “Maha suci Engkau. Engkaulah pelindung Kami, bukan mereka; bahkan mereka telah menyembah jin; kebanyakan mereka beriman kepada jin itu”. (QS. Saba’: 40-41)
Malaikat adalah makhluk yang hanya tunduk dan patuh kepada perintah Allah, bukan perintah manusia. Tugas mereka adalah mengabdi kepada Allah, bukan mengabdi kepada manusia, apalagi menjadi budak dan khadamnya. Kita sebagai orang mukmin harus mengimani adanya malaikat secara benar, dan tidak mengkultuskannya. Apalagi menjadikan mereka sebagai sekutu Allah atau tandingan-Nya. Kita tidak boleh minta bantuan kepada para malaikat tanpa terkecuali, termasuk malaikat Jibril. Karena minta bantuan kepada mereka untuk melindungi diri, memajukan usaha, menolak bencana atau menyembuhkan penyakit dan yang lainnya adalah tindakan syirik dan menduakan Allah.

Bermula dari pemahaman yang salah tentang malaikat dan kiprah mereka di kalangan manusia, akhirnya lahir keyakinan yang menyimpang. Ada manusia yang men jadikan malaikat sebagai perantara atau kurir, untuk mengantarkan do’anya kepada Allah. Dan ada juga yang menjadikan malaikat sebagai sekutu Allah, ia memohon pertolongan kepada mereka. Bahkan ada juga yang menjadikan malaikat sebagai tuhan yang disembah. Allah berfirman, “Dan dia (Nabi) tidak menyuruhmu menjadikan malaikat dan para nabi sebagai tuhan. Apakah patut ia menyuruhmu kepada kekafiran di waktu kamu sudah (menganut agama) lslam?” (QS. Ali ‘lmran: 80).

Kalau kita memohon kepadamalaikat dengan ritual atau wirid tertentu, lalu datang sosok ghaib untuk mengabulkan permintaan atau memberi bantuan, maka ketahuilah bahwa itu adalah tipudaya syetan. Syetan datang untuk menjerat manusia dengan kesyirikan. Memang, syetan tidak secara langsung atau menunjukkan jati dirinya lalu menyuruh manusia menyembahnya. Tapi mereka mengelabuhi manusia dengan datang sebagai sosok malaikat. Malaikat palsu itu datang dengan menampakkan diri sebagai sosok orang alim dan shalih. Menasehati manusia dengan kebaikan, membantunya saat dalam kesusahan. Lalu bersedia menjadi khadamnya.

Kalau sudah begitu, bukanlah syetan bersosok malaikat itu yang menjadi khadamnya. Justru manusia itulah yang menjadi khadam syetan dan budaknya. Syetan dengan mudah mempermainkannya, dan manusia itu pun dengan mudah menuruti intruksi syetan bersosok malaikat. Ketika seorang manusia merasa ia mempunyai khadam gahib. Maka, -cepat atau lambat- rasa tawakkal dan bergantungnya kepada Allah akan berkurang, dan akhirnya terkikis habis. Bila ditimpa masalah ia berharap khadamnya datang membantunya. Kalaupun tidak datang juga, ia akan melakukan ritual yang telah dipesankan untuk memanggilnya. Mereka tidak menyadari bahwa syetan telah mempermainkannya.

Sebetulnya Al-Qur’an telahmengingatkan kita, agar selalu waspada terhadap tipu muslihat syetan yang bersosok malaikat. Pada hari kiamat nanti, Allah akan bertanya kepada para malaikat-Nya tentang perbuatan orang-orang musyrik yang telah menjadikannya sebagai tuhan. Tapi para malaikat membantah tuduhan itu, karena yang mereka sembah sesungguhnya adalah jin atau syetan, bukan malaikat seperti yang diyakini manusia tersebut. Al-Qur’an berkata: “Dan ingatlah (pada waktu) Allah mengumpulkan mereka semuanya, kemudian Allah berfirman kepada para malikat: “Apakah mereka itu dahulunya menyembah kamu?” Para malaikat menjawab: “Maha suci Engkau, Engkau-lah Pelindung kami bukan mereka, justru mereka telah menyembah jin, kebanyakan mereka beriman kepada jin itu”. (QS. Saba’: 40-41).

Jebakan syetan yang bersosok malaikat sebetulnya bisa kita hindari, iika kita konsisten terhadap janji dan ikrar kita kepada Allah. Kita sudah berikrar dalam setiap rakaat shalat. Yaitu saat kita membaca surat al-Fatihah, “Hanya kepada Engkaulah kami menyembah, dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.” (QS. al-Fatihah: 5). Dan ingatlah selalu akan pesan Rasulullah SAW, “Jika kamu meminta (sesuatu), mintalah kepada Allah. Dan iika kamu memohon pertolongan, minta tolonglah kepada Allah.” (HR. Tirmidzi dan dinyatakan sebagai hadits hasan shahih).

Kita tidak butuh perantara dalam meminta sesuatu atau memohon pettolongan kepada Allah. Apalagi dengan memohon kepada makhluk-Nya, termasuk para malaikat. Al-Qur’an memberitahu kita, “Dan Tuhanmu berfirman: ‘Berdo'alah kepadaku, niscaya akan Aku kabulkan untukmu. Sesungguhnya onng-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.”. (QS. al-Mukmin: 60).

Lihatlah bagaimana cara Rasulullah SAW memohon pertolongan kepada Tuhannya. Saat pasukan lslam berhadapan dengan pasukan kafir dalam Perang Badar, jumlah pasukan lslam sepertiga dari pasukan musuh. Rasulullah terus menerus berdo’a kepada Allah. “Ya Allah, Penuhilah bagiku apa yang Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah, sesungguhnya aku mengingatkan-Mu akan sumpah dan janji-Mu.” Dan tatkala pertempuran berkobar dan semakin sengit, Rasulullah berdo’a lagi. “Ya Allah jika pasukan ini hancur pada hari ini, tentu Engkau tidak akan disembah lagi. Ya Allah, kecuali jika memang Engkau menghendaki untuk tidak disembah selamanya setelah hari ini.”

Begitu larut dan khusu’nya Rasulullah dalam berdo’a dan bermunajat, sehingga tanpa disadari sorbannya jatuh dari pundaknya. Abu Bakar memungutnya lalu mengembalikan ke pundaknya seraya berkata, “Cukuplah bagimu wahai Rasulullah untuk terus menerus berdo’a kepada Allah”. Setelah itu turunlah ayat, “(lngatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: “Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut.” (QS. al-Anfal: 9). (Lihat Sirah Nabawiyyah oleh al-Mubarakfuri: 284-285).

Dalam kondisi yang genting dan sulit seperti itu, Rasulullah tidak minta bantuan kepada malaikat, baik malaikat yang menjaganya atau malaikat yang menjadi qarinnya. Kepada Allah-lah Rasulullah memanjatkan do’a dan memohon pertolongan. Allah Maha Tahu dan Maha Kuasa bagaimana cara untuk menolong hamba-ham ba-Nya yang sedang dalam kesulitan. Kita tidak bisa memastikan, apakah Allah akan mengutus tentaranya yang terdiri dari malaikat. Atau Allah mengutus makhluk-Nya yang lain seperti angin topan, badai, banjir, tsunami, longsor, gempa. Atau hati orang yang bermaksud jahat kepada kita dijadikan menciut dan takut. Hanya Allah yang Maha Mengetahui. Kita sebagai hamba, hanya bisa berusaha semaksimal mungkin dan berdo’a kepada-Nya, kemudian bertawakkal sefta ikhlas menghadapi ketentuan-Nya. Kita hanya perlu Allah, bukan khadam.



Ghoib Ruqyah Syar’iyyah
thumbnail

Dilarang berkata : ”Allah Tidak Akan Mengampunimu”

Tugas seorang muslim adalah menganjurkan perbuatan ma’ruf dan mencegah dari perbuatan mungkar. Demikianlah Allah gambarkan ciri kaum muslimin. Bahkan ciri ini telah menyebabkan Allah memberikan sebutan begitu istimewa kepada ummat Islam. Allah menamakan ummat Islam sebagai Ummat Terbaik yang disajikan untuk segenap ummat manusia.

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ

بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ

”Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma`ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (QS Ali Imran ayat 110)
Aktifitas amar ma’ruf dan nahi mungkar merupakan bagian integral dari kegiatan menyeru manusia ke jalan Allah atau Da’wah Islamiyyah. Kegiatan ini menuntut hadirnya kegairahan dan emosi positif pada diri pelakunya. Tanpa adanya kegairahan maka seorang muslim tidak akan mau meluruskan penyimpangan saudaranya. Tanpa gairah mana mungkin seseorang akan tergerak untuk menyadarkan orang lain agar meninggalkan perbuatan mungkar yang biasa dia kerjakan. Tanpa gairah mana mungkin seseorang akan punya motivasi untuk mendorong saudaranya mengerjakan perbuatan ma’ruf sesuai anjuran Islam. Namun perlu diingat bahwa bilamana emosi yang melandasi suatu tindakan da’wah bukanlah emosi positif namun sebaliknya malah emosi negatif, maka kegiatan yang asalnya merupakan suatu kebaikan bisa mendatangkan bencana. Bahkan bencana bagi pelaku da’wah itu sendiri.

Yang dimaksudkan dengan emosi positif ialah perasaan yang membara namun tetap terkendali dalam batas-batas yang dibenarkan oleh ajaran Islam. Sedangkan emosi negatif ialah perasaan yang berlebihan sehingga menyebabkan aktifis da’wah melampaui batas yang dibenarkan Islam tatkala ia sedang menasehati saudaranya.

Salah satu bentuk tindakan melampaui batas ialah seperti memandang dirinya berhak menentukan siapa yang bakal diampuni Allah dan siapa yang tidak. Ia lupa bahwa hak mengampuni manusia sepenuhnya berada di tangan Allah Yang Maha Pengampun. Seorang da’i berhak memberitahu saudaranya yang terlibat kemaksiatan untuk menghentikan perbuatannya melanggar aturan Islam, namun ia tidak perlu dan tidak dibenarkan untuk mengancam si pelaku maksiat bahwa kemksiatannya tidak bakal diampuni Allah. Allah sangat sanggup dan berkuasa penuh untuk mengampuni siapa saja yang dikehendakiNya. Perhatikan hadits berikut:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَدَّثَ

أَنَّ رَجُلًا قَالَ وَاللَّهِ لَا يَغْفِرُ اللَّهُ لِفُلَانٍ وَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى قَالَ

مَنْ ذَا الَّذِي يَتَأَلَّى عَلَيَّ أَنْ لَا أَغْفِرَ لِفُلَانٍ فَإِنِّي

قَدْ غَفَرْتُ لِفُلَانٍ وَأَحْبَطْتُ عَمَلَكَ أَوْ كَمَا قَالَ

Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam bersabda: Ada seorang lelaki yang berkata: “Demi Allah, Allah tidak akan mengampuni si fulan.” Allah berfirman: ”Siapakah yang bersumpah atas nama-Ku bahwa Aku tidak mengampuni si fulan? Sesungguhnya Aku telah mengampuni dosanya dan Aku telah menghapuskan amalmu.” (Hadits shahih riwayat Muslim).

Bahkan dalam hadits lainnya Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam menggambarkan peristiwa yang pernah terjadi pada Bani Israil. Suatu ketika ada abang-beradik dari Bani Israil. Salah seorang diantara keduanya sering berbuat dosa sedangkan yang lainnya rajin beribadah. Maka setiap kali si pelaku dosa melakukan maksiatnya, maka si ’abid selalu mencegahnya, namun si pelaku dosa terus saja mengulangi perbuatan dosanya. Hingga pada suatu hari ketika si pelaku dosa berbuat maksiat di hadapan saudaranya, maka kali itu ia tidak saja mencegah perbuatan dosa saudaranya. Si ’abid mengucapkan kalimat yang melampaui batas dimana ia sampai tega mengatakan bahwa saudaranya tidak bakal diampuni Allah dan bahkan tidak akan masuk surga. Maka apa yang akhirnya terjadi pada kedua abang-beradik ini? Marilah ikuti jalan ceritanya dengan langsung membaca haditsnya di bawah ini:

قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

يَقُولُ كَانَ رَجُلَانِ فِي بَنِي إِسْرَائِيلَ مُتَوَاخِيَيْنِ

فَكَانَ أَحَدُهُمَا يُذْنِبُ وَالْآخَرُ مُجْتَهِدٌ فِي الْعِبَادَةِ

فَكَانَ لَا يَزَالُ الْمُجْتَهِدُ يَرَى الْآخَرَ عَلَى الذَّنْبِ

فَيَقُولُ أَقْصِرْ فَوَجَدَهُ يَوْمًا عَلَى ذَنْبٍ فَقَالَ لَهُ أَقْصِرْ

فَقَالَ خَلِّنِي وَرَبِّي أَبُعِثْتَ عَلَيَّ رَقِيبًا فَقَالَ

وَاللَّهِ لَا يَغْفِرُ اللَّهُ لَكَ أَوْ لَا يُدْخِلُكَ اللَّهُ الْجَنَّةَ

فَقَبَضَ أَرْوَاحَهُمَا فَاجْتَمَعَا عِنْدَ رَبِّ الْعَالَمِينَ

فَقَالَ لِهَذَا الْمُجْتَهِدِ أَكُنْتَ بِي عَالِمًا

أَوْ كُنْتَ عَلَى مَا فِي يَدِي قَادِرًا وَقَالَ لِلْمُذْنِبِ

اذْهَبْ فَادْخُلْ الْجَنَّةَ بِرَحْمَتِي وَقَالَ لِلْآخَرِ اذْهَبُوا بِهِ إِلَى النَّارِ

قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَتَكَلَّمَ بِكَلِمَةٍ أَوْبَقَتْ دُنْيَاهُ وَآخِرَتَهُ

Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam bersabda: ”Ada dua orang laki-laki dari kalangan Bani Israil yang saling bersaudara. Yang satu rajin ibadah dan lainnya berbuat dosa. Lelaki yang rajin beribadah selalu berkata kepada saudaranya, ‘Hentikan perbuatan dosamu!” Suatu hari ia melihat saudaranya berbuat dosa dan ia berkata lagi, ‘Hentikan perbuatan dosamu!” “Biarkan antara aku dan Tuhanku. Apakah kamu diutus untuk mengawasiku?” jawabnya. Ia berkata lagi, “Demi Allah, Allah tidak akan mengampunimu” atau “Dia tidak akan memasukanmu ke surga.” Kemudian Allah mengutus malaikat kepada keduanya untuk mengambil ruh keduanya hingga berkumpul di sisi-Nya. Allah berkata kepada orang yang berdosa itu,“Masuklah kamu ke surga berkat rahmat-Ku.”Lalu Allah bertanya kepada lelaki yang rajin beribadah,“Apakah kamu mampu menghalangi antara hamba-Ku dan rahmat-Ku?”Dia menjawab, “Tidak, wahai Tuhanku.” Allah berfirman untuk yang rajin beribadah (kepada para malaikat): “Bawalah dia masuk ke dalam neraka.” Abu Hurairah– semoga Allah meridhainya – berkomentar, “Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, sungguh ia berkata dengan satu kalimat yang membinasakan dunia dan akhiratnya.”(HR Abu Dawud).

Ya Allah, tanamkanlah selalu kegairahan dalam diri kami untuk berda’wah di jalanMu. Namun hindarknalah kami dari berlaku melampaui batas ketika sedang berda’wah sehingga menghilangkan sifat rendah hati kami. Ya Allah, hindarkanlah kami dari mengucapkan sesuatu yang dapat membinasakan dunia dan akhirat kami. Amin ya Rabb.
thumbnail

Pencabulan Itu Berawal dari Facebook

Facebook memang membius banyak orang. Jejaring Sosial ini menjadi ajang untuk saling berkenalan, saling berinteraksi dan menjalin hubungan. Bukan berarti tanpa manfaat sama sekali, akan tetapi daya rusak Facebook sudah banyak memberikan bukti secara empirik.

 Tidak hanya ABG yang awam dalam masalah agama, para aktivis akhawat muslimah yang militan dan bercadarpun sering kali menjadi korban. Pelakunya pun beragam, mulai dari yang berprofesi sebagai mahasiswa hingga yang bergaya Ustadz atau aktivis.
 Menurut laporan kepolisian, kasus-kasus seperti ini memiliki tingkat kesulitan untuk diungkap. Berulang kali kejahatan terjadi setelah korban dan pelaku berkenalan di facebook. Awalnya memang manis, komunikasi berjalan lancar sampai akhirnya kedua pihak sepakat untuk bertemu. Selanjutnya, tentu tidak diharapkan.

Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Rikwanto mengatakan, modus seperti itu memang bukan hal baru, terlebih saat ini teknologi sudah semakin berkembang. Untuk itu, Rikwanto menyarankan agar para wanita tak mudah diajak bertemu dengan pria yang baru dikenalnya.

“Jangan mudah percaya atau tertarik, apalagi sampai menghilangkan kesadaran penuh. Artinya diajak kemana lalu nurut saja, takut terpengaruh dengan bahasa-bahasa yang diisyaratkan untuk menjerumuskan,” katanya.

Menurut Rikwanto, pembelajaran juga perlu diberikan kepada para wanita utamanya yang masih masuk kategori anak baru gede (ABG). Bujuk rayu dengan kata-kata manis, kata Rikwanto, jangan ditanggapi secara berlebihan.

“Si anak harus paham dunia-dunia maya yang serba membius, terlalu menarik untuk ditinggalkan, akhirnya hanyut,” tuturnya.

 Mengenali Modus

 Para ABG, khususnya muslimah perlu mengetahui modus dan trik-trik kejahatan ini. Dengan berbagai alasan biasanya pelaku pencabulan berakhlak bejad ini akan berusaha untuk mendapatkan data dari targetnya. Mulai dari nomor HP, PIN BB, hingga alamat rumah.

 Alasanya bisa dibuat-buat. Kirim SMS Tausiyah, Info Palestina, Perkembangan Suriah, Agenda Pengajian, dan lain sebagainya. Jika tahap ini selesai, biasanya akan dilanjutkan dengan membuka pembicaraan soal individu. Mulai dari, “apa kabar?” sampai “jangan lupa shaum ya!”. Mulai dari undangan pengajian, sampai tawaran  “mau diantar?”.

 Maka setelah itu, tiba-tiba penjahat cabul ini sudah melangkah ke tahap berikutnya. “Saya sudah didepan rumah kamu, keluar dong”. Lalu dengan mengikuti perasaannya, perempuan yang kurang menjaga kehormatannya akan datang menemui orang tersebut.

 Ini hanyalah awalan. Setelah itu akan banyak tipu daya yang tidak akan bisa dipahami oleh perempuan. Ini hanyalah awalan. Banyak perempuan hanya bisa mengerti setelah menjadi seorang ibu. Ini hanyalah awalan. Karena perempuan dan laki-laki berbeda dalam memandang lawan jenisnya. Mereka tidak akan saling memahami, akan tetapi sudah jelas siapa yang akan merugi. Ini hanyalah awalan. Setelah itu akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Maka, jadikan ini sebagai akhir kisah pengkhianatan kita kepada Allah dan syariat-Nya. Ini hanyalah awal dari jebakan-jebakan syetan dan perangkap hawa nafsu yang akan membawa pada akhir yang buruk.
(muslimahzone.com)
thumbnail

Bercanda dengan Menyebut Nama Allah, Al Qur’an, atau Rasulullah

“Dan jika kamu tanyakan kepada orang-orang munafik (tentang apa yang mereka lakukan) tentulah mereka akan menjawab : “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.”

Katakanlah, “Apakah dengan Allah, ayat-ayatNya dan RasulNya kalian selalu berolok-olok ?”

Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu telah kafir sesudah beriman…” (QS. At Taubah, 65 – 66)

Masalah yang sangat penting sekali, bahwa orang yang bersenda gurau dengan menyebut nama Allah, ayat-ayatNya dan RasulNya adalah kafir. Ini adalah penafsiran dari ayat diatas, untuk orang yang melakukan perbuatan itu, siapapun dia.


Diriwayatkan dari Ibnu Umar, Muhammad bin Kaab, Zaid bin Aslam, dan Qatadah, suatu hadits dengan rangkuman sebagai berikut:

Bahwasanya ketika dalam peperangan Tabuk, ada seseorang yang berkata, “Belum pernah kami melihat seperti para ahli membaca Al Qur’an (qurra’) ini, orang yang lebih buncit perutnya, dan lebih dusta mulutnya, dan lebih pengecut dalam peperangan.”

Yang dimaksud adalah Rasulullah Shallallahu ’Alaihi wa Sallam dan para sahabat yang ahli membaca Al Qur’an.

Maka berkatalah Auf bin Malik kepadanya, “Kau pendusta, kau munafik, aku beritahukan hal ini kepada Rasulullah!”

Lalu berangkatlah Auf bin Malik kepada Rasulullah untuk memberitahukan hal ini kepada beliau, akan tetapi sebelum ia sampai, telah turun wahyu kepada beliau.

Dan ketika orang itu datang kepada Rasulullah, beliau sudah beranjak dari tempatnya dan menaiki untanya, maka berkatalah ia kepada Rasulullah, “Ya Rasulullah, sebenarnya kami hanya bersenda gurau dan mengobrol sebagaimana obrolan orang yang mengadakan perjalanan untuk menghilangkan penatnya perjalanan.”

Kata Ibnu Umar, “Sepertinya aku melihat orang tadi berpegangan sabuk pelana unta Rasulullah, sedang kedua kakinya tersandung-sandung batu, sambil berkata, “Kami hanyalah bersenda gurau dan bermain main saja.””

Kemudian Rasulullah bersabda  kepadanya, “Apakah dengan Allah, ayat-ayatNya, dan RasulNya kamu selalu berolok olok.”

Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam mengatakan seperti itu tanpa menengok, dan tidak bersabda kepadanya lebih dari pada itu.

Di sini dapat diambil pelajaran, ada perbedaan yang sangat jelas antara menghasut dan setia Allah dan RasulNya. Dan melaporkan perbuatan orang-orang fasik kepada Waliyul Amr untuk mencegah mereka, tidaklah termasuk perbuatan menghasut tetapi termasuk kesetiaan kepada Allah dan kaum Muslimin seluruhnya.

Juga pelajaran, ada perbedaan yang cukup jelas antara sikap memaafkan yang dicintai Allah dengan bersikap tegas terhadap musuh-musuh Allah. Tidak setiap permintaan maaf dapat diterima karena ada juga permintaan maaf yang harus ditolak, sebagaimana yang dilakukan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ini.

Sumber: Fimadani
thumbnail

Syetan Hadir Saat Sakaratul Maut

“Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang selalu kamu lari daripadanya.” (QS. Qaf: 19) Rasulullah SAW di akhir hayatnya pernah memohon pertolongan kepada Allah untuk menghadapi godaan syetan saat sakaratul maut serta kepedihan proses keluarnya ruh. Do’a beliau, “Ya Allah, tolonglah saya untuk mengahadapi sakaratul maut.” (HR. Tirmidzi, Ahmad dan Ibnu Majah). Itulah do’a Rasulullah untuk menghadapi sakaratul maut.
Syetan tidak akan menyia-nyiakan waktu itu untuk menggoda dan menyesatkan anak Adam. Sampai menjelang akhir hayatnya, syetan akan hadir pada waktu sakaratul maut. Ia berusaha mendoktrin dan mengelincirkan manusia dari jalan yang benar. Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya syetan akan mendatangi kalian saat menjelang kematiannya. Ia menyeru: ‘Matilah sebagai seorang Yahudi, matilah sebagai seorang Nashrani.” (HR. Nasa’i)

Kita tidak bisa membayangkan, betapa dahsyatnya pertarungan iman seorang mukmin melawan syetan. Padahal kondisi orang yang sedang sakaratul maut adalah kondisi yang menyakitkan dan melelahkan. Rasa sakitnya melebihi sayatan pisau dan pedang, karena ruh dicabut dari segenap penjuru anggota tubuh.

‘Amr bin al-‘Ash berkata kepada anaknya saat sakaratul maut, “Wahai annakku! Demi Allah, seolah-olah ranting berduri dicabut dari kakiku sampai ke kepala.”

Ahmad bin Umar Al-Qurtubi berkata, “Aku mendatangi salah seorang saudara guruku di Cordoba saat menjelang wafat. Dikatakan kepadanya: ‘Katakanlah, La Ilaaha Illallah’. Ia menjawab: Tidak, tidak. Ketika ia telah sadar, kami meneritakan kondisinya tadi kepadanya. Lalu ia mengatakan: ‘Sesungguhnya syetan mendatangiku dari sebelah kananku dan dari sebelah kiriku. Syetan itu mengatakan: ‘Matilah engkau sebagai Yahudi, matilah engkau sebagai Nashrani’. Maka aku spontan menolaknya: tidak, tidak. (Sakaratul Maut: 68)

Imam Ghazali berkata, “Sakaratul maut lebih dahsyat daripada pukulan pedang, lebih tajam dari mata gunting dan gergaji. Kalau satu urat saja ditarik dari tubuh manusia, niscaya ia akan menjerit kesakitan. Lalu bagaimana kalau yang ditarik dari tubuh itu ruhnya, yang tidak ditarik dari satu urat saja, tapi dari semuanya. Kemudian setiap anggota tubuhnya akan mati secara bertahap. Pertama kakinya terasa dingin, lalu kedua betisnya, kemudian kedua pahanya. Setiap anggota tubuh merasakan sekarat dan kepedihan sampai kerongkongannya. Pada saat itu terputuslah pandanganya dari dunia dan keluarganya, tertutup pintu taubatnya, dan penyesalan pun meliputi pikiranya.” (Ihya’ Ulumiddin: 4/419)

Marilah kita berbekal dari dengan memperbanyak ibadah untuk mengahdapi saat yang genting, guna mempertahankan Iman dan aqidah kita yang lurus dari serbuan syetan di akhir hayat. Rasulullah bersabda, “Setiap orang akan mengakhiri hidupnya sesuai amal perbuatanya.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi). Maka marilah kita akhiri akhir hidup dengan kebaikan.

Ghoib Ruqyah Syar’iyyah
thumbnail

Antara Saya, Abu Sufyan, Dan Hindun

Oleh: Abdul Hakim

BAGIAN yang sulit saya terima ketika membuka shirah nabawiah adalah saat peristiwa fathul makah. Peristiwa dimana kaum muslimin berhasil kembali ke kota pertama dakwah Islam dijalankan Muhammad. Kota yang menjadi saksi peristiwa-peristiwa penting di awal kenabian Muhammad SAW.

Fathul makah sendiri merupakan peristiwa penting untuk kemajuan Islam. Dapat dibayangkan perasaan bahagia mendalam para sahabat Nabi. Belum lekang dari ingatan mereka suasana duka yang mendalam saat terpaksa harus keluar dari mekah. Terusir, terpisah dengan sanak keluarga, menempuh gersangnya sahara, melangkah menjauh dari tempat mereka menghabiskan hari demi hari. Setiap jengkal kota mekah teramat memberikan kenangan mendalam.
Dan hari itu mereka kembali. Bukan sebagai pecundang, namun sebagai pemenang yang dengan lantang dan gagah memasuki tanah mekah.

Ketakutan pun menyelimuti kaum kafir quraisy. Penyiksaan-penyiksaan yang telah mereka lakukan akan berbalas, penindasan, pembunuhan dan kesewenang-wenangan mereka akan menuai hasil. Tidak ada lagi tempat untuk berlari. Tidak ada lagi keselamatan kecuali dengan terpaksa menerima Islam. Kurang lebih seperti itulah yang ada dibenak kaum kafir quraisy kala itu.

Namun, apa yang dilakukan Nabi Muhammad sungguh jauh dari sangkaan. Tidak ada pertumpahan darah karena kesemena-menaan, tidak ada satu hati pun yang dipaksa untuk berislam, bahkan keselamatan dan perlindungan yang mereka dapatkan. Satu hal yang sangat diluar sangkaan adalah penyataan Nabi bahwa barang siapa yang berhimpun di Abu Sofyan kala itu maka mereka termasuk yang “selamat”. Sampai disini saya tertegun. Hati kecil seolah-olah tak dapat menerima. Bukankah Abu Sofyan begitu memusuhi Islam! Bukankah Abu sofyan telah memusuhi nabi dengan hebatnya. Kenapa tak diperintahkan saja untuk membunuhnya?! lupakah Rasulullah ketika Hindun istri Abu Sufyan mengunyah-ngunyah jantung Hamzah paman yang teramat dicintainya! Lupakah Rasulullah betapa pilunya peristiwa bukit uhud

Simaklah sekelumit peristiwa fathul makkah :

Abu Sufyan segera berlari menuju Makkah. Setibanya di sana, ia langsung berteriak sekuat tenaga, ”Wahai segenap kaum Quraisy, sesungguhnya Muhammad telah tiba di sini. Ia membawa pasukan yang tidak mungkin kalian lawan, maka menyerahlah. Dan, siapa yang masuk ke rumah Abu Sufyan, berarti dia selamat.”

Mendengar teriakan suaminya, Hindun segera mendekat dan memegang kumisnya, seraya berkata, ”Bunuh saja orang yang sama sekali tidak berguna ini. Engkau adalah seorang tokoh yang sungguh memalukan!”

Abu Sufyan membalas, ”Wahai segenap orang Quraisy, jangan termakan oleh ucapan wanita ini. Aku tidak main-main. Muhammad datang dengan pasukan yang tidak mungkin kalian lawan. Siapa yang masuk rumah Abu sufyan, maka dia selamat.”

Orang-orang Quraisy berkata, ”Celakalah engkau! Bagaimana mungkin rumahmu cukup menampung kami semua?”

Abu Sufyan berkata lagi, ”Siapa yang masuk ke dalam rumahnya, maka dia selamat. Dan siapa yang masuk ke dalam masjid, maka dia selamat.”

Mendengar keterangan tersebut, orang-orang Quraisy segera berhamburan menuju rumah masing-masing dan masjid.

 Di saat-saat seperti itulah, Islam masuk ke dalam hati Abu Sufyan. Ia menemui Rasulullah Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam dan berkata, ”Wahai Rasulullah, hancurlah sudah Quraisy. Besok, yang tersisa dari Quraisy tinggal namanya saja.”

Rasulullah berkata, ”Siapa yang masuk rumah Abu Sufyan, maka dia selamat. Siapa yang meletakkan senjata, maka dia selamat. Dan siapa yang masuk ke dalam rumahnya, maka dia selamat.”

Dan demikianlah, Rasulullah sudah memaafkan Abu Sufyan. Salah satu tokoh yang berperan besar dalam menyakiti kaum muslimin dipermulaan dakwah Rasulullah. Dan bagaimanakah nasib Hindun. Bagaimanakah nasib perempuan yang telah melumat jantung paman kesayangan Muhammad. Berikut petikan peristiwa setelah fathul makkah :

Tak lama berselang setelah pasukan muslimin memasuki kota mekkah, Hindun mengutarakan keinginannya untuk memeluk Islam pada Abu Sufyan,

Abu Sufyan menjawab, ”Kemarin, aku melihat engkau sangat benci mengucapkan kata-kata seperti itu.”

Hindun berkata, ”Demi Allah, aku tidak pernah melihat pemandangan manusia menyembah Allah dengan sebenar-benarnya di dalam masjid, seperti yang kulihat tadi malam. Demi Allah, mereka datang ke sana, lalu menunaikan shalat; berdiri, ruku’, dan sujud.”…

Setelah membai’at kaum laki-laki, Rasulullah membaiat kaum wanita. Di antara wanita-wanita yang berbai’at, terdapat Hindun binti ’Utbah. Ia datang memakai pakaian yang tertutup. Ia takut dikenali oleh Rasulullah Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam karena tindakannya terhadap Hamzah dimasa lalu.

Rasulullah Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam berkata, ”Aku meminta kalian berjanji untuk tidak menyekutukan apa pun dengan Allah (syirik).” Umar menyampaikan yang dikatakan Rasulullah kepada kaum wanita dan memastikan jawaban mereka.

Rasulullah melanjutkan, ”Dan tidak boleh mencuri.”

Tiba-tiba Hindun menyela, ”Sesungguhnya Abu Sufyan sangat kikir. Bagaimana jika aku mengambil sebagian hartanya tanpa dia ketahui?”

Abu Sufyan yang berada tidak jauh dari tempat tersebut menimpali, ”Semua yang engkau ambil telah kuhalalkan.”

Mendengar dialog tersebut, Rasulullah Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam tersenyum dan langsung mengenalinya. Beliau berkata, ”Engkau pasti Hindun?”

Hindun menjawab, ” Benar. Maafkanlah segala kesalahanku di masa lalu, wahai Nabi Allah. Semoga Allah mengampunimu.”

Rasulullah Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam melanjutkan, ”Dan tidak boleh berzina.”

Hindun menyela, ”Apakah wanita merdeka suka berzina?”

Rasulullah Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam berkata lagi, ”Dan tidak boleh membunuh anak-anak kalian.”

Hindun berkata, ”Kami telah bersusah payah membesarkannya, tapi setelah besar, kalian membunuhnya. Kalian dan mereka lebih mengetahui tentang hal ini.”

Mendengar pernyataan tersebut, Umar tertawa sampai berbaring, sedangkan Rasulullah Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam tersenyum.

Rasulullah berkata lagi, ”Dan tidak boleh membuat tuduhan palsu.”

Hindun berkata, ”Demi Allah, tuduhan palsu adalah perbuatan yang sangat jelek. Engkau menyuruh kami untuk melakukan perbuatan baik dan akhlak yang mulia.”

Rasulullah Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam melanjutkan, ”Dan tidak boleh mendurhakaiku dalam perkara yang baik.”

Hindun berkata, ”Demi Allah, saat kami datang di tempat ini, kami sama sekali tidak menyimpan niat untuk mendurhakaimu.”

Itulah sekelumit dari peristiwa fathul makkah, secara emosi sangat sulit saya menerima perlakuan Rasulullah terhadap Abu Sufyan dan Hindun. Tapi begitulah Rasulullah mengajarkan kita, bahwa emosi tidak boleh mengalahkan iman. Walaupun memang sangat sulit untuk kita lakukan. Dan lihatlah buah dari kebijakan Rasulullah terhadap Abu sufyan dan Hindun. Sejarah telah mencatat Abu Sufyan termasuk pejuang Islam dan perawi hadist yang diperhitungkan. Dan Simaklah sepenggal jejak Hindun pada perang Yarmuk:

Ibnu Jarir menyatakan, ”Pada hari itu, kaum muslimin bertempur habis-habisan. Mereka berhasil menewaskan pasukan Romawi dalam jumlah yang sangat besar. Sementara itu, kaum wanita menghalau setiap tentara muslim yang terdesak dan mundur dari medan laga. Mereka berteriak, ’Kalian mau pergi ke mana? Apakah kalian akan membiarkan kami ditawan oleh pasukan Romawi?’ Siapa pun yang mendapat kecaman yang pedas seperti itu, pasti kembali menuju kancah pertempuran.”

Tentara muslim yang sebelumnya hampir melarikan diri, kemudian bertempur kembali membangkitkan semangat pasukan yang lain. Mereka benar-benar terbakar oleh kecaman pedas yang diteriakkan oleh kaum wanita, terutama Hindun binti ’Utbah. Dalam suasana seperti itu, Hindun menuju barisan tentara sambil membawa tongkat pemukul tabuh dengan diiringi oleh wanita-wanita Muhajirin. Hindun membaca bait-bait puisi yang pernah dibacanya dalam perang Uhud.

Tiba-tiba, pasukan berkuda yang berada di sayap kanan pasukan muslim berbalik arah, karena terdesak musuh. Melihat pemandangan tersebut, Hindun berteriak, ”Kalian mau lari ke mana? Kalian melarikan diri dari apa? Apakah dari Allah dan surga-Nya? Sungguh, Allah melihat yang kalian lakukan!” Hindun juga melihat suaminya, Abu Sufyan, yang berbalik arah dan melarikan diri. Hindun segera mengejar dan memukul muka kudanya dengan tongkat seraya berteriak, ”Engkau mau ke mana, wahai putra Shakhr? Ayo, kembali lagi ke medan perang! Berjuanglah habis-habisan agar engkau dapat membalas kesalahan masa lalumu, saat engkau menggalang kekuatan untuk menghancurkan Rasulullah Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam.”

Zubair bin Al-’Awwam yang melihat semua kejadian itu berkata, ”Ucapan Hindun kepada Abu Sufyan itu mengingatkanku kepada peristiwa Perang Uhud, saat kami berjuang di depan Rasulullah Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam.”

Zubair melanjutkan, ”Saat itu juga, Abu Sufyan membelokkan kudanya dan kembali menuju medan laga. Langkahnya segera diikuti oleh pasukan muslim lainnya. Aku juga melihat kaum wanita bergabung dengan mereka, bahkan bergerak lebih dulu. Aku terkejut ketika ada seorang wanita yang menyerang tentara Romawi yang perawakannya tinggi besar dan menunggang kuda. Wanita itu menarik tubuh tentara tersebut hingga berhasil menjatuhkannya, lalu ia membunuhnya sambil berteriak, ’Inilah bukti yang nyata pertolongan Allah kepada kaum muslimin’.”

Kurang lebih satu minggu yang lalu saya mendapat pesan dari mentor, guru sekaligus sahabat saya. ”Kita terkadang terlanjur memberikan cap si fulan buruk seperti ini. Si fulanah buruk seperti itu. Dan itu berlaku terus menerus. Seolah-olah si fulan takkan berubah. Dan si fulanah akan berlaku seperti itu selamanya.”

Saya tertegun dan melihat kedalam. Ya. Begitulah saya tepatnya selama ini. Emosi terkadang dominan menguasai penilaian. Hingga kesalahan seseorang dimasa lalu menjadi faktor dominan penilaian. Atau mungkin menjadi “faktor mati” dalam menilai. Sehingga seolah-olah orang itu takkan pernah berubah. Jika hitam, maka hitamlah selamanya. Jika buruk maka buruklah selamanya. Walaupun orang tersebut telah menyadari keburukannya, berupaya untuk memperbaiki dirinya sehingga mungkin dia lebih mulia dan lebih baik daripada saya dalam pandangan Allah dan Rasul-Nya.

Astaghfirullah, seharusnya saya bisa melihat apa yang ingin Rasulullah sampaikan lewat perlakuan dia terhadap Abu Sufyan dan Hindun.

Astaghfirullah hal adzhim, ampuni dosa hamba Mu ya Allah untuk semua hilaf dan dengki dalam hati…

Astaghfirullah hal adzhim, untuk semua emosi yang kadang lebih dominan dari keimanan pada Mu ya Allah…
thumbnail

Sebuah Percakapan Antar Bayi Kembar Di Rahim Ibu

PERCAKAPAN antar bayi kembar dalam rahim ibu ini hanyalah sebuah rekaan belaka. Namun memberikan pelajaran yang luar biasa akan peran seorang ibu. Peran ibu yang memberikan energi luar biasa ke dalam rahimnya. Entah itu asupan makanan, menularkan emosi negatif atau positif, juga bayi bisa ikut mendengarkan apa yang tengah kita baca. Semoga setiap ibu tidak melewatkan kesempatan emas memberikan yang terbaik di awal kehidupan sang bayi.
Bayi 1: Apakah kau percaya akan kehidupan setelah kelahiran?

Bayi 2: Tentu saja. Kehidupan setelah kelahiran itu sangat jelas. Kita di sini sedang mempersiapkan diri menjadi lebih kuat dan bersiap-siap untuk apapun menanti kita berikutnya.

Bayi 1: Ini tidak masuk akal. Tidak ada kehidupan setelah lahir! Apa yang akan hidup di luar rahim?

Bayi 2: Wah, ada banyak cerita tentang hal itu. Aku pernah mendengar ada cahaya di sana, perasaan intens dan mendalam, kesenangan dengan emosi yang mendalam, ribuan hal lainnya. Sebagai contoh, aku pernah mendengar bahwa kita akan makan dengan mulut kita.

Bayi 1: Itu konyol. Kita memiliki tali pusar dan itu caranya kita makan. Semua orang tahu bahwa kita tidak menggunakan mulut kita untuk makan! Semua yang kaudengar adalah cerita yang datang dari orang-orang naif. Hidup berakhir saat lahir. Titik. Itulah cara itu dan kita harus menerimanya.

Bayi 2: Baiklah, tapi izinkan aku untuk berpikir secara berbeda. Aku tidak tahu kehidupan setelah kelahiran tampak seperti apa, dan aku juga tidak bisa membuktikan apa-apa kepadamu. Tapi aku ingin percaya, bahwa di dunia berikutnya, kita bisa melihat ibu kita dan bahwa ia akan mengurus kita.

Bayi 1: ‘Ibu’? Berarti kau percaya pada ‘Ibu’? Oh! Jadi di mana dia?

Bayi 2: Di mana-mana, kau tidak melihatnya? Dia di mana-mana, di sekitar kita. Kita adalah bagian dari dirinya dan berkatnya lah kita hidup sekarang. Tanpa dia, kita tidak akan berada di sini.

Bayi 1: Ini konyol! Aku belum pernah melihat seorang ibu sehingga jelas dia itu tidak ada!

Bayi 2: Aku tidak setuju, itulah caramu melihat hal-hal di sekitar kita. Ketika kondisi tenang, kita bisa mendengar dia bernyanyi, ketika dia tilawah Quran, ketika dia berbicara dengan kita dengan hatinya. Kita bisa merasakan dia memeluk dunia kita. Aku yakin bahwa hidup kita baru akan dimulai setelah kita lahir. [rumahkeluargaindonesia]