Website Iklan Tayang Selamanya
Promo spesial hari ini posting iklan di situs web Iklan Nusa Tenggara Timur murah sekali
setidaknya satu iklan Anda harus ada di Iklan Nusa Tenggara Timur unikbaca.com ini, agar
pengakses dapat mencari dan tahu usaha Anda, posting di Iklan Nusa Tenggara Timur murah
🎁 Hari ini sebar iklan massal murah ke 1.050 web! DISKON!

Tampilkan postingan dengan label Keajaiban Al qur'an. Tampilkan semua postingan
thumbnail

Antara Kuda Dan Sistem Pendingin Udara Di Kepala


ILMUWAN Kanada mengatakan bahwa kepala kuda memiliki sistem pendingin udara yang beroperasi ketika suhu tubuh mereka naik saat berlari kencang. Menurut laporan peneliti Kanada yang dipublikasikan dalam Journal Nature, kuda memiliki sistem anatomi khusus di bagian bawah tengkorak, sistem ini mendinginkan darah yang sampai ke otak. Suhu kepala hewan pelari seperti kuda harus tetap kurang dari empat puluh derajat Celsius saat berlari maksimal, karena jika tidak mereka akan menderita kerusakan otak.

Dengan cara apa kuda melakukan tugas ini tetap menjadi misteri. Namun kini Dr. Keith Baptiste dan rekan-rekannya di University of Saskatchewan-Kanada yakin bahwa mereka telah memecahkan misteri itu. Para peneliti telah menemukan bahwa arteri karotid yang membawa darah ke otak dikelilingi oleh dua dahan yang mengandung udara (sekitar 300-500 Mg udara) yang berasal dari sistem pernapasan. Oleh karena itu, ketika kuda berlatih dan berkeringat, darah panas itu berubah menjadi dahan tersebut.

Dahan ini disebut dahan parau seperti yang ditemukan pada hewan lain yang menyerupai kuda seperti zebra dan kera serta beberapa jenis kelelawar dan bahkan pada tikus hutan Amerika. Dahan parau pertama kali ditemukan pada kepala kuda tahun 1756 dan sejak itu banyak teori yang berusaha untuk mengetahui fungsi mereka.

Dr. Keith Baptiste mengatakan bahwa pada abad kedelapan belas beberapa pemikiran menyebutkan bahwa dahan ini membantu kuda dalam berenang. Dan ia menegaskan bahwa hewan-hewan ini tidak berkembang secara anatomis untuk menguasai kemampuan renang dan kuda tidak bisa berenang dengan baik. Dahan ini pastilah memiliki fungsi yang berguna membantu kuda untuk menghindari kemungkinan terinfeksi bakteri atau parasit yang mengancam kehidupan.

Tim peneliti menggunakan sensor untuk mengukur perubahan suhu pada tiga posisi berbeda, pertama ketika darah bergerak di arteri, kedua saat darah melalui dahan parau dan terakhir ketika darah mencapai otak. Sensor ini ditanamkan dalam empat kuda dan kemudian kuda-kuda ini melalui serangkaian varian latihan. Percobaan ini menunjukkan bahwa suhu mengalami penurunan setelah darah melalui dahan parau. Dr Keith Baptiste mengatakan bahwa penemuan ini akan memaksa banyak orang untuk mengubah paradigma mereka tentang sistem anatomi kuda.

Kuda dianggap sebagai salah satu alat transportasi terpenting yang Allah tundukkan untuk manusia selama bertahun-tahun. Para ilmuwan mengkonfirmasi hal ini, bahwa jika kuda tidak memiliki sistem pendingin udara di kepala maka mereka tidak akan pernah bisa berlari kencang. Allah, oleh karena itu, bersumpah dengan tunggangan, kuda-kuda yang berjalan dan berlari cepat. Allah bahkan telah mengungkapkan satu surah lengkap tentang kuda di Al-Qur’an, Al-’Adiyat sebagai cara untuk menghormati kuda dan agar kita mendapatkan rahmat-Nya yang besar sehingga kita dapat memuji-Nya, Allah Ta’ala berfirman:

“Demi kuda perang yang berlari kencang dengan terengah-engah, dan kuda yang mencetuskan api dengan pukulan (kuku kakinya), dan kuda yang menyerang dengan tiba-tiba di waktu pagi, maka ia menerbangkan debu, dan menyerbu ke tengah-tengah kumpulan musuh, sesungguhnya manusia itu sangat ingkar, tidak berterima kasih kepada Tuhannya, dan sesungguhnya manusia itu menyaksikan (sendiri) keingkarannya, dan sesungguhnya dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta, Maka apakah dia tidak mengetahui apabila dibangkitkan apa yang ada di dalam kubur, dan dilahirkan apa yang ada di dalam dada, sesungguhnya Tuhan mereka pada hari itu Maha Mengetahui keadaan mereka.” (QS. Al-’Adiyat: 1-11).

Perkembangan pengetahuan tentang sistem terpenting dalam kuda yang ditemukan oleh para ilmuwan bertentangan dengan teori bahwa alam menciptakan dirinya sendiri, padahal alam tidak pernah bisa menyadari kebutuhan sistem tubuh seperti kuda. Satu-satunya penjelasan yang sesuai dengan adanya sistem pendingin udara di kepala kuda, yang melindungi mereka dari kerusakan otak akibat hipotermia saat menjalankan puasa adalah bukti nyata bahwa Allah sebagai pencipta. Allah Swt. yang menciptakan kuda-kuda ini telah mengatur jasa kuda kepada manusia di muka bumi, itulah mengapa Allah melengkapi mereka dengan sistem tersebut untuk menjamin bahwa mereka tidak akan punah dan agar mereka bisa berfungsi secara maksimal. Itulah sebabnya Allah berfirman:

“Dan (Dia telah menciptakan) kuda, bagaldan keledai, agar kamu menungganginya dan (menjadikannya) perhiasan. Dan Allah menciptakan apa yang kamu tidak mengetahuinya.” (QS. An-Nahl: 8).

Manusia telah menggunakan kuda dalam pertempuran dan transportasi dan merekalah salah satu alasan untuk penyebaran Islam, Allah berfirman:

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).” (QS. Al-Anfaal: 60).

Kita juga harus ingat bahwa Nabi Muhammad mengatakan kepada kita bahwa kebaikan akan tetap (mutu baku) di dahi kuda. Oleh karena itu, setiap penemuan ilmiah harus dilihat dari perspektif ilmiah dan perspektif iman. Perspektif ilmiah dapat membantu orang mengetahui penemuan ilmuwan untuk menggunakan mereka di dunia ini dan iman bertujuan melihat makhluk Allah dan memikirkan pencipta melalui ciptaan-Nya dan menyadari rahmat Allah Swt. sebagaimana firman-Nya:

“Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).” (QS. Ibrahim: 34). Wallahu A’lam Bishshowwaab. [kaheel7]
thumbnail

Al-Quran Dan Catatan Tentang Akuntansi

PERNAKAH terbersit tanya dalam hati atau pikiran, dari mana asal muasal diadakannya pencatatan dalam transaksi penjualan? Atau dalam dunia modern di sebut dengan kata ‘akuntansi’. Jangankan orang biasa yang tak mengerti tentang akuntansi, bahkan mungkin mahasiswa yang mengambil jurusan akuntansi pun belum tentu mencari tahu tentang hal itu.

Dalam catatan sejarah, pencatatan tertua itu berasal dari Babilonia pada 3600 tahun Sebelum Masehi, itupun hanya berupa pencatatan bayaran gaji. Penemuan pencatatan yang lainnya yaitu di Mesir dan Yunani kuno. Yang jika dibandingkan dengan sistem pencatatan sekarang, pencatatan pada zaman dahulu itu belum sistematis dan terkadang tidak lengkap.

Namun, akuntansi atau pencatatan  suatu usaha itu selalu berkembang dari waktu ke waktu. Perkembangannya itu bersamaan dengan dikembangkannya system pembukuan ganda (double entry system) oleh pedagang-pedagang di Venesa.

Luca Pacioli. Dialah yang di sebut sebagai Bapak Akuntansi. Dia yang pertama kali memperkenalkan tentang system pembukuan ganda tersebut pada tahun 1494. Dia yang menerbitkan buku berjudul‘Summa de Arithmatica, Geometria, Proportioni et Proportionalita.’ Bagian buku tersebut yang membahas tentang pembukuan ada 37 bab, dengan judul ‘Tractatus de Computis et Scriptorio.’

Padahal nih, dalam agama Islam kata akuntansi itu sudah menjadi kata yang sudah tidak asing lagi. Bahkan mungkin bukan menjadi suatu lmu yang baru. Mengapa? Karena dalam peradaban Islam, sudah dikenal Baitul Mal yaitu lembaga keuangan yang berfungsi sebagai Bendahara Negara. Baitul Mal itulah yang menjamin kesejahteraan sosial masyarakat.

Bahkan masyarakat muslim itu sudah mempunyai akuntansi yang di sebut Kitabat al Amwal. Kitab yang merupakan sebuah mahakarya tentang ekonomi yang dibuat oleh Abu Ubaid – seorang ahli ekonomi Islam – yang menekankan beberapa issu mengenai perpajakan, hukum, serta hukum administrasi dan hukum international.

Konsep akuntansi yang harus diikuti oleh setiap pelaku bisnispun sebenarnya telah di gariskan dalam Kitab Suci Al-Qur’an. Konsep tersebut dinyatakan dalam QS. Al-Baqarah ayat 282 yang artinya sebagai berikut.

“Hai orang-orang yang beriman! Apabila kamu bermuamalah tidak secara tunai (melakukan utang piutang) untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaknya seorang penulis diantara kamu menulis dengan benar. Dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah telah mengajarkan kepadanya, hendaknya ia menulis. Dan hendaknya orang berhutang itu mengimlakkan (mendiktekan) apa yang ditulis itu, dan hendaknya dia bertaqwa kepada Alloh, Tuhannya, dan janganlah ia mengurangi sedikitpun daripada utangnya…”

Subhanallah, itulah pembuktian bahwa Islam itu bersifat menyeluruh. Tidak hanya dalam hal agama, namun dalam segi ekonomi pun, sudah diatur dalam Islam. Bahkan tertulis jelas dalam al-Qur’an 14 abad lalu tentang tata cara dan panduannya sejak dulu, dan akan sangat dibutuhkan di masa sekarang.

Oleh: Rima Rahmwati, Sampoerna School Business/islampos
thumbnail

Maraj Al-Bahrayn (Laut dua warna)


Inilah salah satu bukti nyata kuasa Allah. Sejumlah ahli menemukan laut dua warna yang tak pernah bercampur yang terletak di selat Gibraltar yang menghubungkan lautan mediterania dan samudera atlantik.

“… Ya Tuhan kami, tidaklah engkau menciptakan segala sesuatu di muka bumi dalam keadaan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka selamatkanlah kami dari siksa neraka.” (QS Al Imran[3]: 191).
“Wahai jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, niscaya kamu tidak akan dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan (ilmu pengetahuan).” (QS Ar-Rahman[55]: 33).

Kedua ayat diatas memberikan gambaran kepada umat manusia, besarnya kekuatan Allah SWT dalam menciptakan segala sesuatu yang ada di alam ini. Semua yang diciptakanNya tidak ada yang sia-sia. Dalam surah Ar-Rahman, Allah SWT memberikan tantangan kepada jin dan manusia untuk membuktikan kekuasaan Allah. Intinya mereka tidak bisa mencapai Kemahabesaran Allah tanpa melalui ilmu pengetahuan.
            Dalam ayat lain pada surah Al-Baqarah[2] ayat 26, Allah SWT menciptakan nyamuk yang kecil sekalipun memiliki makna dan manfaat. Ditegaskan, Allah menciptakan makhluk kecil itu dalam rangka menunjukan kekuasaan Allah SWT agar manusia berpikir untuk mengambil pelajaran.

Laut Dua Warna
            AlQuran banyak sekali mengungkapkan sesuatu yang terkadang berada di luar jangkauan manusia. Namun setelah sekian lama, akhirnya manusia baru bisa mengungkapkan kebenaran ayat-ayat Allah yang termaktub dalam AlQuran tersebut. Salah satunya tentang keberadaan laut dua warna.
            Dalam surah Ar-Rahman[55] ayat19-22, Allah berfirman:
“Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu, anatara keduanya ada batas yang tidak dilampaui oleh masing-masing. Maka nikmat Allah manakah yang kamu dustakan. Dari keduanya keluar mutiara dan marjan.” (QS Ar-Rahman[55]: 19-22)
“Dan Dialah yang membiarkan dua laut yang mengalir (berdampingan); yang ini tawar lagi segar dan yang lain asin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya didnding dan batas yang menghalangi.” (QS Al-Furqan[25]: 53)

– Laut dua warna yang terdapat di selat Gibraltar berwarna biru tua dan biru langit.

Setelah lebih dari 14 abad, baru beberapa dasawarsa ini para ilmuwan berhasil mengungkapkannya. Disebutkan para peneliti harus menunggu hingga beberapa tahun untuk mencari dan menemukan laut dua warna ini. Para peneliti yang dilibatkan mencapai ratusan orang dan tempat untuk mencarinya.
            Setelah berhasil menemukan laut dua warna tersebut, beberapa peneliti akhirnya menyatakan kekagumannya akan kebenaran AlQuran dan kemudian memilih Islam sebagai jalan hidupnya.
            Dari ratusan tempat yang diteliti, ternyata laut dua warna yang disebutkan AlQuran, berada di selat Gibraltar yang menghubungkan antara Lautan Mediterania dan Samudera Atlantik serta memisahkan Spanyol dan Maroko. Nama Gibraltar berasal dari bahasa arab Jabal Thariq yang berarti gunung Tariq. Nama itu merujuk pada jendral muslim Tariq bin Ziyad yang menaklukkan Spanyol pada tahun 711.
            Dalam pelatihan ESQ (Emotional and Spiritual Quetiont), Ari Ginandjar selaku Pembina dan instruktur pelatihan, sering memperlihatkan gambaran laut dua warna tersebut. Di Selat Gibraltar itu terdapat pertumuan dua jenis laut yang berbeda warna. Seperti ada garis pembatas yang memisahkan keduanya. Satu bagian berwarna biru agak gelap dan pada bagian lain tampak lebih terang.
            Menurut penjelasan para ahli kelautan seperti William W. Hay, guru besar ilmu bumi di University of Colorado, Boulder – Amerika Serikat, dan mantab dekan sekolah kelautan Rosentiel dan Sains Atmosfer di University Miami, Florida – Amerika Serikat, serta Professor Dorja Rao, seorang spesialis di Geologi Kelautan dan dosen di Universitas King Abdul-Aziz, Jeddah, air laut yang terletak di selat Gibraltas tersebut memiliki karakteristik yang berbeda, baik dari kadar garamnya, maupun suhu kerapatan air laut. Dan seperti dijelaskan dalam surah Al-Furqan[25] ayat 53, yang satu bagian rasanya tawar dan segar, sedangkan bagian lainnya rasanya asin lagi pahit. Dan antara keduanya, tak pernah saling bercampur (bersatu satu sama lain), seolah ada dinding tipis yang memisahkannya.

Pembatas
            Para ahli kelautan menemukan adanya batas pada setiap lautan. Pemisah itu bergerak diantara dua lautan dan dinamakan dengan front (jabhah) dianalogikan dengan front yang memisahkan antara dua pasukan. Dengan adanya pemisah ini setiap lautan memelihara karakteristiknya sehingga sesuai dengan keberadaan makhluk hidup (ekosistem) yang tinggal di lingkungan itu.
            Seperti dikutip oleh www.ikadi.org, banyak tahapan yang telah dilalui ilmu pengetahuan manusia untuk mengetahui sifat-sifat air laut, diantaranya tentang batas-batas laut. Pada tahun 1873 M / 1283 H, para ilmuwan dari tim peneliti Inggris dalam ekspedisi laut Challenger menemukan adanya perbedaan diantara sampel-sampel air laut yang diambil dari berbagai lautan. Dari situ manusia mengetahui bahwa air laut berbeda-beda kondisinya satu dengan yang lain, baik dalam hal kadar garam, temperatur, berat jenis, dan jenis biota lautnya.
            Penemuan hal ini dihasilkan setelah menyelesaikan pelayaran ilmiah selama tiga tahun, mengarungi seluruh lautan di bumi. Ekspedisi ini mengumpulkan informasi-informasi dari 362 pos yang diperuntukkan untuk menyelidiki karakteristik lautan di seluruh dunia. Laporan perjalanan tersebut memenuhi 29 ribnu halaman dalam 50 jilid, yang penyusunannya memakan waktu 23 tahun. Ekspedisi tersebut merupakan salah satu penemuan ilmiah yang sangat penting bagi ilmu pengetahuan, khususnya tentang oceanologi (ilmu kelautan).


- Pencitraan Selat Gibraltar dengan satelit, foto kanan menggunakan pencitraan khusus untuk mengukur suhu air.

Tahun 1933 diadakan ekspedisi ilmiah oleh tim Amerika di teluk Meksiko. Mereka menyebar ratusan pos di laut untuk mempelajari karakteristik lautan. Hasilnya, sebagian besar pos-pos tersebut memberikan informasi yang seragam tentang karakteristik air di wilayah itu, sementara pos-pos lainnya memberikan informasi yang berbeda. Dengan demikian, para ahli kelautan ini berkesimpulan adanya dua laut yang berbeda sifatnya, dan tidak sekadar perbedaan sampel seperti yang ditemukan pada ekspedisi challenger.
            Melalui ratusan ‘stasiun laut’ yang dibuat. Para ilmuwan menyimpulkan bahwa perbedaan karakter tersebut mendeterminasi satu lautan dengan lainnya, namun mereka masih mempertanyakan mengapa laut di selat Gibraltar tidak bisa bercampur?
            Pertama kali muncul jawaban itu di lembaran buku-buku ilmiah pada tahun 1942 M / 1361 H. studi yang mendalam tentang karakteristik lautan menyingkap adanya lapisan-lapisan air pembatas yang memisahkan antara lautan yang berbeda, dan berfungsi memelihara karakteristik khas setiap lautan dalam hal kadar berat jenis, kadar garam, biota laut, suhu, dan kemampuan melarutkan oksigen.
            Setelah tahun 1962 diketahui fungsi batas-batas laut tersebut dalam ‘mengolah’ aliran air laut yang menyebrang dari satu laut ke laut yang lain, sehingga laut yang satu tidak melampaui laut yang lain. Dengan begitu lautan-lautan tersebut tidak bercampur aduk karena setiap lautan menjaga karakteristik dan batas-batas wilayahnya masing-masing karena adanya pembatas-pembatas tersebut.
            Menurut William Hay, air Laut Tengah Mediterania terasa hangat dan berkadar garam tinggi, sedangkan air di Samudera Atlantik lebih dingin dan memiliki kadar garam lebih rendah. Dan, batasan antara kedua air laut ini juga berbeda dengan air di Teluk Oman dan air di Teluk Persia, baik dari segi kimiawi maupun ekosistem yang ada diantara keduanya.
            Muhammad Ibrahim As Sumaih, guru besar pada fakultas sains, jurusan ilmu kelautan Universitas Qatar, dalam penelitian yang dilakukan di Teluk Oman dan Persia (1984-1988) menemukan perbedaan terperinci dengan angka-angka dan gambar-gambar pada kedua teluk tersebut. Sifat lautan yang saling bertemu akan tetapi tidak bercampur satu sama lain ini telah ditemukan oleh para ahli kelautan baru-baru ini. Karena gaya fisika yang dinamakan ‘tegangan permukaan’ air dari laut-laut yang saling bersebelahan tidak menyatu, akibat adanya perbedaan masa jenis, tegangan permukaan mencegah lautan bercampur satu sama lain, seolah terdapat dinding tipis yang memisahkan mereka. (Davis, Richard A. Jr, 1972, Principles of Oceanography, Don Mills, Ontario, Addison-Wesley Publishing, 92-93.)

Beda Penafsiran
            Belum puas dengan hasil yang ada, para peneliti kemudian meneliti lagi tentang pertemuan laut dua warna tersebut, sebagaimana diisyaratkan dalam surah Ar-Rahman, akan adanya pembatas diantara keduanya. Hingga kemudian menimbulkan perbedaan pendapat di kalangan ilmuwan dalam menafsirkannya.
            Satu pendapat menyatakan, keduanya tidak mungkin bertemu karena ada batasan. Sementara pendapat kedua menegaskan, air itu bisa bertemu secara bersama-sama, namun tidak merubah sifat, kadar garam, maupun ekosistemnya. Rasa penasaran itu akhirnya makin memaksa para ilmuwan untuk mengkaji secara lebih cermat dan teliti mengenai keduanya.
            Akhirnya mereka berkesimpulan, keduanya bisa bertemu walaupun ada pembatasnya. Akan tetapi ketika air dari salah satu lautan masuk kedalam lautan yang lain, air tersebut akan kehilangan sifat-sifat pembedanya dan menjadi homogen dengan air lainnya. Pembatas ini berfungsi sebagai daerah pemberi sifat serbasama secara transisi terhadap kedua air. “ini adalah contoh yang baik terhadap penelitian sains modern secara islami. Teknik modern bisa digunakan untuk membuktikan kemustahilan untuk ditirunya AlQuran”, kata Syekh Az-Zindani dari Universitas King Abdul Aziz, Jeddah.
            Bahkan Professor Shroeder, ahli kelautan dari Jerman mengungkapkan kekagumannya akan kebenaran AlQuran yang telah  diturunkan 14 abad yang lalu telah berbicara mengenai hal tersebut.

Wa Allahu A’lam