Website Iklan Tayang Selamanya
Promo spesial hari ini posting iklan di situs web Iklan Nusa Tenggara Timur murah sekali
setidaknya satu iklan Anda harus ada di Iklan Nusa Tenggara Timur unikbaca.com ini, agar
pengakses dapat mencari dan tahu usaha Anda, posting di Iklan Nusa Tenggara Timur murah
🎁 Hari ini sebar iklan massal murah ke 1.050 web! DISKON!

Tampilkan postingan dengan label PERLU ANDA KETAHUI. Tampilkan semua postingan
thumbnail

Terusan Suez Adalah Karya Master Piece Umar bin Khattab

Banyak yang belum tahu , bahwa ternyata Terusan Suez ternyata adalah sebuah karya agung berdasar ide dan gagasan cemerlang sekaligus membuktikan kejeniusan Amirul Mukminin Umar Bin Khaththab raddiyallahu’anhu. Ide jenius beliau menghubungkan Laut Merah dan Laut Putih Tengah karena adanya berbagai potensi domestik yang sudah dikenal pada zamannya. Juga kejeniusan beliau patut kita berbangga karenanya, adalah kemampuan beliau mewujudkan proyek tersebut dalam waktu relatif singkat sehingga terusan tersebut bisa dilalui oleh kapal-kapal.
Di musim dingin tahun 641-642 M, Amru bin Ash ra. membuka terusan yang menghubungkan antara laut Qalzim dengan Laut Romawi atau di posisinya sekarang, dikenal dengan nama Terusan Amirul Mukminin.

Al Qadha’i bercerita, Umar bin Khattab ra. menginstruksikan pada Amru bin Ash ra. pada saat musim paceklik untuk mengeruk teluk yang berada di samping Fusthath kemudian dialiri air sungai Nil hingga laut Qalzim.
Belum setahun, teluk inipun sudah bisa dilalui oleh kapal dan digunakan untuk mengangkut logistik ke Mekkah dan Madinah. Teluk ini juga dimanfaatkan penduduk dua tanah suci itu hingga disebut Teluk Amirul Mukminin.
Al Kindi bertutur bahwa teluk tsb dikeruk pada tahun 32 H dan selesai hanya dalam waktu 6 bulan. Kapal-kapal sudah bisa lalu lalang menyusuri teluk hingga sampai di Hijaz bulan ke tujuhnya.

Terusan ini sangat membantu penduduk Mesir hingga era Khalifah Abu Ja’far Al Manshur , yang dibendungnya untuk memutus aliran dan dukungan Mesir terhadap perlawanan Muhammad bin Abdullah bin Hasan bin Ali bin Abi Thalib di Hijaz.

Sebagian sejarah juga menyebut, bahwa Amru bin Ash telah memikirkan untuk menghubungkan 2 laut putih dan Merah , namun tampaknya yang dimaksud adalah terusan lain, yang membelah antara Selat Timsah dengan Barzah, antara Mesir dan Sinai hingga Laut Tengah. Tapi rencana ini dibatalkan karena alasan pertimbangan militer yang ada pada zaman itu.

Pada masa Khilafah Utsmaniyyah, teluk ini dibersihkan tiap tahun. Musim dingin, teluk ini biasanya ditutup karena dikeruk dan dibersihkan seperti perayaan. (biasanya bulan Agustus). Lumpur yang dikeruk lalu diangkat dan ditimbun di samping kanan-kiri aliran teluk. dan ini sungguh menarik perhatian penduduk setempat.

Sumber : mediaumat.com
thumbnail

Hajar Aswad Dicuri

 Kota Mekah, dengan kemuliaan yang disandangnya, ia memiliki hukum-hukum yang telah ditetapkan syariat, sebagai bukti yang menunjukkan kemuliaannya. Siapapun dilarang melakukan perbuatan maksiat. Meski larangan ini telah jelas, ternyata dalam perjalanan sejarah kaum Muslimin, khususnya kota Mekah dan Ka’bah, pernah terjadi pelanggaran yang sangat memilukan dan menodai Ka’bah secara khusus, yaitu terjadinya penjarahan Hajar Aswad.
Hajar Aswad merupakan batu termulia. Dia berasal dari Jannah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

نَزَلَ الْحَجَرُ الْأَسْوَدُ مِنْ الْجَنَّةِ وَهُوَ أَشَدُّ بَيَاضًا مِنْ اللَّبَنِ فَسَوَّدَتْهُ خَطَايَا بَنِي آدَمَ

“Hajar Aswad turun dari surga, dalam kondisi berwarna lebih putih dari air susu. Kemudian, dosa-dosa anak Adam-lah yang membuatnya sampai berwarna hitam.” [Hadits shahih riwayat at Tirmidzi. Dishahihkan oleh al Albani. Lihat Shahih Sunan at Tirmidzi, no. 877].

Tentang keutamaannya yang lain, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

ِإنَّ لِهَذَا الْحَجَرِ لِساَناً وَ شَفَتَيْنِ يَشْهَدُ لِمَنْ اسْتَلَمَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِحَقٍّ

“Sesungguhnya batu ini akan punya lisan dan dua bibir akan bersaksi bagi orang yang menyentuhnya di hari Kiamat dengan cara yang benar.” [HR al Hakim dan Ibnu Hibban, dan dishahihkan al Albani. Lihat Shahihul-Jami', no. 2184.].

Dari Ibnu ‘Umar, saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ مَسْحَهُمَا يَحُطَّانِ الْخَطِيئَةَ

“Sesungguhnya mengusap keduanya (Hajar Aswad dan Rukun Yamani) akan menghapus dosa.”[ Hadits shahih riwayat an Nasaa-i. Dishahihkan oleh al Albani. Lihat Shahih Sunan an Nasaa-i, no. 2919].

Hajar Aswad, dahulu berbentuk satu bongkahan. Namun setelah terjadinya penjarahan yang terjadi pada tahun 317H, pada masa pemerintahan al Qahir Billah Muhammad bin al Mu’tadhid dengan cara mencongkel dari tempatnya, Hajar Aswad kini menjadi delapan bongkahan kecil. Batu yang berwarna hitam ini berada di sisi selatan Ka’bah.

Adalah Abu Thahir, Sulaiman bin Abu Said al Husain al Janabi, tokoh golongan Qaramithah pada masanya, telah menggegerkan dunia Islam dengan melakukan kerusakan dan peperangan terhadap kaum Muslimin. Kota yang suci, Mekah dan Masjidil Haram tidak luput dari kejahatannya. Dia dan pengikutnya melakukan pembunuhan, perampokan dan merusak rumah-rumah. Bila terdengar namanya, orang-orang akan berusaha lari untuk menyelamatkan diri [Al Bidayah wan Nihayah, 11/187].

Kisahnya, pada musim haji tahun 317H tersebut, rombongan haji dari Irak pimpinan Manshur ad Dailami bertolak menuju Mekah dan sampai dalam keadaan selamat. Namun, tiba-tiba pada hari Tarwiyah (tanggal 8 Dzul Hijjah), orang-orang Qaramithah (salah satu sekte Syiah Isma’iliyah) melakukan huru-hara di tanah Haram. Mereka merampok harta-harta jamaah haji dan menghalalkan untuk memeranginya. Banyak jamaah haji yang menjadi korban, bahkan, meskipun berada di dekat Ka’bah.

Sementara itu, pimpinan orang-orang Qaramithah ini, yaitu Abu Thahir –semoga mendapatkan balasan yang sepadan dari Allah– berdiri di pintu Ka’bah dengan pengawalan, menyaksikan pedang-pedang pengikutnya merajalela, menyudahi nyawa-nyawa manusia. Dengan congkaknya ia berkata : “Saya adalah Allah. Saya bersama Allah. Sayalah yang menciptakan makhluk-makhluk. Dan sayalah yang akan membinasakan mereka”.

Massa berlarian menyelamatkan diri. Sebagian berpegangan dengan kelambu Ka’bah. Namun, mereka tetap menjadi korban, pedang-pedang kaum Syi’ah Qaramithah ini menebasnya. Begitu juga, orang-orang yang sedang thawaf, tidak luput dari pedang-pedang mereka, termasuk di dalamnya sebagian ahli hadits.

Usai menuntaskan kejahatannya yang tidak terkira terhadap para jamaah haji, Abu Thahir memerintahkan pasukan untuk mengubur jasad-jasad korban keganasannya tersebut ke dalam sumur Zam Zam. Sebagian lainnya, di kubur di tanah Haram dan di lokasi Masjidil Haram.

Kubah sumur Zam Zam ia hancurkan. Dia juga memerintahkan agar pintu Ka’bah dicopot dan melepas kiswahnya. Selanjutnya, ia merobek-robeknya di hadapan para pengikutnya. Dia meminta kepada salah seorang pengikutnya untuk naik ke atas Ka’bah dan mencabut talang Ka’bah. Namun tiba-tiba, orang tersebut terjatuh dan mati seketika. Abu Thahir pun mengurungkan niatnya untuk mengambil talang Ka’bah. Kemudian, ia memerintahkan untuk mencongkel Hajar Aswad dari tempatnya. Seorang lelaki memukul dan mencongkelnya.

Dengan nada menantang, Abu Thahir sesumbar : “Mana burung-burung Ababil? Mana bebatuan dari Neraka Sijjil?”

Peristiwa penjarahan Hajar Aswad ini, membuat Amir Mekah dan keluarganya dengan didukung sejumlah pasukan mengejar mereka. Amir Mekah berusaha membujuk Abu Thahir agar mau mengembalikan Hajar aswad ke tempat semula. Seluruh harta yang dimiliki Sang Amir telah ia tawarkan untuk menebus Hajar Aswad itu. Namun Abu Thahir tidak bergeming. Bahkan Sang Amir, anggota keluarga dan pasukannya menjadi korban berikutnya. Abu Thahir pun melenggang menuju daerahnya dengan membawa Hajar Aswad dan harta-harta rampasan dari jamaah haji. Batu dari Jannah ini, ia bawa pulang ke daerahnya, yaitu Hajr (Ahsa), dan berada di sana selama 22 tahun.

Menurut Ibnu Katsir, golongan Qaramithah membabi buta semacam itu, karena mereka sebenarnya kuffar zanadiqah. Mereka berafiliasi kepada regim Fathimiyyun yang telah menancapkan hegemoninya pada tahun-tahun itu di wilayah Afrika. Pemimpin mereka bergelar al Mahdi, yaitu Abu Muhammad ‘Ubaidillah bin Maimun al Qadah. Sebelumnya ia seorang Yahudi, yang berprofesi sebagai tukang emas. Lantas, mengaku telah masuk Islam, dan mengklaim berasal dari kalangan syarif (keturunan Nabi Muhammad). Banyak orang dari suku Barbar yang mempercayainya. Hingga pada akhirnya, ia dapat memegang kekuasan sebagai kepala negara di wilayah tersebut. Orang-orang Qaramtihah menjalin hubungan baik dengannya. Mereka (Qaramithah) akhirnya menjadi semakin kuat dan terkenal.

Perbuatan Abu Thahir al Qurmuthi, orang yang memerintahkan penjarahan Hajar Aswad ini, oleh Ibnu Katsir dikatakan : “Dia telah melakukan ilhad (kekufuran) di Masjidil Haram, yang tidak pernah dilakukan oleh orang sebelumnya dan orang sesudahnya”. [Al Bidayah wan Nihayah, 11/191. Ibnu Katsir mengisahkan peristiwa ini di halaman 190-192].

Setelah masa 22 tahun Hajar Aswad dalam penguasaan Abu Thahir, ia kemudian dikembalikan. Tetapnya pada tahun 339H.

Pada saat mengungkapkan kejadian tahun 339 H, Ibnu Katsir menyebutnya sebagai tahun berkah, lantaran pada bulan Dzul Hijjah tahun tersebut, Hajar Aswad dikembalikan ke tempat semula. Peristiwa kembalinya Hajar Aswad sangat menggembirakan segenap kaum Muslimin.

Pasalnya, berbagai usaha dan upaya untuk mengembalikannya sudah dilakukan. Amir Bajkam at Turki pernah menawarkan 50 ribu Dinar sebagai tebusan Hajar Aswad. Tetapi, tawaran ini tidak meluluhkan hati Abu Thahir, pimpinan Qaramithah saat itu.

Kaum Qaramithah ini berkilah: “Kami mengambil batu ini berdasarkan perintah, dan akan mengembalikannya berdasarkan perintah orang yang bersangkutan”.

Pada tahun 339 H, sebelum mengembalikan ke Mekah, orang-orang Qaramithah mengusung Hajar Aswad ke Kufah, dan menggantungkannya pada tujuh tiang Masjid Kufah. Agar, orang-orang dapat menyaksikannya. Lalu, saudara Abu Thahir menulis ketetapan : “Kami dahulu mengambilnya dengan sebuah perintah. Dan sekarang kami mengembalikannya dengan perintah juga, agar pelaksanaan manasik haji umat menjadi lancar”.

Akhirnya, Hajar Aswad dikirim ke Mekah di atas satu tunggangan tanpa ada halangan. Dan sampai di Mekah pada bulan Dzul Qa’dah tahun 339H [Al Bidayah wan Nihayah, 11/265].

Dikisahkan oleh sebagian orang, bahwa pada saat penjarahan Hajar Aswad, orang-orang Qaramithah terpaksa mengangkut Hajar Aswad di atas beberapa onta. Punuk-punuk onta sampai terluka dan mengeluarkan nanah. Tetapi, saat dikembalikan hanya membutuhkan satu tunggangan saja, tanpa terjadi hal-hal aneh dalam perjalanan. (Mas)

Sumber :

- Shahih Bukhari, al Imam al Bukhari, Darul Arqam, Beirut, tanpa tahun.

- Shahih Muslim, Syarhun-Nawawi, Darul Ma’rifah, Beirut, Cet. VI, Th. 1420 H.

- Ihkamil-Ahkam Syarhu ‘Umdatil-Ahkam, Ibnu Daqiqil ‘Id, tahqiq Hasan Ahmad Dar Ibni Hazm Cet. I, Th. 1423 H.

- Al Bidayah wan-Nihayah, al Imam Imaduddin Abul Fida Isma’il Ibnu Katsir, Darul Ma’rifah, Cet. VI, Th. 1422 H.

- Wamdhul-‘Aqiq min Makkata wal-Baitil ‘Aqiq, Muhammad ‘Ali Barnawi, Mekah Mukaramah, Cet. I. Th. 1425 H.

- Shahih Sunan at-Tirmidzi, Muhammad Nashiruddin al Albani, Maktabah al Ma’arif.

- Shahih Sunan an-Nasai, Muhammad Nashiruddin al Albani Maktabah al Ma’arif.

- Shahihul-Jami’ wa Ziyadatuhu, Muhammad Nashiruddin al Albani, Maktab Islami, Cet. III, Th. 1408.

- Taisiril Karimir-Rahman, Abdur Rahman as Sa’di, Muassasah Risalah, Cet. I, Th. 1423H.

- Al Jami’ li Ahkamil-Qur`an, Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad al Qurthubi, tahqiq Abdur Razaq al Mahdi, Darul Kitabil-‘Arabi, Cet. II, Th. 1420 H.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 09/Tahun X/1427H/2006.
thumbnail

Abdullah Al-Qashimy; ‘Ibnu Taymiyah’ Modern Yang Meninggal Dalam Keadaan Murtad

ABDULLAH Al-Qashimy, lahir di Buraydah-Arab Saudi pada tahun 1907, tapi ia bukanlah keturunan Qashimy atau bahkan Saudi. Banyak perbedaan pendapat mengenai hal ini, namun menurut Syeikh Abu Abd al-Rahman Ibnu Aqil al-Zahiri, yang pernah berdebat dengan Qashimy mengatakan bahwa ayah Qashimy adalah seorang keturunan Mesir dari Sa’id yang datang ke Qasim untuk bekerja. Syeikh juga menyebutkan bahwa Qashimy benci ketika orang berbicara tentang warisan budaya Mesir.
Bagaimanapun, Qashimy adalah seorang mahasiswa teladan. Dia adalah orang pertama di era modern yang menulis kritikan terhadap Universitas Azhar. Qashimy juga menulis kritikan-kritikan baik tentang ateis dan sekuler berkaitan dengan pembenaran hadits tentang geografi dan obat-obatan dan hal-hal seperti itu. Dia memiliki satu masalah awal, dia selalu menulis puisi tentang dirinya di sampul dalam buku-bukunya dengan bahasa yang benar-benar megah dan mandiri.

Qashimy dikenal karena kecerdasan dan ketekunannya sebagai mahasiswa, tetapi juga dikenal dengan kepura-puraan dan narsisme. Ia disebut-sebut sebagai Ibnu Taimiyah di jamannya karena dia dianggap ahli dalam setiap bidang ilmu-ilmu agama, seorang mufassir, muhaddits, faqih, sekaligus mu’arrikh. Tapi dia sering mengatakan hal-hal yang aneh, ia menanyakan mengapa shalat itu diwajibkan dan pertanyaan aneh tentang apa saja cacat/kekurangan agama Islam? Pertanyaan yang tidak biasa diajukan oleh mahasiswa.

Dia menghilang dari peradaban menuntut ilmu untuk sementara waktu. Dia berpindah mempelajari buku-buku filsafat dan beberapa tahun kemudian, menulis beberapa buku modernis yang ‘aneh’. Ketika para syeikh di Saudi mencoba untuk membuatnya diam, ia mengeluh kepada Syekh Sayyid Quthb. Quthb pada awalnya membela Qashimy untuk berbicara, tetapi ketika Qashimy mengirim salinan buku dan artikel barunya kepada Quthb, Quthb panik dan menganggap Qashimy mencoba untuk menghancurkan Islam.

Akhirnya Qashimy keluar dari agama Islam dan salah seorang putranya murtad bersamanya, dan mereka kemudian tinggal di Mesir. Dia mencoba untuk membentuk gerakan politik ateis di sana, tapi Jamal Abdel Naser menemukannya dan Qashimy dipenjara lebih dari sekali. Ia juga menghabiskan waktu di Libanon dan terlibat dengan Literary Society, mereka memperlakukan Qashimy seperti pejabat kelas satu. Akhirnya, Syeikh Ibnu Aqil al-Zahiri dengan berbagai keahliannya bertemu Qashimy di Garden City. Mereka berdebat setiap malam, dan Syekh Ibnu Aqil menghabiskan sisa malam dengan menulis buku menceritakan kembali perdebatannya dengan Qashimy. Buku itu selesai dalam semalam tepat sebelum fajar dengan judul “A Night in Garden City.”

Menurut Syeikh Ibnu Aqil, secara lisan Qashimy mirip dengan Immanuel Kant dan John Stuart Mill, dan setiap kali Syeikh Ibnu Aqil mengutip pernyataan filsuf sekuler kafir, Qashimy akan mengganti topik pembicaraan. Pada dasarnya, dia akan membuat tuduhan mengenai keberadaan Allah secara harfiah pada buku Pencerahan dan filsuf pasca-Pencerahan. Dia adalah seorang yang arogan sepanjang hidupnya dan tidak mau bertobat sampai akhir hayatnya. Dia meninggal karena kanker di rumah sakit ‘Ain Syams Kairo-Mesir pada tanggal 1 September 1996, menuju kematian yang panjang dan lambat.

Jadi, mengapa ia murtad jika disebut Ibnu Taimiyah era baru? Bukan hanya karena filsafat, karena banyak sarjana Muslim yang menyelidiki ilmu ini tapi tidak sampai murtad. Tampaknya hatinya selalu sakit, mengingat sikapnya yang sombong, narsis dan sebagian besar hidupnya selalu mencari kekurangan segala sesuatu hal bahkan setelah menjadi seorang ‘alim. Beberapa orang ditakdirkan berakhir seperti itu dan jumlah pengetahuan tidak akan melindungi mereka dari Iblis jika mereka menyambutnya dan mematuhi bisikannya, apalagi jika terlalu terkesan dengan diri mereka sendiri.

Dia memiliki setidaknya satu anak yang tinggal di Arab yang beragama Muslim. (islampos)
thumbnail

Kisah Islamnya Tughluk Timur Khan

Bangsa Mongol pada era Jenghis Khan (w. 1227) dan anak cucunya, sebagaimana telah diketahui secara luas, telah menaklukkan banyak wilayah. Pada puncak kekuasaannya, mereka mengendalikan wilayah Asia Tengah, China, Rusia, sebagian Timur Tengah, dan Eropa Timur.

Mongol pada masa itu adalah bangsa penakluk, tetapi kekuatan utamanya ada pada militer, bukan pada ilmu pengetahuan dan sistem keyakinan yang kuat. Sehingga pada akhirnya, orang-orang Mongol ini terpengaruh oleh agama dan kebudayaan bangsa yang ditaklukkannya.


Selepas Jenghis Khan, wilayah kekuasaannya dibagi-bagi untuk empat putra utamanya, Jochi, Chagatai, Ogedei, Tolui, serta keturunan mereka masing-masing. Tak terlalu lama setelah menguasai wilayah yang luas itu, sebagian anak keturunan Jenghis Khan yang memimpin wilayah Muslim mulai masuk Islam.

Berke Khan (w. 1266) merupakan pangeran pertama di kalangan anak-cucu Jenghis Khan yang masuk Islam. Ia adalah cucu Jenghis Khan dari anak pertamanya, Jochi. Berke Khan masuk Islam di tangan Saifuddin Boharzi, seorang Syeikh sufi dari Bukhara, dan selepas itu ia pun berhasil mengajak seorang saudaranya, Tukh-Timur, masuk Islam.

Ia memimpin wilayah Golden Horde di Barat Rusia. Kepemimpinannya kuat dan pasukannya beberapa kali menginvasi Eropa Timur dan menyebabkan Kaisar Byzantium terpaksa memberikan upeti kepadanya. Ketika Hulagu Khan menguasai dan menghancurkan kekhalifahan Islam di Baghdad serta meneruskan invasinya ke Suriah dan Mesir, Berke Khan bekerja sama dengan penguasa Mamluk di Mesir untuk menghadapi sepupunya itu.

Hulagu Khan (w. 1265) yang belakangan bermusuhan dengan Berke Khan merupakan anak Tolui, putera bungsu Jenghis Khan. Hulagu inilah yang menaklukkan Baghdad, meruntuhkan pusat kekhalifahan Islam pada tahun 1258, dan mendirikan Dinasti Ilkhanate di wilayah Persia.

Walaupun tindakannya itu sangat merugikan peradaban Islam, tetapi salah satu anaknya sendiri, yaitu Teguder Ahmad, memutuskan masuk Islam. Teguder Ahmad sempat menjadi pemimpin Ilkhanate dan menjadikannya kesultanan, tetapi dua tahun kemudian ia dikalahkan oleh keponakannya sendiri yang memberontak kepadanya dan mengambil alih kepemimpinan.

Beberapa tahun selepas itu, Ilkhanate kembali dipimpin oleh pangeran Mongol yang Muslim, yaitu Ghazan, dan kemudian berubah menjadi kesultanan Islam.

Banyak cucu dan keturunan Jenghis Khan lainnya yang kemudian juga masuk Islam dan mengadopsi kebudayaan serta peradaban Islam dalam sistem pemerintahan mereka. Ada juga yang tidak masuk Islam, tetapi pengaruh peradaban Islam cukup kuat dalam pemerintahannya, seperti yang terjadi di China misalnya. Dinasti Yuan merupakan dinasti Mongol di China yang pertama kali dipimpin oleh Kubilai Khan. Walaupun para penguasa dan mayoritas penduduknya tidak menganut Islam, tetapi peran kaum Muslimin dalam pemerintahan serta dalam lapangan ilmu pengetahuan dalam Dinasti Yuan sangat menonjol.

Sehingga ketika Dinasti itu melemah dan runtuh, dinasti yang menggantikannya adalah Dinasti Ming yang Muslim.

Tughluk Timur Khan

Tughluk Timur (w. 1363) merupakan keturunan Jenghis Khan yang ketujuh, dari jalur Chagatai. Ia hidup lebih dari satu abad setelah Jenghis Khan. Menjelang masa kepemimpinannya, wilayah kekuasaan keluarga Chagatai terpecah dua, yaitu Transoxiana di sebelah Barat dan Moghulistan di sebelah Timur yang kebanyakan penduduknya menganut Budha atau Shamanisme. Wilayah-wilayah ini pada jaman sekarang ini mencakup wilayah Uzbekistan, Tajikistan, Kyrgystan, Kazakhstan, dan Barat Laut China.

Ketika itu tidak ada pemerintahan yang kuat pada kedua wilayah ini. Seorang amir dari keluarga Dughlat, yaitu Bulaji, memutuskan untuk memilih seorang Khan yang akan dibesarkan untuk menjadi seorang pemimpin di wilayah tersebut. Pilihannya jatuh pada seorang pemuda bernama Tughluk Timur dan dikatakan sebagai anak atau, menurut sejarawan lainnya, keponakan dari khan yang sebelumnya, Esen Buqa (w. 1318).

Tughluk Timur kemudian masuk Islam dan mendorong emir-emirnya yang lain untuk masuk Islam juga. Ia pada awalnya memimpin wilayah Moghulistan, dan belakangan berhasil menyatukan wilayah Transoxiana ke dalam wilayah kekuasaannya.

Sejarah pemerintahan Tughluk Timur dan keturunannya secara khusus tertulis dalam buku Tarikh-i-Rashidi yang disusun oleh Mirza Muhammad Haidar, seorang emir dari keluarga Dughlat. Mirza sendiri sempat memimpin wilayah Kashmir dan meninggal di wilayah itu.

Tarikh-i-Rashidi menceritakan kisah masuk Islam-nya Tughluk Timur. Pada suatu hari, Tughluk Timur yang masih berumur 18 tahun pergi berburu bersama beberapa orang bawahannya.
Ketika itu tampaknya ia baru menjelang diangkat sebagai khan atau pemimpin Moghulistan. Tughluk memerintahkan orang-orang untuk menyertainya berburu, tidak boleh ada yang absen.

Ketika itu, ia melihat ada beberapa orang yang sedang duduk beristirahat tak jauh dari tempatnya berburu. Maka ia pun memerintahkan agar orang-orang ini ditangkap, karena mereka telah melanggar perintahnya untuk ikut serta berburu.

Mereka kemudian dibawa ke hadapan Tughluk Timur. Orang-orang yang ditangkap ini adalah rombongan kecil yang dipimpin oleh Syeikh Jamaluddin, seorang ulama keturunan Tajik. Saat berada di hadapannya, Tughluk bertanya kepadanya, “Mengapa kalian melawan perintah saya?”

Syeikh Jamaluddin kemudian menjawab, “Kami ini orang asing yang meninggalkan reruntuhan kota Katak. Kami tidak mengerti tentang perburuan dan aturan dalam berburu, karena itu kami tidak melanggar perintahmu.”

Apa yang dikatakan Syeikh Jamaluddin memang benar, sehingga Tughluk tidak memiliki alasan untuk menahan atau menghukumnya. Ia pun memutuskan untuk membebaskan mereka. Tapi ymungkin masih ada rasa kesal dalam hatinya terhadap Syeikh Jamaluddin, sehingga ia mengajukan pertanyaan terakhir yang bertujuan menghinakannya. Ketika itu ia sedang memberi makan anjingnya dengan potongan daging babi. Maka ia pun bertanya kepada Syeikh Jamaluddin, “Apakah kamu lebih baik daripada anjing ini; atau anjing ini yang lebih baik daripada kamu?”

Syeikh Jamaluddin memberikan jawaban yang bijak, “Kalau saya memiliki iman, maka saya lebih baik daripada anjing ini; tapi kalau saya tidak memiliki iman, maka anjing ini lebih baik daripada saya.”

Tughluk rupanya terkesan dengan jawaban ini. Setelah selesai dari aktivitasnya, ia memutuskan untuk pulang dan ia memerintahkan anak buahnya untuk menaikkan Syeikh Jamaluddin ke atas kuda dan membawanya untuk menemuinya. Anak buah Tughluk kemudian membawa seekor kuda dan mempersilahkan Syeikh Jamaluddin naik ke atasnya. Saat melihat ada bekas darah babi pada sadel kuda itu, Syeikh Jamaluddin memutuskan untuk berjalan kaki. Tapi karena terus didesak, ia akhirnya mengendarai kuda itu dengan meletakkan sehelai sapu tangan di atas sadel kuda itu.

Saat tiba di hadapan Tughluk, ia kembali ditanya, “Apa itu tadi yang sekiranya dimiliki oleh seseorang ia akan lebih baik daripada anjing?”

“Iman,” jawab Syeikh Jamaluddin. Beliau kemudian menjelaskan apa itu iman dan menjelaskan tentang Islam kepada Tughluk Timur sehingga yang terakhir ini tersentuh dan menangis.
Tughluk kemudian berkata kepada Syeikh Jamaluddin, “Kalau nanti saya menjadi seorang Khan dan memiliki kekuasaan yang mutlak, kamu harus datang lagi kepada saya, dan saya berjanji akan menjadi seorang Muslim.” Ia kemudian menyuruh orang-orangnya untuk membawa pergi Syeikh Jamaluddin dengan penuh penghormatan.

Rupanya tak lama setelah kejadian itu, sebelum Tughluk diangkat menjadi seorang penguasa, Syeikh Jamaluddin meninggal dunia. Namun sebelum meninggalnya, ia menceritakan pengalamannya itu kepada anaknya yang bernama Arshaduddin yang juga alim dan soleh. Ia berpesan kepada anaknya itu, “Karena saya mungkin akan meninggal dunia tak lama lagi, maka hendaknya hal ini menjadi perhatian kamu. Jika pemuda itu menjadi seorang Khan, ingatkan dia tentang janjinya untuk menjadi seorang Muslim; dengan begitu berkah kebaikan ini mudah-mudahan terjadi dengan perantaraanmu, dan karenanya dunia akan menjadi terang benderang (dengan cahaya Islam, pen.).”

Tidak lama setelah itu, Tughluk Timur diangkat menjadi seorang Khan yang berkuasa penuh atas wilayah Moghulistan. Saat mendengar hal ini, Syeikh Arshaduddin segera berangkat ke Moghulistan dan mencari jalan untuk bertemu dengan Tughluk Khan. Tetapi berkali-kali mencoba, ia tetap tidak berhasil menjumpainya.

Ia terus menunggu kesempatan untuk bertemu dengan Khan yang baru diangkat itu. Sementara itu, ia punya kebiasaan melantunkan azan subuh setiap pagi di tempat yang tidak terlalu jauh dari tenda tempat tinggal Tughluk Khan. Pada suatu pagi, Tughluk Khan memanggil seorang pengawalnya dan berkata, “Ada orang yang bersuara keras seperti ini setiap pagi, pergi dan bawalah ia ke sini.”

Syeikh Arshaduddin masih di tengah lantunan azannya ketika pengawal itu datang dan terus menangkap dan membawanya ke hadapan Tughluk Khan. Tughluk kemudian bertanya kepadanya, “Siapa kamu yang selalu mengganggu tidur saya setiap pagi di waktu yang awal ini?”

“Saya putera seseorang yang pada satu ketika dulu Anda berjanji kepadanya untuk menjadi seorang Muslim,” jawab Syeikh Arshaduddin. Ia pun menceritakan apa yang dahulu pernah terjadi antara ayahnya dan Tughluk Khan sehingga yang terakhir ini ingat.

“Engkau diterima,” kata Tughluk Khan, “dan dimana ayahmu?”

“Ayah saya telah meninggal dunia, tetapi ia memberikan amanah misi ini kepada saya,” jawab Syeikh Arshad.

“Sejak saya naik ke tampuk kepemimpinan saya ingat bahwa saya mempunyai sebuah janji, tetapi orang yang saya beri janji itu tidak pernah datang. Sekarang saya menerimamu. Apa yang mesti saya lakukan?”

Maka Syeikh Arshaduddin membimbingnya untuk melakukan wudhu dan mengucapkan kalimat syahadat selepasnya. Kemudian ia mengajarinya hal-hal yang mendasar dalam Islam. Mereka juga sepakat untuk mengajak setiap emir di pemerintahan Tughluk Khan untuk masuk Islam. Satu demi satu emir-emir kepercayaannya diseru kepada Islam dan mereka menerima ajakan ini. Ternyata beberapa emir itu ada yang sudah masuk Islam secara diam-diam sebelumnya. Mereka merahasiakan hal ini karena khawatir Tughluk Khan tidak akan menyukainya.

Keislaman Tughluk Timur Khan telah membawa perubahan besar dalam pemerintahan di Moghulistan. Ia lah yang secara resmi untuk pertama kalinya menjadikan Islam sebagai agama negara di wilayah ini. Semuanya berawal dari pertemuannya dengan seorang Syeikh yang soleh dan mampu menjelaskan kepadanya tentang hakikat iman; bahwa iman itulah yang menentukan nilai kemuliaan seorang hamba dan membedakannya dari seekor hewan. [yy/hidayatullah.com/foto wikipedia.org]
thumbnail

Awal Sebelum Berdirinya Daulah ‘Utsmaniyyah

Orang-orang Utsmani berasal dari keturunan kabilah Turkmenia. Pada permulaan abad ke-7 H bertepatan dengan abad ke-13 M mereka hidup di Kurdistan. Mereka berprofesi sebagai penggembala. Akibat serangan orang-orang Mongol di bawah pimpinan Jengis Khan ke Iraq dan wilayah-wilayah timur Asia Kecil, maka pada 617 H (1220 M) Sulaiman, kakek dari Utsman, melakukan hijrah bersama kabilahnya dari Kurdistan menuju Anatolia. Mereka lalu berdomisili di kota Akhlath.[1]


Pada 628 H (1230 M) Sulaiman meninggal. Setelah itu, putranya yang pertengahan, Erthugrul, menggantikan posisinya. Dia ternu bergerak hingga mencapai barat laut Anatolia. Ikut bersamanya sekitar seratus keluarga dan lebih dari empat ratus penunggang kuda.[2] Ketika Erthugrul, ayah Utsman melarikan diri bersama keluarganya -berjumlah tidak lebih dari seratus keluarga- dari bencana serangan orang-orang Mongol, tibatiba dari kejauhan dia mendengar hiruk-pikuk suara orang yang bertempur. Erthugrul lalu mendekati tempat suara itu. Dia melihat pertempuran sengit antara kaum muslimin dan orang-orang Kristen Romawi. Kemenangan pun hampir saja diraih oleh pasukan Kristen Romawi. Melihat peristiwaitu, Erthugrul segera maju dengan segenap keberanian dan kegigihan untuk menolong saudara-saudaranya seagama dan seakidah. Keberanian Erthugrul ini menjadi sebab kemenangan kaum muslimin atas orang-orang Kristen.[3]

Atas keberanian tersebut, seusai pertempuran komandan pasukan Islam yang bernama Seljuk memberi hadiah kepada Erthugrul dan rombongannya. Dia memberinya sebidang tanah di wilayah barat Anatolia, dekat dengan perbatasan Romawi.[4] Dia juga memberi wewenang kepada Erthugrul untuk memperluas wilayahnya hingga ke wilayah kekuasaan Romawi. Orang-orang Seljuk pun mendapatkan sekutu kuat dalam berjihad melawan Romawi. Maka, terjalinlah persahabatan erat antara negara yang baru tumbuh ini dengan orang-orang Seljuk akibat adanya musuh bernasa dalam akidah dan agama. Persahabatan ini terus berlangsung selama masa hidup Erthugrul, yang wafat pada 699 H (1299 M) .[5] Sepeninggalnya, putranya yang bernama Utsman menggantikan posisinya sebagai pemimpin. Utsman mengikuti kebijakan ayahnya dalam memperluas wilayah kekuasaannya di negeri-negeri Romawi.[6]

Foot Note:

[1] Akhlath adalah sebuah kota di sebelah Timur Turki yang berdekatan dengan Danau Van di Armenia.

[2]  Lihat Qiyam Ad-Daulah Al-’Utsminiyah, h. 26.

[3]  Lihat Jawanib Mudhi’ah fi Tarikh Al-’Utsmaniyyin, Ziyad Abu Ghanimah, h. 36.

[4] Lihat Al-Futuh Al-Islamiyah lbra Al-’Ushur, Dr. Abdul Aziz Al-Umari, h. 353.

[5] Lihat Tarikh Salathin Ali ‘Utsman, karya AI-Qaramani dengan editor Bassam Al-Jabi, h. 10.

[6] Lihat Tarikh Ad-Daulah Al-Aliyyah, Muhammad Farid, h. 115.

Sumber: Buku ‘Sulthan Muhammad al Fatih’, Dr.Ali Muhammad ash Shalabi, Penerbit Pustaka Arafah
thumbnail

Ummu Haram dan Kota Larnaca, Siprus

Belakangan nama Siprus banyak disebut-sebut oleh media massa. Negara pulau ini banyak dibicarakan karena krisis ekonomi yang sedang dialaminya, krisis yang menyebabkan terjadinya bail out yang memukul perbankan dan perekonomian masyarakat di negeri itu.

Siprus adalah sebuah pulau yang tidak terlalu besar di Laut Tengah (Mediterrania).

Pulau ini oleh legenda dianggap sebagai tempat kelahiran Aphrodite, dewi kecantikan Yunani Kuno. Ia terletak di selatan Turki dan di sebelah barat Syam (Palestina-Libanon-Suriah-Yordania). Pulau ini memiliki sejarah yang panjang, menjadi bagian dari kerajaan-kerajaan kuat di sekitarnya, dan sejak tahun 1960 menjadi sebuah negara yang berdiri sendiri.


Jumlah penduduknya hanya sekitar satu juta orang. Mayoritasnya keturunan Yunani dan beragama Kristen Ortodoks. Agama Kristen memang telah berkembang lama di pulau ini.

Barnabas, generasi awal pengikut Nabi Isa as. yang dikatakan sebagai penulis Injil Barnabas, berasal dari pulau ini. Ia menyampaikan dakwahnya di pulau ini dan mati terbunuh juga di pulau ini.

Jika mendengar nama pulau ini, kita mungkin tidak membayangkan pulau ini memiliki komunitas Muslim. Namun kenyataannya, pulau yang disebut dalam literatur Arab sebagai Jazirah Qubrus ini memiliki komunitas Muslim yang cukup signifikan pengaruhnya. Islam merupakan agama kedua terbesar di pulau ini. Walaupun jumlah kaum Muslimin di pulau ini hanya sekitar 18%, komunitas yang hampir seluruhnya berasal dari ras Turki ini punya pengaruh lebih besar dari apa yang ditampakkan oleh persentasenya. Sebenarnya pulau ini sempat berada di bawah kekuasaan Turki Utsmani selama lebih dari tiga abad, yaitu sejak 1571 hingga 1878 atau 1914. Dan Turki masih memainkan pengaruhnya di Siprus hingga sekarang ini.

Hala Sultan Tekke

Islam telah mulai masuk ke pulau ini sejak awal sekali. Beberapa sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi Wassalam. telah berlayar ke pulau ini dalam satu misi jihad. Bukan saja mereka telah menapakkan kakinya di pulau ini, bahkan seorang sahabiyah yang mulia telah dimakamkan di pulau ini. Ya, sahabiyah ini bernama Ummu Haram binti Milhan ra. Beliau telah diisyaratkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi Wassalam. menyertai pelayaran tersebut. Beliau ternyata ditakdirkan meninggal dunia di pulau Siprus dan dimakamkan di sana.

Ummu Haram merupakan saudari Ummu Sulaim ra dan bibi Anas bin Malik ra. Beliau dan saudarinya termasuk wanita-wanita Anshar yang pertama kali masuk Islam dan memiliki kedudukan terhormat di sisi Nabi. Suami dan anaknya menyertai Perang Badar dan termasuk yang mati syahid pada pertempuran itu. Kemudian ia menikah lagi dengan seorang sahabat Anshar, yaitu Ubadah bin Syamit ra., dan mempunyai anak darinya yang bernama Muhammad bin Ubadah (Ghadanfar, 2001: 185).

Pada suatu kesempatan, Nabi Shallallahu ‘alaihi Wassalam berkunjung ke rumahnya di Quba’. Beliau tertidur dan ketika terbangun beliau tersenyum. “Apa yang membuat Anda tersenyum, wahai Rasulullah?” tanya Ummu Haram. “Sebagian dari ummatku ditampakkan kepadaku (melalui mimpi) sebagai orang-orang yang berjuang di jalan Allah di atas lautan,” jawab Nabi Shallallahu ‘alaihi Wassalam. “Mereka seperti raja-raja di atas singasananya.” Maka Ummu Haram pun berkata, “Wahai Rasulullah, mohonlah kepada Allah agar saya termasuk salah satu di antara mereka.” Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam pun mendoakannya.

Kemudian beliau tertidur lagi, kemudian terbangun dan tersenyum. “Apa yang membuat anda tersenyum, wahai Rasulullah?” tanya Ummu Haram lagi. “Sebagian dari pengikutku ditampakkan kepadaku sebagai pejuang di jalan Allah,” Nabi menceritakan hal yang sama dengan mimpi sebelumnya. “Wahai Rasulullah, doakanlah agar saya pun termasuk di dalamnya,” pinta Ummu Haram. “Kamu termasuk dalam kumpulan yang pertama, bukan kumpulan yang kedua,” jawab Nabi Shallallahu ‘alaihi Wassalam. (kisah ini disebutkan di dalam Sahih Bukhari).

Apa yang disebutkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi Wassalam itu terjadi pada tahun 28 H/ 649 M, pada masa kekhalifahan Utsman bin Affan ra. Ketika itu Muawiyyah bin Abi Sufyan atas persetujuan khalifah menyiapkan kapal dan pasukan untuk menaklukkan Pulau Siprus yang ketika itu berada di bawah kekuasaan Byzantium. Ubadah bin Syamit dan istrinya, Ummu Haram, yang usianya ketika itu sudah cukup tua ikut menyertai pasukan tersebut. Ini merupakan angkatan pertama pasukan Muslim yang melakukan perjalanan jihad melalui laut. Pasukan ini mendarat di kota Larnaca, di bagian selatan pulau Siprus.

Menurut Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah (2002: 368-9), walaupun pasukan Muslim mendapatkan banyak pampasan dan tawanan perang, pertempuran berakhir dengan perjanjian damai oleh kedua belah pihak. Dalam perjanjian itu disepakati bahwa Siprus akan membayar upeti tahunan sebanyak 7000 dinar kepada kaum Muslimin.

Setelah mengalahkan musuh dan pasukan Muslim bersiap untuk pulang, Ummu Haram mengalami kecelakaan. Ia terjatuh dari baghal (hewan hasil kawin silang antara kuda dan keledai) yang dikendarainya. Leher beliau patah dan beliau pun meninggal dunia disebabkan kejadian itu. Jenazah Ummu Haram kemudian dimakamkan di tepi danau garam, sekitar lima kilometer dari kota Larnaca.

Belakangan kerajaan Turki Utsmani menghormati makam ini dengan membangun sebuah masjid di sebelahnya. Kompleks makam ini kemudian dikenal sebagai Hala Sultan Tekke (Mirbagheri, 2010: 98).

Menurut The Blue Beret (June 2003: 8-9), bulletin bulanan yang dikeluarkan oleh pasukan perdamaian PBB di Siprus, Tekke bermakna biara atau tempat ibadah yang dalam konteks Islam biasanya dikaitkan dengan masjid atau makam. Hala Sultan bermakna bibi dari dari seorang pemimpin atau sultan. Sebutan ini tampaknya mengacu pada anggapan umum bahwa Ummu Haram merupakan bibi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam, walaupun sebutan bibi ini sebenarnya lebih bersifat majaz (perumpaan), bukan bibi yang menjadikannya mahram kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam.

Tempat ini banyak dikunjungi oleh para peziarah. Belakangan, ada beberapa makam lain yang juga berlokasi di tempat ini. Di antara yang dimakamkan di tempat ini adalah Khadijah, istri Raja Hussein dari Hijaz, atau buyut dari Raja Abdullah dari Yordan. Khadijah merupakan keturunan Turki. Ia meninggal saat berkunjung ke pulau ini pada tahun 1929 dan dimakamkan di kompleks Hala Sultan Tekke.

Masjid di kompleks ini sempat beberapa kali diserang oleh orang-orang tak bertanggung jawab sehingga merusak beberapa bagiannya. Namun secara umum, situs yang masuk dalam daftar monumen kuno ini berada dalam keadaan yang baik dan terjaga. Semoga ia tetap terpelihara dan terus menjadi simbol penting penyebaran nilai-nilai Islam.

Sebagai penutup, biarlah saya mengutip gambaran tentang kompleks makam ini dari bulletin The Blue Beret: Tak jauh dari bandara Larnaca, dikelilingi oleh sebuah oase yang terdiri dari pohon-pohon palem, zaitun dan cemara, menara dan sebuah bangunan berkubah kecil menyembul keluar. Pada musim-musim penghujan, masjid dan pohon-pohon itu membentuk citra ganda, karena danau Garam Larnaca memantulkan suasana. Saat air danau menguap, menara itu berkilauan diterpa uap panas yang keluar dari  hamparan datar kristal garam putih yang tertinggal.

Makam Hala Sultan atau Ummu Haram terbentang di sana, di tepian Larnaca, Siprus, sebagai saksi kecintaan pada Nabi Shallallahu ‘alaihi Wassalam dan semangat berjihad di jalan-Nya. Semoga kita yang hidup berpuluh generasi setelahnya tak ketinggalan dalam mengambil pelajaran dan contoh dari kehidupan beliau. [yy/hidayatullah.com]
thumbnail

Ini Dia Pokok-Pokok Kesesatan Ahmadiyyah

 SEMUA Ulama Shalafush Shalih di dunia menyatakan bahwa Ahmadiyah itu bukan bagian dari Islam. Sebab doktrin-doktrin yang mereka ajarkan sudah terlalu jauh menyimpang dari aqidah Islam.

Diantaranya apa yang telah diedarkan oleh Liga Fiqih Islam (Majma’Fiqih Islami) tentang sesatnya doktrin Ahmadiyah:
a. Ahmadiyah berkeyakinan bahwa Allah SWT itu seperti manusia, Dia melakukan puasa, shalat, tidur, bangun, menulis, bersalah bahkan melakukan hubungan seksual (Maha Suci Allah).

b. Ahmadiyah berkeyakinan bahwa tuhan mereka itu berkebangsaan Inggris, yang berbicara kepada Mirza Ghulam Ahmad dengan bahasa Inggris.

c. Ahmadiyah berkeyakinan bahwa kenabian itu belum selesai dan masih akan ada nabi terus. Menurut mereka Allah akan mengutus nabi berdasarkan keperluan. Dan bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah nabi yang paling utama dan paling agung dibandingkan semua nabi yang pernah
ada.

d. Ahmadiyah berkeyakinan bahwa malaikat Jibril turun kepada Mirza Ghulam Ahmad dan memberinya wahyu. Dan ilham-ilham yang diterima Mirza seperti Al-Qur’an.

e. Ahmadiyah berkeyakinan bahwa tidak ada Al-Qur’an kecuali yang dibawa oleh Al-Masih yang dijanjikan kedatangannya, yaitu Mirza Ghulam Ahmad. Tidak ada hadits kecuali apa yang diajarkan Mirza. Dan tidak ada nabi kecuali di bawah wewenangnya.

f. Ahmadiyah berkeyakinan bahwa kitab suci mereka diturunkan dengan nama ‘Al-Kitab Al-Mubin’, di mana yang dimaksud itu bukan Al-Qur’an.

g. Ahmadiyah berkeyakinan bahwa mereka adalah pemeluk agama yang baru yang mandiri, dengan syariat yang independen, serta berkeyakinan bahwa kedudukan orang-orang yang menjadi teman Mirza Ghulam Ahmad seperti kedudukan para shahabat kepada Nabi Muhammad SAW.

h. Ahmadiyah berkeyakinan bahwa kota Qodian itu seperti Mekkah dan Madinah, bahkan kota itu lebih suci dari keduanya. Tanah Qodian adalah tanah suci dan kota itu menjadi kiblat mereka serta kesana pula mereka melakukan ibadah haji.

i. Ahmadiyah berkeyakinan bahwa bahwa perintah jihad tidak pernah ada serta mereka fanatik buta dengan keinginan penjajah Inggris. Dan bahwa penjajah Inggris adalah tuan mereka berdasarkan nash kitab suci mereka.

j. Ahmadiyah berkeyakinan bahwa semua pemeluk agama Islam itu kafir, kecuali mereka yang masuk dalam Ahmadiyah. Mereka pun melarang pengikutnya untuk menikah dengan orang lain kecuali dengan sesama pengikut mereka sendiri.

k. Ahmadiyah berkeyakinan bahwa hukum khamar, opium, narkotika dan benda memabukkan lainnya tidak haram.

l. Ahmadiyah berkeyakinan bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah anak tuhan. [der keiler]
thumbnail

Adnan Menderes: Sang Al Fatih Modern

 Ali Adnan Ertekin Menderes (lahir di Aydin tahun 1899 – meninggal di Imrali, 17 September 1961 pada umur 62 tahun) merupakan seorang negarawan Turki dan pimpinan pertama yang dipilih secara demokratis dalam sejarah Turki. Ia menjabat sebagai Perdana Menteri Turki antara tahun 1950–1960. Ia merupakan salah satu pendiri Partai Demokrat pada tahun 1946, partai oposisi resmi ke-4 di Turki.

Masyhur di kalangan masyarakat Turki tersebar kisah bahwa Adnan Menderes menaiki sebuah pesawat terbang. Saat di angkasa, salah satu mesin pesawat mati. Pilot pesawat sudah mengumumkan keadaan emergency. Menderes mengikrarkan diri, jika Tuhan menyelamatkan dirinya, ia berjanji untuk mengembalikan kejayaan Islam di Turki. Pesawat pun terbakar. Satu-satunya penumpang yang selamat, hanya dirinya. Allahu a’lam.


Dikenal sebagai orang yang pertama kali mengembalikan adzan ke dalam bahasa Arab, dimana sejak lama diubah oleh Kemal Attaturk ke bahasa Turki.

Tahun 1950 bergabung dengan Partai Demokrasi Turki dan menjadi calon dengan program kerja yang nyeleneh untuk ukuran saat itu. Dimana semua survey berbasis di Amerika, sudah menegaskan kegagalan program yang ditawarkan Menderes. Program kampanye Menderes adalah:

    Adzan dikembalikan ke dalam bahasa Arab.
    Ibadah haji bagi Muslim Turki diizinkan.
    Dibolehkan kembali pembukaan sekolah-sekolah keagamaan (Islam) dan pengajaran agama di sekolah-sekolah umum.
    Membatalkan UU yang melarang hijab bagi Muslimah.

Hasilnya sangat mencengangkan! Partai Attaruk turun 32 kursi. Sedang Partai Demokrasi Turki meraih 318 kursi. Adnan Menderes pun terpilih menjadi PM Turki, dengan presiden Celâl Bayar

Sejak dilantik menjadi PM, Menderes langsung memenuhi janji-janji kampanyenya. Pelantikan bertepatan dengan awal Ramadhan. Pada bulan Ramadhan itu pula, Menderes memberlakukan adzan dengan bahasa Arab, kebebasan berpakaian untuk muslimah, pengajaran di masjid-masjid, dan dibolehkan memakmurkan masjid.

Pada Pemilu 1954, partai Attatruk turun drastis tinggal 24 kursi. Saat itu, Menderes memberlakukan aturan yang membolehkan pengajaran Bahasa Arab, pengajaran Al-Qur’an di seluruh SMP, membangun 10.000 masjid dan 22 Ma’had Islam di Anatolia, dalam rangka akselerasi program para khatib, da’i, dan guru-guru Al-Qur’an. Ia pun membolehkan penerbitan buku-buku Islam, majalah-majalah, atau selebaran yang menyerukan agar kembali berpegang teguh dengan ajaran Islam. Lebih dari itu, ia mengaktifkan kembali masjid-masjid yang dijadikan gudang-gudang untuk kembali menjadi tempat ibadah dan membuka 25 madrasah Tahfizh Al-Qur’an.

Di tataran regional, Menderes mulai aktif menjalin hubungan dengan Dunia Arab melawan Israel. Tidak hanya itu, ia memberlakukan aturan ketat untuk setiap kargo yang masuk dari Israel, baik kargo obat-obatan atau barang yang Made in Israel. Malah ia pernah mengusir Dubes Israel di Turki tahun 1956.

Arus Islamisasi yang begitu deras, membuat kalangan anti Islam di Turki gerah. Dimotori para jenderal yang sejak Kemal Attatruk banyak menikmati kucuran dollar dari Israel, General Kemal Joe Russel menangkap dan menghukum gantung Menderes.

Sebab-sebab digantungnya Menderes ditulis oleh seorang wartawan bernama Sami Kohen, “Penyebab dihukum matinya Menderes adalah, kebijakan politiknya yang teramat dekat dengan dunia Islam, sebaliknya dingin dan kaku dengan Israel. Selain itu, kunjungan terakhirnya ke beberapa negara Teluk, yang kemudian dilanjutkan beribadah haji, menjadi sebab kemurkaan militer Turki.”

Ia pun syahid, insya Allah, di tali gantungan tahun 1960.

Banyak pejuang yang selalu mengatakan, “Tugas kita berjuang. Hasil urusan Allah.” Maka bisa dipastikan, perjuangan yang hanya berorientasi proses, akan mudah goyah, putus asa, jalan di tempat, dan membabi buta.

Setelah era runtuhnya Khilafah Utsmaniyah di Turki, 87 tahun lalu, pejuang-pejuang yang tidak berorientasi hasil mundur terlalu jauh ke belakang. Sibuk mencaci maki keadaan. Mengkafir-kafirkan saudara muslim yang tidak sejalan. Bangga dengan kumpulan manusia yang tak dikenalkan jihad, karena jihad ditiadakan. Kumpulan manusia yang tidak berpengelaman mengurus organisasi, karena yayasan dan lembaga kebajikan ditiadakan. Lalu output apa yang akan dilahirkan? Tidak ada, kecuali generasi pendengki, pencaci, pemaki, dan peratap keadaan dengan jampi-jampi melankolis, sambil menunggu mukjizat turun dari langit tanpa setetes darah yang dikorbankan.

Sedangkan seorang Adnan Menderes, hanya dalam 10 tahun perjuangannya, sekolah-sekolah Islam yang ia buka, lembaga-lembaga tahfizh yang ia gerakkan, masjid-masjid yang ia bangun, adzan yang ia kembalikan dengan bahasa Arab, ternyata sejak tahun 1996 bermunculan Necmettin Erbakan, hingga penghujung tahun 2006, benih-benih dakwah Menderes bermunculan seperti: Abdullah Gull, Recep Tayip Erdogan, dan generasi terbaik Turki saat ini.

Adnan Menderes bagi dunia Islam, tak terlalu banyak orang yang mendengar. Karena ia tak pandai menulis buku-buku, hingga tak ada yang menjulukinya Allamah Mujtahid Mutlaq Syaikh. Tapi pengorbanannya menjadi teladan bagi generasi muda Turki, sejajar dengan Imam Syahid Hasan Al-Banna, Sayyid Quthb, Raja Faisal, yang tinta darahnya melegenda, tidak sekedar buku-buku kecil yang membingungkan generasi di kemudian hari. Tentu kita bisa memilah-memilih, mana pejuang Syariah sejati dan mana yang sekedar ilusi.

Wallahu A’lam.

Nandang Burhanudin, Lc
thumbnail

Menelisik Keberadaan Gerakan Syiah Hizbullah di Bahrain

Kalau anda berpikir bahwa gerakan Syiah Hizbullah hanya bercokol di Lebanon, bersiaplah untuk terkaget-kaget. Sejak bergulirnya Revolusi Syiah di Iran pada tahun 1979, pemikiran syiah mulai merambah ke wilayah sekitarnya terutama negara Arab. Negara yang dihuni oleh kaum muslimin.

Ada beberapa cabang Hizbullah di Negara Teluk dan Semenanjung Arab. Semuanya berada dalam satu aqidah dan manhaj yang sama. Syiah Rafidhah. Mereka tersebar di Bahrain, Hijaz (Saudi Arabia), Kuwait dan Yaman.
Dikarenakan panjangnya pokok bahasan, maka pada tulisan ini akan kami ceritakan gerakan Syiah Hizbullah satu persatu, diawali dengan apa yang terjadi di Bahrain terlebih dahulu.

Hizbullah Bahrain

Bersamaan dengan awal kemenangan revolusi Syiah di Iran, didirikan beberapa kelompok di luar negeri yang berafiliasi dengan rezim Iran. Hal itu dalam rangka memperluas pengaruh Iran melalui Syiah di berbagai wilayah.

Di Bahrain, kepercayaan untuk pengawasan sepenuhnya diserahkan kepada al-Hadi Al-Mudarrisi untuk mendirikan ‘Front Islam untuk Pembebasan Bahrain’. Pengendalinya adalah Teheran.

Pada awalnya kelompok ini mengeluarkan pernyataan yang menguraikan tujuan-tujuannya, yaitu sebagai berikut:

1. Menggulingkan pemerintahan Alu Khalifah.

2. Mendirikan organisasi Syiah yang sesuai dengan konsep revolusi Khomeini di Iran.

3. Mewujudkan kemerdekaan negara itu dari Dewan Kerjasama Negara-Negara Teluk, dan menjalin kerjasama dengan Republik Iran.

Front tersebut mengeluarkan sejumlah majalah dari Iran, seperti: Asy-Syi’buts Tsair, Tsaurah Risalah dan lain-lain. Orang yang menjadi penanggung jawab dari Departemen Informasi tersebut adalah Isa Marhun.

“Ash-Shunduq Al-Husaini Al-Ijtima’i” (Kotak Amal Sosial Husaini) adalah merupakan salah satu dasar dan titik tolak dari Front ini.

Pada akhir tahun 1979, Syiah melakukan konsolidasi dengan Front Islam untuk Pembebasan Bahrain. Hal itu dilakukan dengan cara menggalang demonstrasi-demonstrasi yang bersamaan dengan demonstrasi Syiah Saudi di Qathif. Setelah ruang gerak mereka menjadi sempit, Front menculik salah seorang kepala agen intelijen Bahrain. Setelah itu pemerintah mempersempit lagi ruang gerak mereka dan menangkap sejumlah anggota Front.

Setelah itu, Front berhenti beraktifitas untuk sementara waktu. Mereka mulai mempersiapkan kudeta di waktu yang akan datang. Hal itu dilakukan dengan cara menyelundupkan senjata ke Bahrain. Pada bulan Desember 1981, Front yang dipimpin oleh Mohammad Taqi Al Mudarisi melaksanakan upaya kudeta terhadap pemerintah, hanya saja mereka mengalami kegagalan pada proses ini. Pemerintah Bahrain menangkap 73 terdakwa dan juga pihak yang membantu kudeta tersebut secara tidak langsung.

Pada pertengahan tahun 1980-an para pemimpin ‘Front Islam untuk Pembebasan Bahrain’  mengadakan pertemuan dengan pejabat intelijen Iran. Dalam pertemuan tersebut disepakati bahwa pembentukan sayap militer Front, dengan nama Hizbullah Bahrain.

Pada awal munculnya pergerakan ini, ditugasi Syaikh Mohammad Ali Mahfouz, Sekretaris Jenderal Front Islam untuk Pembebasan Bahrain, untuk merekrut tiga ribu warga Syiah Bahrain untuk menjadi Hizbullah Bahrain dan melatih mereka di Iran dan Lebanon. Pemimpin Pergerakan ini adalah Abdul Ameer Al-Jumari, dan sekarang penggantinya adalah Ali Salman.

Seperti halnya Hadi Al Mudarrisi, sang pemimpin ‘Front Islam untuk Pembebasan Bahrain’, yang berperan sebagai instruktur dan pendukung dana untuk Hizbullah. Demikian juga Mohammad Taqi Al Mudarrisi. Dia memiliki peran yang signifikan dalam pengawasan dan dukungan logistik terhadap Pergerakan ini.

Hizbullah Bahrain mulai membuat perencanaan dan program untuk menimbulkan perpecahan dan revolusi di negara tersebut. Mereka juga mulai menguasai dan mengontrol beberapa daerah dan fasilitas penting.

Tujuan pertama Hizbullah ini adalah mengkudeta terhadap sistem yang ada dalam rangka untuk mengganti dengan sistem baru yang pro-rezim Safawi Syiah Iran. Hal ini ditegaskan dengan apa yang dikatakan Ayatollah Rohani: “Bahrain adalah pengikut Iran. Bahrain merupakan bagian dari Republik Islam Iran”.

Di antara program yang paling menonjol dari Hizbullah ini, adalah apa yang telah dilaksanakannya pada tahun 1994 yaitu berupa aksi revolusi, demonstrasi dan aksi kerusuhan. Mereka mengatasnamakan kegiatan tersebut dengan nama yang berbeda, misalnya: Organisasi Amal Al Mubasyir, Pergerakan Pembebasan Bahrain, Organisasi Al Wathan As-Shalib, tapi sebenarnya semuanya adalah di bawah satu nama yaitu Hizbullah Bahrain.

Semua nama-nama ini menyatu dalam sebuah Pergerakan baru dengan nama Jam’iyyah Al-Wifaq Al-Wathani Al-Islamiyyah (Lembaga Islam untuk Rekonsiliasi Tanah Air), yang dipimpin oleh Ali Salman selain memusatkan perhatian yang lebih terhadap politik dan media,  mereka juga semakin mengintensifkan kegiatan militer dan keorganisasian, yang selanjutnya dipegang sayap militer Pergerakan ini dengan nama Hizbullah Bahrain.

Nama lain dari Hizbullah Ini adalah Harakah Ahrar Bahrain (Pergerakan Pembebasan Bahrain). Mereka menerbitkan buletin bulanan yang diterbitkan pada awalnya di London dengan nama Shautul Bahrain (Suara Bahrain). Dimuat di dalamnya tuntutan-tuntutan, visi misi dan kegiatannya. Menyebarkan berita dalam media tersebut. Pergerakan ini mendapatkan dukungan dana dari beberapa organisasi asing yang anti Islam. Dalam satu laporannya diperkirakan subsidi yang telah diterima dari hasil siaran mereka di London, dalam acara Mimbar Bahrain diperoleh dana lebih dari 80 ribu dolar (Rp 771.840.000, kurs pada 14 Feb 2013).

Hizbullah Bahrain berusaha untuk menempuh jalan dengan nama: “Pergerakan Pembebasan Bahrain”, sebuah pergerakan yang mempunyai tuntutan politik perdamaian, sehingga sayap militer mereka melakukan peran-perannya sesuai dengan keinginannya.

Tokoh penanggung jawab yang paling menonjol pada Pergerakan Pembebasan Bahrain ini adalah Sa’id Al-Shihabi, Majeed Al Alawi dan Manshur Al-Jumari.

Pada tahun 1996, Bahrain menyaksikan insiden lain yang memilukan berupa pembunuhan, pembakaran dan pengrusakan. Mereka menyusun programnya di Iran dan melakukannya di Bahrain.

Pada tanggal 14 Maret 1996, Hizbullah Bahrain membakar restoran di daerah Sutrah Wadiyan dan membunuh tujuh turis dari Asia. Itu adalah sebuah peristiwa yang menunjukkan betapa besarnya kedengkian dan kekejian mereka guna memperburuk citra Bahrain di mata dunia

Pada 21 Maret 1996, mereka membakar sebuah Showroom pada suatu Pameran Otomotif. Mereka membakar mobil-mobil yang ada dalam pameran tersebut.

Kebencian dan kedengkian mereka tumbuh dan berkembang. Pada 6 Mei 1996, mereka membakar dan merusak lebih dari sembilan toko-toko besar tempat perbelanjaan. Mereka meninggalkannya dalam keadaan runtuh dan tinggal puing-puing saja.

Mereka juga membakar dan menghancurkan sejumlah hotel dan sekolah. Mereka juga membakar beberapa generator listrik dan telepon umum di sekitar jalan-jalan. Mereka juga membakar Bank Islam Bahrain, Bank Nasional Bahrain, dan Pusat Pameran Internasional, dengan tujuan melumpuhkan ekonomi negara.

Pada awal tahun 1996, Radio dan siaran berita Teheran terus meningkatkan hasutan dan kebencian. Mereka menebarkan keresahan dan menyerukan pemberontakan terhadap negara dan menentang legitimasi dan keputusan-keputusan pemerintah.

Pada tanggal 13 Februari 1996, Radio Teheran mengumumkan ajakan untuk menghentikan kegiatan ekonomi selama dua hari, semenjak dari hari Ahad waktu itu. Pada 15 Februari 1996, Teheran menyerukan bahwa tidak ada perayaan Idul Fitri di masa mendatang.

Hal ini juga dilakukan pada 2 Mei 1996, warga Bahrain diserukan untuk melakukan pembangkangan masal, dan tidak perlu merayakan Idul Adha! Mereka mulai menebarkan dengki pada orang-orang awam. Siaran berita Teheran pada 22 Maret 1996 menyiarkan bahwa pemerintah Bahrain tidak akan mampu memenuhi ‘tuntutan rakyat’ Bahrain!

Padahal yang mereka maksudkan dengan ‘tuntutan rakyat’ itu adalah tuntutan Syiah untuk mengganti sistem pemerintah yang ada, dan mengubahnya ke sistem negara baru, Negara Safawi Syiah, seperti negara Iran.

Indikasi kuat yang mengarah kepada hal ini ialah, surat kabar Al Anba’ Al-Kuwaitiyyah telah mengumumkan bahwa Hizbullah Kuwait telah membeli dan mengambil senjata yang ditinggalkan oleh tentara Irak di Kuwait. Senjata-senjata tersebut telah diselundupkan kepada gerakan Hizbullah Bahrain.

Surat kabar tersebut tersebut menyebutkan: “Perintah-perintah yang dikeluarkan oleh pihak berwenang Iran kepada Hizbullah Bahrain meliputi keharusan untuk mengikuti rencana jangka panjang untuk menyelundupkan senjata ke Bahrain, sehingga pihak keamanan Bahrain tidak bisa mencegahnya dan menghentikannya sekaligus. Perintah itu juga berisi pentingnya pembagian senjata tersebut ke tempat-tempat tersembunyi di lokasi yang berbeda-beda.

Dalam pengakuan yang dinyatakan Ali Ahmed Kazem Al Muttaqawwi, salah satu pemimpin Hizbullah Bahrain, dia berkata, “Kami mengadakan pertemuan dengan pejabat intelijen Iran Ahmad Sharifi. Pada pertemuan ini, kami mempresentasikan ide untuk menyelundupkan senjata ke Bahrain melalui jalur laut.”

Hal ini juga dikuatkan oleh seorang tersangka dalam kasus penyelundupan itu, Jassim Hassan al-Khayat, dia mengatakan, “Kami merencanakan rencana dengan pejabat intelijen Iran Ahmad Sharifi untuk menyelundupkan senjata ke Bahrain.”

Jassim Al-Khayat menambahkan: “Tujuannya adalah untuk menggulingkan rezim di Bahrain dengan kekuatan militer, dan pembentukan sebuah pemerintahan Syiah yang loyal kepada Iran.” Dia juga menjelaskan bahwa pembayaran pertama dikirim ke kamp militer Karaj di utara Teheran adalah melalui pejabat intelijen Iran Brigadir Mohammad Reda Alu Sadiq dan Jenderal Vahidi.

Pada bagian mobilisasi massa, ada seorang orator ulung yang bernama Abbas Ali Ahmed Habil yang menyampaikan pidato berisi hasutan terhadap kekerasan dan ajakan untuk melawan pemerintah. Dia membentuk kelompok-kelompok yang berafiliasi di bawah Hizbullah Bahrain.

Salah seorang terdakwa lainnya Abdul Wahab Hussein, memiliki peran besar dalam Pergerakan ini. Ia telah memberikan pelajaran penting kepada Pergerakan Hizbullah tentang bagaimana berurusan dengan petugas keamanan, dengan penyidik, bagaimana menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang menyudutkan, dan bagaimana cara memobilisasi massa dan menimbulkan goncangan sosial pada negara.

Abbas Habil menerima perintah-perintah dari Abdul Wahab Hussein dan juga dari Kolonel Abdul Ameer Al-Jumari melalui seseorang bernama Mohammed Ar Rayyasy.

Menteri Urusan Kabinet dan Penerangan Bahrain pada saat itu, menjelaskan bahwa Hizbullah di Bahrain telah melakukan latihan-latihan di kamp Garda Revolusi di Iran, seperti kamp Karaj utara Teheran. Setelah ada tekanan balik terhadap Iran atas keterlibatannya dalam peristiwa Hizbullah Bahrain, terhentilah pengiriman pasukan tersebut ke kamp-kamp Hizbullah di Lebanon.

Pelatihan militer termasuk mencakup persenjataan, bahan peledak, bela diri, bagaimana cara mengumpulkan dan menyampaikan informasi, mengumpulkan dan mengamankan informasi rahasia, dan bagaimana memalsukannya.

Tokoh-tokoh Hizbullah Bahrain yang paling menonjol dan terlibat dalam peristiwa 1996 adalah:

Ali Ahmad Kazem Al Muttaqawi sebagai Komite Keuangan dan koordinator dengan intelijen Iran, ‘Adil Asy-Sya’lah sebagai Komite pelatihan militer, Khalil Sultan sebagai Komite Media, Jassim Hassan Mansour Khayat sebagai Komite intelijen dan keamanan, Mohammed Habib seorang Syaikh Bahrain yang tinggal di Kuwait, Hussein Ahmed Al Mudaifi, Hussein Yusuf Ali dan Khalil Ibrahim Isa Al Hayki, padawaktu itu terjadi penangkapan terhadap 44 orang yang dituduh terlibat dalam Gerakan Hizbullah Bahrain.

Kerugian yang dialami Bahrain akibat dari pengrusakan dan penghancuran Hizbullah Bahrain mencapai setidaknya lebih dari $ 15.224.658 USD (setara dengan Rp 5,9 milyar-kurs Feb 2013, pen).

Setelah berbagai peristiwa ini, meskipun pemerintah Bahrain memberi ampunan kepada Syiah dan para pemimpin Hizbullah seperti Ali Salman, Abdul Ameer Al-Jumari, Ayatollah Mohammed Sind, dia adalah seorang penceramah Hussainiyat dan juga pemimpin dan tokoh Hizbullah Bahrain, mereka tetap menjalankan rencana dan melaksanakan upaya dalam mencapai tujuan mereka. Tindakan memalukan lain dari Hizbullah ini adalah apa yang sudah diungkapkan pemerintah Bahrain pada bulan September 2006, bahwa ditemukan rencana Iran untuk membeli sejumlah lahan di berbagai wilayah Bahrain. Hal itu sebagai upaya Syiah untuk mengubah demografi dan penyebaran sekutunya pada semua wilayah. Ini merupakan dukungan tidak langsung kepada berbagai pihak dan kelompok yang pro terhadap Iran.

Bahkan terungkap dalam laporan keamanan tentang adanya persiapan pembentukan kembali Hizbullah Bahrain, serta pembentukan kamp pelatihan militer sebagai komponen pendukungnya di Barak Imam Ali dekat Teheran.

Beberapa laporan keamanan dalam negeri menyatakan telah terjadi pertemuan antara Hizbullah Lebanon yang diwakili beberapa tokohnya seperti, Ekrem Barakat dengan pasukan militer Syiah di Bahrain, di Damaskus, kemudian di Beirut. Terjadi beberapa dialog tentang rencana organisasi Syiah dan mengatur pemetaan kerja politik dalam rangka memperluas pengaruh penetrasi Syiah dan Iran di Bahrain. Sekjen Syiah Hizbullah Lebanon Hassan Nasrallah telah berjanji untuk mendukung penuh pasukan Syiah di Bahrain untuk melanjutkan proyek yang mereka inginkan dan mereka bekerja demi proyek tersebut.

Mereka juga menetapkan tujuan memperluas pengaruh di bidang ekonomi, dan mengaktifkan peran para pedagang Syiah. Dukungan itu berupa kemitraan dengan mereka, untuk mengendalikan ekonomi, dan memonopoli beberapa usaha yang berkaitan dengan kebutuhan bahan pokok untuk kepentingan hal itu. Dengan hal itu mereka bisa menekan pemerintah untuk mendapatkan kebijakan baru!

Para intelijen Iran juga turut mensubsidi dan mendorong peran aktif Syiah dalam pemilihan parlemen. Mereka melobi demi penguatan Syiah guna mencapai kursi mayoritas sehingga pemberlakuan undang-undang sesuai dengan kepentingan masyarakat Syiah dan keinginan Iran dan lebih-lebih kepentingan perluasan pengaruh Persia Safawi di Teluk dan Dunia Arab.

*Fajar Shadiq, Aktivis FIPS dan Jurnalis untuk An-najah.net
thumbnail

Malaikat Pun Pergi Haji

SALAH satu ciptaan Allah Swt yang wajib kita imani keberadaannya adalah para malaikat. Tidak dikatakan beriman seseorang yang meragukan keberadaan malaikat apalagi mengingkarinya.

Kata malaikat (bahasa Arab) merupakan bentuk jamak dari malak yang artinya kekuatan. Mashdarnya al-alaukah yang artinya risalah atau misi.
Malaikat adalah mahluk ghaib yang senantiasa menyembah Allah Swt, tidak pernah durhaka kepada-Nya serta senantiasa melakukan apa yang diperintahkan kepada mereka.

Allah Swt berfirman, “Dan mereka berkata: “Tuhan yang Maha Pemurah Telah mengambil (mempunyai) anak”, Maha Suci Allah. Sebenarnya (malaikat-malaikat itu), adalah hamba-hamba yang dimuliakan, Mereka itu tidak mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah-perintahNya.” (QS. Al-Anbiya: 26-27).

Jika manusia terbuat dari tanah, jin terbuat dari api, maka malaikat terbuat dari cahaya. Seperti yang diterangkan dalam hadits Ummul Mu’minin ‘Aisyah r.a, dia mengatakan bahwasannya Rasulullah Saw bersabda, “Malaikiat diciptakan dari cahaya.” (HR. Muslim).

Para malaikat sangat banyak jumlahnya. Langit yang sedemikian luasnya telah dipenuhi oleh para malaikat yang selalu beribadah kepada Allah. Sehingga jarak antara satu malaikat dengan malaikat lainnya tidak lebih dari 4 jari manusia.

Seperti yang dijelaskan dalam hadits Abu Dzar, dia mengatakan bahwasannya Rasulullah Saw bersabda: “Sesungguhnya aku melihat apa yang tidak kalian lihat dan mendengar apa yang kalian tidak dengar. Bahwa langit itu bersuara dan ia berhak bila bersuara. Tiada (di langit) itu tempat (untuk) empat jari melainkan ada satu malaikat yang meletakkan dahinya untuk sujud kepada Allah.” (HR. Tirmidzi).

Ada fakta yang sangat menarik dari mahluk Allah Swt yang satu ini. Ternyata malaikat pun pergi haji seperti manusia. Bahkan malaikat terlebih dahulu melaksanakan ibadah haji jauh sebelum manusia melakukannya.

Jika manusia berhaji ke Ka’bah yang ada di Arab Saudi maka malaikat berhaji ke Baitul Makmur yang ada di langit ke tujuh.

Ketika Nabi Saw dimi’rajkan ke langit tujuh, maka beliau dibawa ke tempat yang bernama Baitul Makmur. Lalu Malaikat Jibril berkata pada beliau: “ ini adalah baitul makmur, setiap hari ada tujuh puluh ribu malaikat yang masuk ke dalamnya, ketika mereka keluar, yang akhir dari mereka tidak kembali lagi ke Baitul Makmur.” (HR. Muslim)

Baitul Makmur letaknya sejurus dengan Ka’bah yang ada di bumi. Seperti yang diterangkan dalam hadits Dari Qatadah dia berkata, diceritakan pada kami bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Baitul Makmur adalah sebuah masjid yang ada di langit sejurus dengan Ka’bah. Seandainya Baitul Makmur itu jatuh niscaya menimpa Ka’bah. Setiap hari ada tujuh puluh ribu malaikat yang masuk ke dalamnya, ketika mereka telah keluar, mereka tidak pernah kembali ke Baitul Makmur.” ( Ibnu Jarir, Fii Fatkh Al-Baari Juz 9 Hal. 493)

Jadi para malaikat berhaji hanya sekali seumur hidupnya. Dan penyelenggaraannya dilakukan setiap hari. Berbeda dengan manusia yang diperbolehkan untuk berhaji lebih dari satu kali. namun waktu pelaksanaannya harus menunggu bulan haji yang terjadi sekali dalam setahun. [Islampos]
thumbnail

Mengapa Rasul Memerintahkan Padamkan Lampu Di Malam Hari

RASUL  Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kita untuk memadamkan lampu-lampu di malam hari (ketika hendak tidur), dan setelah beberapa tahun dilakukan pengkajian ilmiah modern tentang efek cahaya terhadap manusia dan lingkungannya, maka kajian itu mengatakan:” SUngguh benar Nabinya kaum kaum Muslimin.” Maka mematikan lampu di malam hari adalah salah satu bentuk mukjizat ilmiah Nabawiyah yang melindungi manusia dan lingkungannya dan pencemaran cahaya, yang muncul disebabkan cahaya yang berlebih, yang mengenai tubuh seseorang di malam hari.
Hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam Tentang Masalah Ini

Nabi kita yang tercinta, Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam telah memperingatkan kita tentang bahaya lampu, apabila kita membiarkannya menyala ketika kita tidur. Dan peringatan dari Nabi tersebut terdapat dalam banyak riwayat, di antaranya ada yang disebutkan alasan dari peringatan tersebut, yaitu khawatir terjadi kebakaran, dan sebagiannya lagi tidak disebutkan alasan dari perintah memadamkan lampu di malam hari, agar perintah tersebut berlaku umum, dan sebagai bentuk kasih sayang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kepada seluruh makhluk di setiap tempat dan zaman. Di antara hadits-hadts tersebut adalah sebagai berikut:

Riwayat-riwayat yang disebutkan di dalamnya alasan untuk memadamkan lampu ketika hendak tidur di malam hari.

1. Dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: “Pada suatu malam terjadi kebakaran di salah satu rumah penduduk di Madinah (ketika penghuninya tertidur). Lalu hal itu diceritakan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau bersabda:” Sesungguhnya api ini adalah musuh kalian, karena itu apabila kalian hendak tidur, maka padamkanlah ia lebih dahulu.” (HR. al-Bukhari)

2. Dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhuma dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tutuplah tempat air kalian, pintu rumah kalian, dan matikanlah lampu-lampu kalian, karena bisa jadi tikus akan menarik sumbu lampu sehingga mengakibatkan kebakaran yang menimpa para penghuni rumah.” (HR. al-Bukhari)

3. Dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhuma bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersada: “Tutuplah oleh kalian bejana-bejana, rapatkanlah tempat-tempat minuman, tutuplah pintu-pintu, dan matikanlah lampu, karena setan tak dapat membuka ikatan tempat minum, pintu, dan bejana. Jika kalian tak mendapatkan penutupnya kecuali dengan membentangkan sepotong batang kayu kecil di atas bejananya dan menyebut nama Allah, maka lakukanlah. Karena tikus dapat merusak pemilik rumah dengan membakar rumahnya.” (HR. Muslim)

4. Dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhuma bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersada: “Tutuplah oleh kalian pintu rumah, ikatlah kantong air tempat minuman, tutuplah bejana-bejana, dan matikanlah lampu, karena setan tak dapat membuka pintu terturup, melepas ikatan tempat minum, dan membuka bejana. Dan sesungguhnya tikus dapat merusak pemilik rumah dengan membakar rumahnya.” (HR. imam Malik dalam al-Muwatha’ dan at-Tirmidzi dalam Sunan-nya dan dishahihkan oleh al-Albani rahimahumullah)

Dan masih ada lagi beberapa riwayat yang lain.

Riwayat-riwayat yang tidak disebutkan di dalamnya alasan untuk memadamkan lampu ketika hendak tidur di malam hari.

1. Dari Jabir bin ‘Abdullah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: “Padamkanlah lampu-lampu di malam hari pada saat kalian tidur di malam hari, kuncilah pintu dan tutuplah bejana, makanan dan minuman.” (HR. al-Bukhari)

2. Dari Jabir radhiyallahu ‘anhuma bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersada: “Apabila malam telah datang (setelah matahari tenggelam), tahanlah anak-anak kalian (dari keluar rumah), karena setan bertebaran ketika itu. Apabila telah berlalu sesaat dari waktu ‘Isya biarkanlah mereka, tutuplah pintumu, dan matikanlah lampu serta sebutlah nama Allah (mengucapkan bismillah pen)…” (HR. Al-Bukhari)

Penjelasan Hadits

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata di dalam Fathul Bari, menukil perkataan dari imam al-Qurthubi rahimahullah:” Perintah dan larangan dalam hadits ini adalah bentuk bimbingan (pengarahan).” Beliau mengatakan:’ Dan mungkin juga bermakna anjuran (sunnah)’ Dan imam Nawawi rahimahullah menegaskan bahwa hal itu adalah sebagai bimbingan, karena hal itu adalah untuk kemaslahatan duniawi.’ Namun dikomentari bahwasanya hal itu terkadang dapat mendatangkan maslahat secara agama, yaitu penjagaan terhadap jiwa yang haram untuk dibunuh, dan penjagaan terhadap harta yang diharamkan untuk dihambur-hamburkan.

Dalam hadits-hadits ini disebutkan bahwa seseorang jika tidur seorang diri, dan di dalam rumhanya ada api, maka wajib bagi dia untuk memadamkannya sebelum tidur, atau melakukan sesuatu yang membuatnya aman dari kebakaran. Demikian juga kalau di dalam rumah ada sekelompok orang, maka wajib atas sebagaian mereka (memadamkannya), dan yang paling berkewajiban adalah yang paling terakhir tidur.”

Pandangan Ilmuwan Modern

Para ilmuwan saat ini berbicara tentang polusi cahaya pada malam hari, serta berbicara tentang bahaya terkena cahaya yang berlebih, terutama saat tidur.

Sebuah riset ilmiyah terbaru menegaskan bahwa tetap menyalanya lampu pada saat tidur akan mempengaruhi proses biologis yang ada di dalam otak manusia, dan hal tersebut akan menyebabkan gangguan-gangguan yang mengakibatkan kegemukan. Oleh karena itu para ilmuwan berpesan agar kita senantiasa mematikan lampu pada malam hari dalam rangka memelihara kesehatan tubuh dan otak. Dan Subhanallah, pesan yang baru diketahui oleh para ilmuwan pada abad 21, telah disampaikan sebelumnya oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sejak 14 abad yang lalu. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda dalam hadits shahih: “Padamkanlah lampu-lampu di malam hari pada saat kalian tidur di malam hari, kuncilah pintu dan tutuplah bejana, makanan dan minuman.” (HR. al-Bukhari) [alsofwah]
thumbnail

Kilas Balik dari Kisah PERANG YARMUK

Sejarah kejayaan Islam tak lepas dari amalan jihad yang diperani oleh para pendahulu umat ini. Jihad memiliki kedudukan mulia di dalam Islam. Tentunya, diatas ketentuan yang telah digariskan Allah  dan Rasul-Nya . Bukan aksi teror yang muncul dari semangat tanpa ilmu. Tulisan berikut ini adalah memaparkan gambaran jihad fii sabilillaah di masa Khalifah Abu Bakr Ash-Shiddiq .

Seusai memulihkan kondisi jazirah ’Arab, dengan memerangi kaum murtad dan orang-orang yang menolak membayar zakat, Abu Bakr  berusaha keras memobilisasi pasukan Islam dalam upaya menaklukkan negeri Syam yang termasuk daerah teritorial kerajaan Romawi.


Keadaan Romawi sebelum Peperangan

Ketika pasukan Islam bergerak menuju Syam, tentara Romawi merasa terkejut dan sangat takut. Dengan serta-merta mereka mengirimkan surat yang memberitahukan akan hal tersebut kepada Heraklius, raja Romawi yang berada di Himsh (sekarang dikenal dengan Homs –red). Dia pun melayangkan surat balasan yang berbunyi, ”Celaka kalian! Sesungguhnya mereka adalah pemeluk agama baru. Tidak ada yang bisa mengalahkan mereka. Patuhilah aku, dan berdamailah dengan menyerahkan setengah penghasilan bumi Syam! Bukankah kalian masih memiliki pegunungan Romawi?! Jika kalian tidak mematuhi perintahku, niscaya mereka akan merampas negeri Syam dan akan memojokkan kalian hingga terjepit di pegunungan Romawi.”

Tatkala telah mendapatkan surat balasan seperti ini, mereka (tentara Romawi) tidak mau menerima saran tersebut. Akhirnya, mau tidak mau Raja Heraklius mengirim pasukan dalam jumlah yang besar. Pasukan Romawi mulai bergerak, dan berhenti di lembah Al-Waqusah, di samping sungai Yarmuk yang berdataran rendah dan memiliki banyak jurang.

Kedatangan Khalid bin Al-Walid  dari ‘Iraq

Pasukan Islam yang berada di Syam segera meminta bantuan. Maka Abu Bakr Ash-Shiddiq  memerintahkan Khalid bin Al-Walid  agar menarik diri dari ’Iraq untuk kemudian menuju Syam bersama bala tentaranya. Dengan segera Khalid  menunjuk Al-Mutsanna bin Haritsah v sebagai penggantinya di ’Iraq. Kemudian beliau  bergerak cepat dengan membawa 9.500 personel pasukan menuju Syam. Mereka melalui jalan-jalan yang tidak pernah dilalui seorang pun sebelumnya, dengan menyeberangi padang pasir, mendaki gunung, serta melewati lembah-lembah yang sangat gersang.

Persiapan Pasukan Islam

Abu Sufyan  mengusulkan, layaknya ahli strategi perang, agar pasukan dibagi menjadi tiga formasi. Sepertiga bersiap-siap di depan pasukan Romawi, sepertiga lainnya yang terdiri dari bagian perbekalan dan para wanita agar berjalan, dan sepertiga yang tersisa dipimpin oleh Khalid  di posisi belakang. Jika musuh telah mencapai perkemahan wanita dan perbekalan, Khalid  akan berpindah ke depan kaum wanita, sehingga mereka dapat menyelamatkan diri di belakang pasukan Khalid bin Al-Walid .

Maka mereka pun segera merealisasikan usulan itu. Pasukan Islam mulai berkumpul dan berhadapan dengan musuh pada awal bulan Jumadil Akhir tahun 13 H.

Strategi Pasukan Islam

Pasukan Islam kala itu jumlahnya berkisar antara 36 ribu sampai dengan 40 ribu personel tentara. Didalamnya terdapat seribu orang shahabat Nabi  . Seratus orang dari mereka adalah para veteran perang Badar. Abu ’Ubaidah ibnul Jarrah (namanya Hanzholah bin Ath-Thufail) memimpin posisi tengah pasukan. ’Amru bin Al-’Ash  dan Syarahbil bin Hasanah  memimpin sayap kanan pasukan. Sedangkan pemimpin sayap kiri pasukan adalah Yazid bin Abi Sufyan (dia dikenal dengan sebutan Yazid Al-Khoir).

Khalid  membawa kudanya ke arah Abu ’Ubaidah  dan berkata, ”Aku akan memberikan usul.” Abu ’Ubaidah  menjawab, ”Katakanlah, aku akan mendengar dan mematuhinya.” Khalid  kembali berkata, ”Musuh pasti menyiapkan pasukan besar untuk membobol pertahanan pasukan kita. Aku khawatir pertahanan sayap kiri dan kanan akan kebobolan. Menurutku, pasukan berkuda harus dibagi menjadi dua kelompok. Satu pasukan ditempatkan di belakang sayap kanan, dan yang lain ditempatkan di belakang sayap kiri. Apabila musuh berhasil menembus pertahanan sayap kiri atau kanan, para pasukan berkuda berperan membantu mereka. Lalu kita datang menyerbu dari belakang.” Abu ’Ubaidah  berkomentar, ”Alangkah jitu usulmu itu!”

Khalid bin Al-Walid  pun memerintahkan agar Abu ’Ubaidah ibnul Jarrah  pindah ke posisi belakang. Hal ini agar jika ada tentara Islam berlari mundur, ia akan malu saat melihatnya kemudian kembali ke kancah pertempuran. Kemudian Khalid  menginstruksikan agar para wanita bersiap-siap dengan pedang, pisau belati, dan tongkat. Khalid  berkata, ”Siapa saja yang kalian jumpai melarikan diri dari medan pertempuran, bunuh dia!”

Strategi Pasukan Romawi

Setelah menerima bantuan personel dari pusat, pasukan Romawi maju dengan kesombongan membawa 240 ribu personel. 80 ribu pasukan pejalan kaki, 80 ribu pasukan berkuda, dan 80 ribu pasukan yang diikat dengan rantai besi (setiap sepuluh tentara diikat menjadi satu agar tidak lari dari peperangan).

Mereka bergerak hingga menutupi seluruh tempat yang ada seakan-akan mereka adalah awan hitam. Mereka berteriak-teriak, mengangkat suara tinggi-tinggi, sementara para pendeta, uskup, maupun pihak gereja mengelilingi pasukan membacakan Injil sambil memotivasi mereka agar gigih dalam berperang.

Pasukan lini depan dipimpin oleh Jarajah (George), sayap kiri dan kanan dipimpin oleh Mahan dan Ad-Daraqus. Pasukan penyerang dipimpin oleh Al-Qolqolan, menantu Heraklius. Adapun pimpinan tertinggi pasukan ini adalah saudara kandung Heraklius yang bernama Tadzariq.

Perundingan sebelum meletusnya Pertempuran

Abu ’Ubaidah dan Yazid bin Abi Sufyan maju ke arah pasukan Romawi dengan membawa Dhirar bin Al-Azur, Al-Harits bin Hisyam dan Abu Jandal bin Suhail  untuk bertemu dengan Tadzariq yang tengah duduk di dalam tenda yang terbuat dari sutera.

Para shahabat  berkata, ”Kami tidak dihalalkan memasuki tenda ini.” Maka dibentangkanlah karpet dari sutera dan mereka dipersilahkan untuk duduk di atasnya. Para shahabat  berkata, ”Kami tidak diperbolehkan duduk di atasnya.” Akhirnya Tadzariq duduk di tempat yang mereka inginkan. Para shahabat  mendakwahinya agar masuk Islam, namun perundingan ini berakhir tanpa hasil. Akhinya mereka pun kembali ke barisan pasukan. Pemimpin sayap kiri Romawi yang bernama Mahan ingin bertemu dengan Khalid bin Al-Walid  di antara dua pasukan yang saling berhadapan. Mahan berkata, ”Kami mengetahui bahwa kemiskinan dan kelaparanlah yang mengeluarkan kalian dari negeri kalian. Maukah kalian jika aku beri sepuluh dinar untuk setiap tentara beserta makanan dan pakaian, lalu kalian pulang ke negeri kalian? Dan pada tahun depan aku akan memberikan jatah yang serupa?”

Khalid bin Al-Walid  menjawab, ”Sesungguhnya, bukanlah yang mengeluarkan kami dari negeri kami apa yang engkau sebutkan tadi. Tetapi sebenarnya kami adalah sekelompok manusia peminum darah. Dan telah sampai berita kepada kami bahwa tidak ada darah yang lebih segar daripada darah kalian, bangsa Romawi. Untuk itulah kami datang kesini!” Mendengar jawaban itu para sahabat Mahan berucap, ”Demi Allah, ucapan tersebut baru pertama kali kita dengar dari bangsa ’Arab.”

Jalannya Pertempuran

Pasukan Romawi pada perang ini keluar dalam jumlah besar yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Khalid  juga membawa pasukan besar yang tidak pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah ’Arab. Tatkala persiapan sudah matang, Khalid  memerintahkan untuk memulai dengan perang tanding. Mulailah para jagoan Islam di tiap pasukan maju hingga membuat suasana memanas. Sementara Khalid  berdiri menyaksikan laga tersebut.

Ditengah suasana yang sudah memanas, pemimpin pasukan lini depan Romawi yang bernama Jarajah ingin bertemu dengan Khalid  di tengah dua pasukan. Ia bertanya mengenai agama Islam, maka Khalid  memberitahukan dakwah Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad. Akhirnya, Jarajah masuk Islam, membalikkan sisi perisainya dan masuk ke dalam barisan pasukan Islam.

Melihat pembelotan Jarajah, pasukan Romawi menyerbu ke barisan kaum muslimin. Mahan memerintahkan pasukan sayap kanan menyerang menerobos pertahanan sayap kanan pasukan Islam. Kaum muslimin tetap tegar berjuang di bawah panji-panji mereka, hingga berhasil membendung serangan musuh.

Setelah itu, pasukan besar Romawi datang lagi bak gunung besar yang berhasil memporak-porandakan pasukan sayap kanan, hingga pasukan Islam beralih ke tengah. Tak lama kemudian, mereka saling memanggil agar kembali ke medan laga hingga berhasil memukul mundur kembali. Adapun para wanita, tatkala melihat ada tentara Islam yang lari mundur, mereka segera memukulinya dengan kayu, atau melemparinya dengan batu sehingga tentara tersebut kembali ke kancah peperangan.

Kemudian Khalid  beserta pasukannya yang berada di sayap kiri menerobos ke sayap kanan yang kebobolan diserang musuh, hingga berhasil membunuh enam ribu tentara Romawi. Lalu Khalid  membawa seratus pasukan berkuda menghadapi seratus ribu tentara Romawi hingga berhasil meluluhlantakkan pasukan musuh.

Pada hari itu, begitu terlihat kegigihan, kesabaran, dan kepahlawanan tentara-tentara Islam hingga pasukan Romawi berputar-putar seperti penumbuk gandum. Mereka tidak melihat, pada perang itu, melainkan kepala-kepala yang berterbangan, tangan-tangan maupun jari-jari yang terpotong, serta semburan darah yang membasahi medan laga.

Ketika itulah, seluruh pasukan Islam menyerbu dengan serentak, untuk kemudian dengan leluasa menghabisi musuh tanpa ada perlawanan sedikit pun. Jarajah pun akhirnya terluka parah dan meninggal dunia. Padahal beliau belum pernah shalat sekalipun, kecuali dua raka’at yang dikerjakan (diajarkan) oleh Khalid  ketika baru/awal masuk Islam.

Peperangan ini berawal dari siang hingga malam, sampai kemenangan diraih oleh Islam dan kaum muslimin. Malam itu, pasukan Romawi berlari dalam kegelapan. Adapun pasukan Romawi yang diikat rantai besi, jika salah seorang dari mereka terjatuh, maka terjatuhlah seluruhnya. Malam itu, Khalid  bermalam di kemah Tadzariq, pimpinan tertinggi pasukan Romawi.

Pasukan berkuda berkumpul di sekitar kemah Khalid  menunggu tentara Romawi yang lewat untuk dibunuh hingga waktu pagi tiba. Tadzariq pun terbunuh. Telah terbunuh pada hari itu 120.000 lebih pasukan Romawi. Adapun tentara Islam yang gugur di medan perang sebanyak tiga ribu pasukan. Kaum muslimin mendapat harta pampasan yang begitu banyak pada perang ini.

Demikianlah, kejayaan yang diraih oleh umat Islam tatkala mereka kokoh diatas kemurnian ibadah kepada Allah  dan berpegang teguh kepada sunnah (ajaran) Rasul-Nya . Sebagaimana firman Allah  (yang artinya):

”Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal sholih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (An-Nur: 55)

Wallahu a’lam bish showab.