Website Iklan Tayang Selamanya
Selamat datang di situs web periklanan jaringan unikbaca.com "Semoga Hari Anda Selalu Menyenangkan!"
Setidaknya satu iklan Anda posting juga di situs web iklan ini!
Agar pengunjung atau pengakses dapat mencari dan tahu usaha Anda
📝 POSTING Hari ini DISKON 50%

Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
thumbnail

Hajar Aswad Dicuri

 Kota Mekah, dengan kemuliaan yang disandangnya, ia memiliki hukum-hukum yang telah ditetapkan syariat, sebagai bukti yang menunjukkan kemuliaannya. Siapapun dilarang melakukan perbuatan maksiat. Meski larangan ini telah jelas, ternyata dalam perjalanan sejarah kaum Muslimin, khususnya kota Mekah dan Ka’bah, pernah terjadi pelanggaran yang sangat memilukan dan menodai Ka’bah secara khusus, yaitu terjadinya penjarahan Hajar Aswad.
Hajar Aswad merupakan batu termulia. Dia berasal dari Jannah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

نَزَلَ الْحَجَرُ الْأَسْوَدُ مِنْ الْجَنَّةِ وَهُوَ أَشَدُّ بَيَاضًا مِنْ اللَّبَنِ فَسَوَّدَتْهُ خَطَايَا بَنِي آدَمَ

“Hajar Aswad turun dari surga, dalam kondisi berwarna lebih putih dari air susu. Kemudian, dosa-dosa anak Adam-lah yang membuatnya sampai berwarna hitam.” [Hadits shahih riwayat at Tirmidzi. Dishahihkan oleh al Albani. Lihat Shahih Sunan at Tirmidzi, no. 877].

Tentang keutamaannya yang lain, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

ِإنَّ لِهَذَا الْحَجَرِ لِساَناً وَ شَفَتَيْنِ يَشْهَدُ لِمَنْ اسْتَلَمَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِحَقٍّ

“Sesungguhnya batu ini akan punya lisan dan dua bibir akan bersaksi bagi orang yang menyentuhnya di hari Kiamat dengan cara yang benar.” [HR al Hakim dan Ibnu Hibban, dan dishahihkan al Albani. Lihat Shahihul-Jami', no. 2184.].

Dari Ibnu ‘Umar, saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ مَسْحَهُمَا يَحُطَّانِ الْخَطِيئَةَ

“Sesungguhnya mengusap keduanya (Hajar Aswad dan Rukun Yamani) akan menghapus dosa.”[ Hadits shahih riwayat an Nasaa-i. Dishahihkan oleh al Albani. Lihat Shahih Sunan an Nasaa-i, no. 2919].

Hajar Aswad, dahulu berbentuk satu bongkahan. Namun setelah terjadinya penjarahan yang terjadi pada tahun 317H, pada masa pemerintahan al Qahir Billah Muhammad bin al Mu’tadhid dengan cara mencongkel dari tempatnya, Hajar Aswad kini menjadi delapan bongkahan kecil. Batu yang berwarna hitam ini berada di sisi selatan Ka’bah.

Adalah Abu Thahir, Sulaiman bin Abu Said al Husain al Janabi, tokoh golongan Qaramithah pada masanya, telah menggegerkan dunia Islam dengan melakukan kerusakan dan peperangan terhadap kaum Muslimin. Kota yang suci, Mekah dan Masjidil Haram tidak luput dari kejahatannya. Dia dan pengikutnya melakukan pembunuhan, perampokan dan merusak rumah-rumah. Bila terdengar namanya, orang-orang akan berusaha lari untuk menyelamatkan diri [Al Bidayah wan Nihayah, 11/187].

Kisahnya, pada musim haji tahun 317H tersebut, rombongan haji dari Irak pimpinan Manshur ad Dailami bertolak menuju Mekah dan sampai dalam keadaan selamat. Namun, tiba-tiba pada hari Tarwiyah (tanggal 8 Dzul Hijjah), orang-orang Qaramithah (salah satu sekte Syiah Isma’iliyah) melakukan huru-hara di tanah Haram. Mereka merampok harta-harta jamaah haji dan menghalalkan untuk memeranginya. Banyak jamaah haji yang menjadi korban, bahkan, meskipun berada di dekat Ka’bah.

Sementara itu, pimpinan orang-orang Qaramithah ini, yaitu Abu Thahir –semoga mendapatkan balasan yang sepadan dari Allah– berdiri di pintu Ka’bah dengan pengawalan, menyaksikan pedang-pedang pengikutnya merajalela, menyudahi nyawa-nyawa manusia. Dengan congkaknya ia berkata : “Saya adalah Allah. Saya bersama Allah. Sayalah yang menciptakan makhluk-makhluk. Dan sayalah yang akan membinasakan mereka”.

Massa berlarian menyelamatkan diri. Sebagian berpegangan dengan kelambu Ka’bah. Namun, mereka tetap menjadi korban, pedang-pedang kaum Syi’ah Qaramithah ini menebasnya. Begitu juga, orang-orang yang sedang thawaf, tidak luput dari pedang-pedang mereka, termasuk di dalamnya sebagian ahli hadits.

Usai menuntaskan kejahatannya yang tidak terkira terhadap para jamaah haji, Abu Thahir memerintahkan pasukan untuk mengubur jasad-jasad korban keganasannya tersebut ke dalam sumur Zam Zam. Sebagian lainnya, di kubur di tanah Haram dan di lokasi Masjidil Haram.

Kubah sumur Zam Zam ia hancurkan. Dia juga memerintahkan agar pintu Ka’bah dicopot dan melepas kiswahnya. Selanjutnya, ia merobek-robeknya di hadapan para pengikutnya. Dia meminta kepada salah seorang pengikutnya untuk naik ke atas Ka’bah dan mencabut talang Ka’bah. Namun tiba-tiba, orang tersebut terjatuh dan mati seketika. Abu Thahir pun mengurungkan niatnya untuk mengambil talang Ka’bah. Kemudian, ia memerintahkan untuk mencongkel Hajar Aswad dari tempatnya. Seorang lelaki memukul dan mencongkelnya.

Dengan nada menantang, Abu Thahir sesumbar : “Mana burung-burung Ababil? Mana bebatuan dari Neraka Sijjil?”

Peristiwa penjarahan Hajar Aswad ini, membuat Amir Mekah dan keluarganya dengan didukung sejumlah pasukan mengejar mereka. Amir Mekah berusaha membujuk Abu Thahir agar mau mengembalikan Hajar aswad ke tempat semula. Seluruh harta yang dimiliki Sang Amir telah ia tawarkan untuk menebus Hajar Aswad itu. Namun Abu Thahir tidak bergeming. Bahkan Sang Amir, anggota keluarga dan pasukannya menjadi korban berikutnya. Abu Thahir pun melenggang menuju daerahnya dengan membawa Hajar Aswad dan harta-harta rampasan dari jamaah haji. Batu dari Jannah ini, ia bawa pulang ke daerahnya, yaitu Hajr (Ahsa), dan berada di sana selama 22 tahun.

Menurut Ibnu Katsir, golongan Qaramithah membabi buta semacam itu, karena mereka sebenarnya kuffar zanadiqah. Mereka berafiliasi kepada regim Fathimiyyun yang telah menancapkan hegemoninya pada tahun-tahun itu di wilayah Afrika. Pemimpin mereka bergelar al Mahdi, yaitu Abu Muhammad ‘Ubaidillah bin Maimun al Qadah. Sebelumnya ia seorang Yahudi, yang berprofesi sebagai tukang emas. Lantas, mengaku telah masuk Islam, dan mengklaim berasal dari kalangan syarif (keturunan Nabi Muhammad). Banyak orang dari suku Barbar yang mempercayainya. Hingga pada akhirnya, ia dapat memegang kekuasan sebagai kepala negara di wilayah tersebut. Orang-orang Qaramtihah menjalin hubungan baik dengannya. Mereka (Qaramithah) akhirnya menjadi semakin kuat dan terkenal.

Perbuatan Abu Thahir al Qurmuthi, orang yang memerintahkan penjarahan Hajar Aswad ini, oleh Ibnu Katsir dikatakan : “Dia telah melakukan ilhad (kekufuran) di Masjidil Haram, yang tidak pernah dilakukan oleh orang sebelumnya dan orang sesudahnya”. [Al Bidayah wan Nihayah, 11/191. Ibnu Katsir mengisahkan peristiwa ini di halaman 190-192].

Setelah masa 22 tahun Hajar Aswad dalam penguasaan Abu Thahir, ia kemudian dikembalikan. Tetapnya pada tahun 339H.

Pada saat mengungkapkan kejadian tahun 339 H, Ibnu Katsir menyebutnya sebagai tahun berkah, lantaran pada bulan Dzul Hijjah tahun tersebut, Hajar Aswad dikembalikan ke tempat semula. Peristiwa kembalinya Hajar Aswad sangat menggembirakan segenap kaum Muslimin.

Pasalnya, berbagai usaha dan upaya untuk mengembalikannya sudah dilakukan. Amir Bajkam at Turki pernah menawarkan 50 ribu Dinar sebagai tebusan Hajar Aswad. Tetapi, tawaran ini tidak meluluhkan hati Abu Thahir, pimpinan Qaramithah saat itu.

Kaum Qaramithah ini berkilah: “Kami mengambil batu ini berdasarkan perintah, dan akan mengembalikannya berdasarkan perintah orang yang bersangkutan”.

Pada tahun 339 H, sebelum mengembalikan ke Mekah, orang-orang Qaramithah mengusung Hajar Aswad ke Kufah, dan menggantungkannya pada tujuh tiang Masjid Kufah. Agar, orang-orang dapat menyaksikannya. Lalu, saudara Abu Thahir menulis ketetapan : “Kami dahulu mengambilnya dengan sebuah perintah. Dan sekarang kami mengembalikannya dengan perintah juga, agar pelaksanaan manasik haji umat menjadi lancar”.

Akhirnya, Hajar Aswad dikirim ke Mekah di atas satu tunggangan tanpa ada halangan. Dan sampai di Mekah pada bulan Dzul Qa’dah tahun 339H [Al Bidayah wan Nihayah, 11/265].

Dikisahkan oleh sebagian orang, bahwa pada saat penjarahan Hajar Aswad, orang-orang Qaramithah terpaksa mengangkut Hajar Aswad di atas beberapa onta. Punuk-punuk onta sampai terluka dan mengeluarkan nanah. Tetapi, saat dikembalikan hanya membutuhkan satu tunggangan saja, tanpa terjadi hal-hal aneh dalam perjalanan. (Mas)

Sumber :

- Shahih Bukhari, al Imam al Bukhari, Darul Arqam, Beirut, tanpa tahun.

- Shahih Muslim, Syarhun-Nawawi, Darul Ma’rifah, Beirut, Cet. VI, Th. 1420 H.

- Ihkamil-Ahkam Syarhu ‘Umdatil-Ahkam, Ibnu Daqiqil ‘Id, tahqiq Hasan Ahmad Dar Ibni Hazm Cet. I, Th. 1423 H.

- Al Bidayah wan-Nihayah, al Imam Imaduddin Abul Fida Isma’il Ibnu Katsir, Darul Ma’rifah, Cet. VI, Th. 1422 H.

- Wamdhul-‘Aqiq min Makkata wal-Baitil ‘Aqiq, Muhammad ‘Ali Barnawi, Mekah Mukaramah, Cet. I. Th. 1425 H.

- Shahih Sunan at-Tirmidzi, Muhammad Nashiruddin al Albani, Maktabah al Ma’arif.

- Shahih Sunan an-Nasai, Muhammad Nashiruddin al Albani Maktabah al Ma’arif.

- Shahihul-Jami’ wa Ziyadatuhu, Muhammad Nashiruddin al Albani, Maktab Islami, Cet. III, Th. 1408.

- Taisiril Karimir-Rahman, Abdur Rahman as Sa’di, Muassasah Risalah, Cet. I, Th. 1423H.

- Al Jami’ li Ahkamil-Qur`an, Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad al Qurthubi, tahqiq Abdur Razaq al Mahdi, Darul Kitabil-‘Arabi, Cet. II, Th. 1420 H.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 09/Tahun X/1427H/2006.
thumbnail

Kisah Islamnya Tughluk Timur Khan

Bangsa Mongol pada era Jenghis Khan (w. 1227) dan anak cucunya, sebagaimana telah diketahui secara luas, telah menaklukkan banyak wilayah. Pada puncak kekuasaannya, mereka mengendalikan wilayah Asia Tengah, China, Rusia, sebagian Timur Tengah, dan Eropa Timur.

Mongol pada masa itu adalah bangsa penakluk, tetapi kekuatan utamanya ada pada militer, bukan pada ilmu pengetahuan dan sistem keyakinan yang kuat. Sehingga pada akhirnya, orang-orang Mongol ini terpengaruh oleh agama dan kebudayaan bangsa yang ditaklukkannya.


Selepas Jenghis Khan, wilayah kekuasaannya dibagi-bagi untuk empat putra utamanya, Jochi, Chagatai, Ogedei, Tolui, serta keturunan mereka masing-masing. Tak terlalu lama setelah menguasai wilayah yang luas itu, sebagian anak keturunan Jenghis Khan yang memimpin wilayah Muslim mulai masuk Islam.

Berke Khan (w. 1266) merupakan pangeran pertama di kalangan anak-cucu Jenghis Khan yang masuk Islam. Ia adalah cucu Jenghis Khan dari anak pertamanya, Jochi. Berke Khan masuk Islam di tangan Saifuddin Boharzi, seorang Syeikh sufi dari Bukhara, dan selepas itu ia pun berhasil mengajak seorang saudaranya, Tukh-Timur, masuk Islam.

Ia memimpin wilayah Golden Horde di Barat Rusia. Kepemimpinannya kuat dan pasukannya beberapa kali menginvasi Eropa Timur dan menyebabkan Kaisar Byzantium terpaksa memberikan upeti kepadanya. Ketika Hulagu Khan menguasai dan menghancurkan kekhalifahan Islam di Baghdad serta meneruskan invasinya ke Suriah dan Mesir, Berke Khan bekerja sama dengan penguasa Mamluk di Mesir untuk menghadapi sepupunya itu.

Hulagu Khan (w. 1265) yang belakangan bermusuhan dengan Berke Khan merupakan anak Tolui, putera bungsu Jenghis Khan. Hulagu inilah yang menaklukkan Baghdad, meruntuhkan pusat kekhalifahan Islam pada tahun 1258, dan mendirikan Dinasti Ilkhanate di wilayah Persia.

Walaupun tindakannya itu sangat merugikan peradaban Islam, tetapi salah satu anaknya sendiri, yaitu Teguder Ahmad, memutuskan masuk Islam. Teguder Ahmad sempat menjadi pemimpin Ilkhanate dan menjadikannya kesultanan, tetapi dua tahun kemudian ia dikalahkan oleh keponakannya sendiri yang memberontak kepadanya dan mengambil alih kepemimpinan.

Beberapa tahun selepas itu, Ilkhanate kembali dipimpin oleh pangeran Mongol yang Muslim, yaitu Ghazan, dan kemudian berubah menjadi kesultanan Islam.

Banyak cucu dan keturunan Jenghis Khan lainnya yang kemudian juga masuk Islam dan mengadopsi kebudayaan serta peradaban Islam dalam sistem pemerintahan mereka. Ada juga yang tidak masuk Islam, tetapi pengaruh peradaban Islam cukup kuat dalam pemerintahannya, seperti yang terjadi di China misalnya. Dinasti Yuan merupakan dinasti Mongol di China yang pertama kali dipimpin oleh Kubilai Khan. Walaupun para penguasa dan mayoritas penduduknya tidak menganut Islam, tetapi peran kaum Muslimin dalam pemerintahan serta dalam lapangan ilmu pengetahuan dalam Dinasti Yuan sangat menonjol.

Sehingga ketika Dinasti itu melemah dan runtuh, dinasti yang menggantikannya adalah Dinasti Ming yang Muslim.

Tughluk Timur Khan

Tughluk Timur (w. 1363) merupakan keturunan Jenghis Khan yang ketujuh, dari jalur Chagatai. Ia hidup lebih dari satu abad setelah Jenghis Khan. Menjelang masa kepemimpinannya, wilayah kekuasaan keluarga Chagatai terpecah dua, yaitu Transoxiana di sebelah Barat dan Moghulistan di sebelah Timur yang kebanyakan penduduknya menganut Budha atau Shamanisme. Wilayah-wilayah ini pada jaman sekarang ini mencakup wilayah Uzbekistan, Tajikistan, Kyrgystan, Kazakhstan, dan Barat Laut China.

Ketika itu tidak ada pemerintahan yang kuat pada kedua wilayah ini. Seorang amir dari keluarga Dughlat, yaitu Bulaji, memutuskan untuk memilih seorang Khan yang akan dibesarkan untuk menjadi seorang pemimpin di wilayah tersebut. Pilihannya jatuh pada seorang pemuda bernama Tughluk Timur dan dikatakan sebagai anak atau, menurut sejarawan lainnya, keponakan dari khan yang sebelumnya, Esen Buqa (w. 1318).

Tughluk Timur kemudian masuk Islam dan mendorong emir-emirnya yang lain untuk masuk Islam juga. Ia pada awalnya memimpin wilayah Moghulistan, dan belakangan berhasil menyatukan wilayah Transoxiana ke dalam wilayah kekuasaannya.

Sejarah pemerintahan Tughluk Timur dan keturunannya secara khusus tertulis dalam buku Tarikh-i-Rashidi yang disusun oleh Mirza Muhammad Haidar, seorang emir dari keluarga Dughlat. Mirza sendiri sempat memimpin wilayah Kashmir dan meninggal di wilayah itu.

Tarikh-i-Rashidi menceritakan kisah masuk Islam-nya Tughluk Timur. Pada suatu hari, Tughluk Timur yang masih berumur 18 tahun pergi berburu bersama beberapa orang bawahannya.
Ketika itu tampaknya ia baru menjelang diangkat sebagai khan atau pemimpin Moghulistan. Tughluk memerintahkan orang-orang untuk menyertainya berburu, tidak boleh ada yang absen.

Ketika itu, ia melihat ada beberapa orang yang sedang duduk beristirahat tak jauh dari tempatnya berburu. Maka ia pun memerintahkan agar orang-orang ini ditangkap, karena mereka telah melanggar perintahnya untuk ikut serta berburu.

Mereka kemudian dibawa ke hadapan Tughluk Timur. Orang-orang yang ditangkap ini adalah rombongan kecil yang dipimpin oleh Syeikh Jamaluddin, seorang ulama keturunan Tajik. Saat berada di hadapannya, Tughluk bertanya kepadanya, “Mengapa kalian melawan perintah saya?”

Syeikh Jamaluddin kemudian menjawab, “Kami ini orang asing yang meninggalkan reruntuhan kota Katak. Kami tidak mengerti tentang perburuan dan aturan dalam berburu, karena itu kami tidak melanggar perintahmu.”

Apa yang dikatakan Syeikh Jamaluddin memang benar, sehingga Tughluk tidak memiliki alasan untuk menahan atau menghukumnya. Ia pun memutuskan untuk membebaskan mereka. Tapi ymungkin masih ada rasa kesal dalam hatinya terhadap Syeikh Jamaluddin, sehingga ia mengajukan pertanyaan terakhir yang bertujuan menghinakannya. Ketika itu ia sedang memberi makan anjingnya dengan potongan daging babi. Maka ia pun bertanya kepada Syeikh Jamaluddin, “Apakah kamu lebih baik daripada anjing ini; atau anjing ini yang lebih baik daripada kamu?”

Syeikh Jamaluddin memberikan jawaban yang bijak, “Kalau saya memiliki iman, maka saya lebih baik daripada anjing ini; tapi kalau saya tidak memiliki iman, maka anjing ini lebih baik daripada saya.”

Tughluk rupanya terkesan dengan jawaban ini. Setelah selesai dari aktivitasnya, ia memutuskan untuk pulang dan ia memerintahkan anak buahnya untuk menaikkan Syeikh Jamaluddin ke atas kuda dan membawanya untuk menemuinya. Anak buah Tughluk kemudian membawa seekor kuda dan mempersilahkan Syeikh Jamaluddin naik ke atasnya. Saat melihat ada bekas darah babi pada sadel kuda itu, Syeikh Jamaluddin memutuskan untuk berjalan kaki. Tapi karena terus didesak, ia akhirnya mengendarai kuda itu dengan meletakkan sehelai sapu tangan di atas sadel kuda itu.

Saat tiba di hadapan Tughluk, ia kembali ditanya, “Apa itu tadi yang sekiranya dimiliki oleh seseorang ia akan lebih baik daripada anjing?”

“Iman,” jawab Syeikh Jamaluddin. Beliau kemudian menjelaskan apa itu iman dan menjelaskan tentang Islam kepada Tughluk Timur sehingga yang terakhir ini tersentuh dan menangis.
Tughluk kemudian berkata kepada Syeikh Jamaluddin, “Kalau nanti saya menjadi seorang Khan dan memiliki kekuasaan yang mutlak, kamu harus datang lagi kepada saya, dan saya berjanji akan menjadi seorang Muslim.” Ia kemudian menyuruh orang-orangnya untuk membawa pergi Syeikh Jamaluddin dengan penuh penghormatan.

Rupanya tak lama setelah kejadian itu, sebelum Tughluk diangkat menjadi seorang penguasa, Syeikh Jamaluddin meninggal dunia. Namun sebelum meninggalnya, ia menceritakan pengalamannya itu kepada anaknya yang bernama Arshaduddin yang juga alim dan soleh. Ia berpesan kepada anaknya itu, “Karena saya mungkin akan meninggal dunia tak lama lagi, maka hendaknya hal ini menjadi perhatian kamu. Jika pemuda itu menjadi seorang Khan, ingatkan dia tentang janjinya untuk menjadi seorang Muslim; dengan begitu berkah kebaikan ini mudah-mudahan terjadi dengan perantaraanmu, dan karenanya dunia akan menjadi terang benderang (dengan cahaya Islam, pen.).”

Tidak lama setelah itu, Tughluk Timur diangkat menjadi seorang Khan yang berkuasa penuh atas wilayah Moghulistan. Saat mendengar hal ini, Syeikh Arshaduddin segera berangkat ke Moghulistan dan mencari jalan untuk bertemu dengan Tughluk Khan. Tetapi berkali-kali mencoba, ia tetap tidak berhasil menjumpainya.

Ia terus menunggu kesempatan untuk bertemu dengan Khan yang baru diangkat itu. Sementara itu, ia punya kebiasaan melantunkan azan subuh setiap pagi di tempat yang tidak terlalu jauh dari tenda tempat tinggal Tughluk Khan. Pada suatu pagi, Tughluk Khan memanggil seorang pengawalnya dan berkata, “Ada orang yang bersuara keras seperti ini setiap pagi, pergi dan bawalah ia ke sini.”

Syeikh Arshaduddin masih di tengah lantunan azannya ketika pengawal itu datang dan terus menangkap dan membawanya ke hadapan Tughluk Khan. Tughluk kemudian bertanya kepadanya, “Siapa kamu yang selalu mengganggu tidur saya setiap pagi di waktu yang awal ini?”

“Saya putera seseorang yang pada satu ketika dulu Anda berjanji kepadanya untuk menjadi seorang Muslim,” jawab Syeikh Arshaduddin. Ia pun menceritakan apa yang dahulu pernah terjadi antara ayahnya dan Tughluk Khan sehingga yang terakhir ini ingat.

“Engkau diterima,” kata Tughluk Khan, “dan dimana ayahmu?”

“Ayah saya telah meninggal dunia, tetapi ia memberikan amanah misi ini kepada saya,” jawab Syeikh Arshad.

“Sejak saya naik ke tampuk kepemimpinan saya ingat bahwa saya mempunyai sebuah janji, tetapi orang yang saya beri janji itu tidak pernah datang. Sekarang saya menerimamu. Apa yang mesti saya lakukan?”

Maka Syeikh Arshaduddin membimbingnya untuk melakukan wudhu dan mengucapkan kalimat syahadat selepasnya. Kemudian ia mengajarinya hal-hal yang mendasar dalam Islam. Mereka juga sepakat untuk mengajak setiap emir di pemerintahan Tughluk Khan untuk masuk Islam. Satu demi satu emir-emir kepercayaannya diseru kepada Islam dan mereka menerima ajakan ini. Ternyata beberapa emir itu ada yang sudah masuk Islam secara diam-diam sebelumnya. Mereka merahasiakan hal ini karena khawatir Tughluk Khan tidak akan menyukainya.

Keislaman Tughluk Timur Khan telah membawa perubahan besar dalam pemerintahan di Moghulistan. Ia lah yang secara resmi untuk pertama kalinya menjadikan Islam sebagai agama negara di wilayah ini. Semuanya berawal dari pertemuannya dengan seorang Syeikh yang soleh dan mampu menjelaskan kepadanya tentang hakikat iman; bahwa iman itulah yang menentukan nilai kemuliaan seorang hamba dan membedakannya dari seekor hewan. [yy/hidayatullah.com/foto wikipedia.org]
thumbnail

Awal Sebelum Berdirinya Daulah ‘Utsmaniyyah

Orang-orang Utsmani berasal dari keturunan kabilah Turkmenia. Pada permulaan abad ke-7 H bertepatan dengan abad ke-13 M mereka hidup di Kurdistan. Mereka berprofesi sebagai penggembala. Akibat serangan orang-orang Mongol di bawah pimpinan Jengis Khan ke Iraq dan wilayah-wilayah timur Asia Kecil, maka pada 617 H (1220 M) Sulaiman, kakek dari Utsman, melakukan hijrah bersama kabilahnya dari Kurdistan menuju Anatolia. Mereka lalu berdomisili di kota Akhlath.[1]


Pada 628 H (1230 M) Sulaiman meninggal. Setelah itu, putranya yang pertengahan, Erthugrul, menggantikan posisinya. Dia ternu bergerak hingga mencapai barat laut Anatolia. Ikut bersamanya sekitar seratus keluarga dan lebih dari empat ratus penunggang kuda.[2] Ketika Erthugrul, ayah Utsman melarikan diri bersama keluarganya -berjumlah tidak lebih dari seratus keluarga- dari bencana serangan orang-orang Mongol, tibatiba dari kejauhan dia mendengar hiruk-pikuk suara orang yang bertempur. Erthugrul lalu mendekati tempat suara itu. Dia melihat pertempuran sengit antara kaum muslimin dan orang-orang Kristen Romawi. Kemenangan pun hampir saja diraih oleh pasukan Kristen Romawi. Melihat peristiwaitu, Erthugrul segera maju dengan segenap keberanian dan kegigihan untuk menolong saudara-saudaranya seagama dan seakidah. Keberanian Erthugrul ini menjadi sebab kemenangan kaum muslimin atas orang-orang Kristen.[3]

Atas keberanian tersebut, seusai pertempuran komandan pasukan Islam yang bernama Seljuk memberi hadiah kepada Erthugrul dan rombongannya. Dia memberinya sebidang tanah di wilayah barat Anatolia, dekat dengan perbatasan Romawi.[4] Dia juga memberi wewenang kepada Erthugrul untuk memperluas wilayahnya hingga ke wilayah kekuasaan Romawi. Orang-orang Seljuk pun mendapatkan sekutu kuat dalam berjihad melawan Romawi. Maka, terjalinlah persahabatan erat antara negara yang baru tumbuh ini dengan orang-orang Seljuk akibat adanya musuh bernasa dalam akidah dan agama. Persahabatan ini terus berlangsung selama masa hidup Erthugrul, yang wafat pada 699 H (1299 M) .[5] Sepeninggalnya, putranya yang bernama Utsman menggantikan posisinya sebagai pemimpin. Utsman mengikuti kebijakan ayahnya dalam memperluas wilayah kekuasaannya di negeri-negeri Romawi.[6]

Foot Note:

[1] Akhlath adalah sebuah kota di sebelah Timur Turki yang berdekatan dengan Danau Van di Armenia.

[2]  Lihat Qiyam Ad-Daulah Al-’Utsminiyah, h. 26.

[3]  Lihat Jawanib Mudhi’ah fi Tarikh Al-’Utsmaniyyin, Ziyad Abu Ghanimah, h. 36.

[4] Lihat Al-Futuh Al-Islamiyah lbra Al-’Ushur, Dr. Abdul Aziz Al-Umari, h. 353.

[5] Lihat Tarikh Salathin Ali ‘Utsman, karya AI-Qaramani dengan editor Bassam Al-Jabi, h. 10.

[6] Lihat Tarikh Ad-Daulah Al-Aliyyah, Muhammad Farid, h. 115.

Sumber: Buku ‘Sulthan Muhammad al Fatih’, Dr.Ali Muhammad ash Shalabi, Penerbit Pustaka Arafah
thumbnail

Inilah Mobil Mainan Paling Tua, Berumur 7500 Tahun


"Mobil mainan" dipamerkan bersama boneka mainan dan peluit (semuanya terbuat dari batu) di Museum Mardin. Arkeolog Mesut Alp melaporkan bahwa mobil mainan itu paling tidak berusia 7.500 tahun atau bertanggal kembali ke akhir Zaman Batu. Ketika berbicara dengan wartawan dari kantor berita Cihan dan dengan reporter Todays Zaman, Alp bersikeras bahwa benda itu adalah mobil mainan.







Direktur
thumbnail

Kilas Balik dari Kisah PERANG YARMUK

Sejarah kejayaan Islam tak lepas dari amalan jihad yang diperani oleh para pendahulu umat ini. Jihad memiliki kedudukan mulia di dalam Islam. Tentunya, diatas ketentuan yang telah digariskan Allah  dan Rasul-Nya . Bukan aksi teror yang muncul dari semangat tanpa ilmu. Tulisan berikut ini adalah memaparkan gambaran jihad fii sabilillaah di masa Khalifah Abu Bakr Ash-Shiddiq .

Seusai memulihkan kondisi jazirah ’Arab, dengan memerangi kaum murtad dan orang-orang yang menolak membayar zakat, Abu Bakr  berusaha keras memobilisasi pasukan Islam dalam upaya menaklukkan negeri Syam yang termasuk daerah teritorial kerajaan Romawi.


Keadaan Romawi sebelum Peperangan

Ketika pasukan Islam bergerak menuju Syam, tentara Romawi merasa terkejut dan sangat takut. Dengan serta-merta mereka mengirimkan surat yang memberitahukan akan hal tersebut kepada Heraklius, raja Romawi yang berada di Himsh (sekarang dikenal dengan Homs –red). Dia pun melayangkan surat balasan yang berbunyi, ”Celaka kalian! Sesungguhnya mereka adalah pemeluk agama baru. Tidak ada yang bisa mengalahkan mereka. Patuhilah aku, dan berdamailah dengan menyerahkan setengah penghasilan bumi Syam! Bukankah kalian masih memiliki pegunungan Romawi?! Jika kalian tidak mematuhi perintahku, niscaya mereka akan merampas negeri Syam dan akan memojokkan kalian hingga terjepit di pegunungan Romawi.”

Tatkala telah mendapatkan surat balasan seperti ini, mereka (tentara Romawi) tidak mau menerima saran tersebut. Akhirnya, mau tidak mau Raja Heraklius mengirim pasukan dalam jumlah yang besar. Pasukan Romawi mulai bergerak, dan berhenti di lembah Al-Waqusah, di samping sungai Yarmuk yang berdataran rendah dan memiliki banyak jurang.

Kedatangan Khalid bin Al-Walid  dari ‘Iraq

Pasukan Islam yang berada di Syam segera meminta bantuan. Maka Abu Bakr Ash-Shiddiq  memerintahkan Khalid bin Al-Walid  agar menarik diri dari ’Iraq untuk kemudian menuju Syam bersama bala tentaranya. Dengan segera Khalid  menunjuk Al-Mutsanna bin Haritsah v sebagai penggantinya di ’Iraq. Kemudian beliau  bergerak cepat dengan membawa 9.500 personel pasukan menuju Syam. Mereka melalui jalan-jalan yang tidak pernah dilalui seorang pun sebelumnya, dengan menyeberangi padang pasir, mendaki gunung, serta melewati lembah-lembah yang sangat gersang.

Persiapan Pasukan Islam

Abu Sufyan  mengusulkan, layaknya ahli strategi perang, agar pasukan dibagi menjadi tiga formasi. Sepertiga bersiap-siap di depan pasukan Romawi, sepertiga lainnya yang terdiri dari bagian perbekalan dan para wanita agar berjalan, dan sepertiga yang tersisa dipimpin oleh Khalid  di posisi belakang. Jika musuh telah mencapai perkemahan wanita dan perbekalan, Khalid  akan berpindah ke depan kaum wanita, sehingga mereka dapat menyelamatkan diri di belakang pasukan Khalid bin Al-Walid .

Maka mereka pun segera merealisasikan usulan itu. Pasukan Islam mulai berkumpul dan berhadapan dengan musuh pada awal bulan Jumadil Akhir tahun 13 H.

Strategi Pasukan Islam

Pasukan Islam kala itu jumlahnya berkisar antara 36 ribu sampai dengan 40 ribu personel tentara. Didalamnya terdapat seribu orang shahabat Nabi  . Seratus orang dari mereka adalah para veteran perang Badar. Abu ’Ubaidah ibnul Jarrah (namanya Hanzholah bin Ath-Thufail) memimpin posisi tengah pasukan. ’Amru bin Al-’Ash  dan Syarahbil bin Hasanah  memimpin sayap kanan pasukan. Sedangkan pemimpin sayap kiri pasukan adalah Yazid bin Abi Sufyan (dia dikenal dengan sebutan Yazid Al-Khoir).

Khalid  membawa kudanya ke arah Abu ’Ubaidah  dan berkata, ”Aku akan memberikan usul.” Abu ’Ubaidah  menjawab, ”Katakanlah, aku akan mendengar dan mematuhinya.” Khalid  kembali berkata, ”Musuh pasti menyiapkan pasukan besar untuk membobol pertahanan pasukan kita. Aku khawatir pertahanan sayap kiri dan kanan akan kebobolan. Menurutku, pasukan berkuda harus dibagi menjadi dua kelompok. Satu pasukan ditempatkan di belakang sayap kanan, dan yang lain ditempatkan di belakang sayap kiri. Apabila musuh berhasil menembus pertahanan sayap kiri atau kanan, para pasukan berkuda berperan membantu mereka. Lalu kita datang menyerbu dari belakang.” Abu ’Ubaidah  berkomentar, ”Alangkah jitu usulmu itu!”

Khalid bin Al-Walid  pun memerintahkan agar Abu ’Ubaidah ibnul Jarrah  pindah ke posisi belakang. Hal ini agar jika ada tentara Islam berlari mundur, ia akan malu saat melihatnya kemudian kembali ke kancah pertempuran. Kemudian Khalid  menginstruksikan agar para wanita bersiap-siap dengan pedang, pisau belati, dan tongkat. Khalid  berkata, ”Siapa saja yang kalian jumpai melarikan diri dari medan pertempuran, bunuh dia!”

Strategi Pasukan Romawi

Setelah menerima bantuan personel dari pusat, pasukan Romawi maju dengan kesombongan membawa 240 ribu personel. 80 ribu pasukan pejalan kaki, 80 ribu pasukan berkuda, dan 80 ribu pasukan yang diikat dengan rantai besi (setiap sepuluh tentara diikat menjadi satu agar tidak lari dari peperangan).

Mereka bergerak hingga menutupi seluruh tempat yang ada seakan-akan mereka adalah awan hitam. Mereka berteriak-teriak, mengangkat suara tinggi-tinggi, sementara para pendeta, uskup, maupun pihak gereja mengelilingi pasukan membacakan Injil sambil memotivasi mereka agar gigih dalam berperang.

Pasukan lini depan dipimpin oleh Jarajah (George), sayap kiri dan kanan dipimpin oleh Mahan dan Ad-Daraqus. Pasukan penyerang dipimpin oleh Al-Qolqolan, menantu Heraklius. Adapun pimpinan tertinggi pasukan ini adalah saudara kandung Heraklius yang bernama Tadzariq.

Perundingan sebelum meletusnya Pertempuran

Abu ’Ubaidah dan Yazid bin Abi Sufyan maju ke arah pasukan Romawi dengan membawa Dhirar bin Al-Azur, Al-Harits bin Hisyam dan Abu Jandal bin Suhail  untuk bertemu dengan Tadzariq yang tengah duduk di dalam tenda yang terbuat dari sutera.

Para shahabat  berkata, ”Kami tidak dihalalkan memasuki tenda ini.” Maka dibentangkanlah karpet dari sutera dan mereka dipersilahkan untuk duduk di atasnya. Para shahabat  berkata, ”Kami tidak diperbolehkan duduk di atasnya.” Akhirnya Tadzariq duduk di tempat yang mereka inginkan. Para shahabat  mendakwahinya agar masuk Islam, namun perundingan ini berakhir tanpa hasil. Akhinya mereka pun kembali ke barisan pasukan. Pemimpin sayap kiri Romawi yang bernama Mahan ingin bertemu dengan Khalid bin Al-Walid  di antara dua pasukan yang saling berhadapan. Mahan berkata, ”Kami mengetahui bahwa kemiskinan dan kelaparanlah yang mengeluarkan kalian dari negeri kalian. Maukah kalian jika aku beri sepuluh dinar untuk setiap tentara beserta makanan dan pakaian, lalu kalian pulang ke negeri kalian? Dan pada tahun depan aku akan memberikan jatah yang serupa?”

Khalid bin Al-Walid  menjawab, ”Sesungguhnya, bukanlah yang mengeluarkan kami dari negeri kami apa yang engkau sebutkan tadi. Tetapi sebenarnya kami adalah sekelompok manusia peminum darah. Dan telah sampai berita kepada kami bahwa tidak ada darah yang lebih segar daripada darah kalian, bangsa Romawi. Untuk itulah kami datang kesini!” Mendengar jawaban itu para sahabat Mahan berucap, ”Demi Allah, ucapan tersebut baru pertama kali kita dengar dari bangsa ’Arab.”

Jalannya Pertempuran

Pasukan Romawi pada perang ini keluar dalam jumlah besar yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Khalid  juga membawa pasukan besar yang tidak pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah ’Arab. Tatkala persiapan sudah matang, Khalid  memerintahkan untuk memulai dengan perang tanding. Mulailah para jagoan Islam di tiap pasukan maju hingga membuat suasana memanas. Sementara Khalid  berdiri menyaksikan laga tersebut.

Ditengah suasana yang sudah memanas, pemimpin pasukan lini depan Romawi yang bernama Jarajah ingin bertemu dengan Khalid  di tengah dua pasukan. Ia bertanya mengenai agama Islam, maka Khalid  memberitahukan dakwah Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad. Akhirnya, Jarajah masuk Islam, membalikkan sisi perisainya dan masuk ke dalam barisan pasukan Islam.

Melihat pembelotan Jarajah, pasukan Romawi menyerbu ke barisan kaum muslimin. Mahan memerintahkan pasukan sayap kanan menyerang menerobos pertahanan sayap kanan pasukan Islam. Kaum muslimin tetap tegar berjuang di bawah panji-panji mereka, hingga berhasil membendung serangan musuh.

Setelah itu, pasukan besar Romawi datang lagi bak gunung besar yang berhasil memporak-porandakan pasukan sayap kanan, hingga pasukan Islam beralih ke tengah. Tak lama kemudian, mereka saling memanggil agar kembali ke medan laga hingga berhasil memukul mundur kembali. Adapun para wanita, tatkala melihat ada tentara Islam yang lari mundur, mereka segera memukulinya dengan kayu, atau melemparinya dengan batu sehingga tentara tersebut kembali ke kancah peperangan.

Kemudian Khalid  beserta pasukannya yang berada di sayap kiri menerobos ke sayap kanan yang kebobolan diserang musuh, hingga berhasil membunuh enam ribu tentara Romawi. Lalu Khalid  membawa seratus pasukan berkuda menghadapi seratus ribu tentara Romawi hingga berhasil meluluhlantakkan pasukan musuh.

Pada hari itu, begitu terlihat kegigihan, kesabaran, dan kepahlawanan tentara-tentara Islam hingga pasukan Romawi berputar-putar seperti penumbuk gandum. Mereka tidak melihat, pada perang itu, melainkan kepala-kepala yang berterbangan, tangan-tangan maupun jari-jari yang terpotong, serta semburan darah yang membasahi medan laga.

Ketika itulah, seluruh pasukan Islam menyerbu dengan serentak, untuk kemudian dengan leluasa menghabisi musuh tanpa ada perlawanan sedikit pun. Jarajah pun akhirnya terluka parah dan meninggal dunia. Padahal beliau belum pernah shalat sekalipun, kecuali dua raka’at yang dikerjakan (diajarkan) oleh Khalid  ketika baru/awal masuk Islam.

Peperangan ini berawal dari siang hingga malam, sampai kemenangan diraih oleh Islam dan kaum muslimin. Malam itu, pasukan Romawi berlari dalam kegelapan. Adapun pasukan Romawi yang diikat rantai besi, jika salah seorang dari mereka terjatuh, maka terjatuhlah seluruhnya. Malam itu, Khalid  bermalam di kemah Tadzariq, pimpinan tertinggi pasukan Romawi.

Pasukan berkuda berkumpul di sekitar kemah Khalid  menunggu tentara Romawi yang lewat untuk dibunuh hingga waktu pagi tiba. Tadzariq pun terbunuh. Telah terbunuh pada hari itu 120.000 lebih pasukan Romawi. Adapun tentara Islam yang gugur di medan perang sebanyak tiga ribu pasukan. Kaum muslimin mendapat harta pampasan yang begitu banyak pada perang ini.

Demikianlah, kejayaan yang diraih oleh umat Islam tatkala mereka kokoh diatas kemurnian ibadah kepada Allah  dan berpegang teguh kepada sunnah (ajaran) Rasul-Nya . Sebagaimana firman Allah  (yang artinya):

”Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal sholih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (An-Nur: 55)

Wallahu a’lam bish showab.
thumbnail

Kitab Al-Manazhir, Karya Perdana di Bidang Optik

Siapa yang tak mengenal optik? Cabang ilmu fisika yang menggambarkan sifat cahaya dan interaksi cahaya dengan materi itu sudah diperkenalkan sejak sekolah dasar (SD). Studi optik moderen pertama kali dibahas oleh ilmuwan Muslim bernama Ibnu Haitham dalam karyanya bertajuk Kitab al-Manazhir (Kitab Optik).

Kitab yang ditulis pada abad ke-11 M itu terdiri dari tujuh volume. Isinya tak melulu membahas masalah optik. Dalam kitab ini, al-Haitham juga membahas dan mengkaji tentang fisika, matematika, anatomi, mekanik, astronomi dan psikologi. Namun, studi tentang optik mendapat perhatian dan porsi yang lebih banyak dalam  Kitab al-Manazhir.
Dalam bahasa Latin, Kitab Optik juga dikenal sebagai De Aspectibus or Opticae Thesaurus: Alhazeni Arabis.  Al-Haitham atau Alhacen yang juga ilmuwan agung dari Persia itu menulis Kitab al-Manazhir saat berada di dalam tahanan di Kairo, Mesir pada tahun 1011 hingga 1021 M.

Buku Optik ini memiliki pengaruh penting pada pengembangan ilmu optik,  karena telah menjadi pijakan dan landasan fisika tentang optik moderen. Lewat kitab inilah pemahaman mengenai cahaya dan penglihatan menjadi lebih terbuka. Selain itu, Kitab al-Manazhir juga  telah memperkenalkan  percobaan  dengan metode ilmiah.

M El Gomati M al-Amri Salih dalam tulisannya berjudul The Miracle of Light, menyejajarkan Kitab Optik karya al-Haitham dengan Philosophiae Naturalis Principia Mathematica buah karya ilmuwan Barat terkemuka Isaac Newton. “Kitab al-Manazhir menjadi salah satu buku yang paling berpengaruh dalam sejarah fisika,” tutur al-Amri Salih.

AI Sabra dan JP Hogendijk, dalam karyanya The Enterprise of Science in Islam: New Perspectives memuji kehebatan Kitab al-Manazhir. Keduanya menganggap Kitab Optik telah melakukan sebuah revolusi di bidang optik dan persepsi visual secara luas. Hal itu juga diakui pula oleh Gary Hatfield dalam karyanya Was the Scientific Revolution Really a Revolution in Science?

Sementara itu, Fokko Jan Dijksterhuis dalam karyanya Lenses and Waves:Christian Huygens and the Mathematical Science of Optics in the Seventeenth Century menuturkan, Ibnu al-Haitham lewat Kitab Optik telah memasukan konsep physico-matematika dalam bidang optik pada era yang lebih awal daripada disiplin yang lain, seperti astronomi dan mekanik.

Steffens mengatakan, Kitab Optik juga berisi diskusi dan penjelasan psikologi dari persepsi visual dan ilusi optik awal. Secara khusus, Omar Khaleefa dalam karyanya Who Is the Founder of Psychophysics and Experimental Psychology? menegaskan bahwa Kitab al-Manazir juga mencakup kajian percobaan psikologi.

“Tak hanya itu, buku ini juga memberikan deskripsi akurat yang pertama tentang kamera obscura, sebuah pelopor kamera modern,” ungkap  Nicholas J Wade dan Stanley Finger dalam karyanya bertajuk The eye as an optical instrument: from camera obscura to Helmholtz’s perspective.

Bashar Saad, Hassan Azaizeh dan Omar Said dalam karyanya bertajuk “Tradition and Perspectives of Arab Herbal Medicine: A Review” menjelaskan bahwa Ibnu Haitham juga mengupas masalah pengobatan dan ilmu pengobatan mata. Bagi mereka, Kitab al-Manazhir telahmenndorong dan membuat kemajuan penting dalam operasi mata. “Buku ini dengan benar menjelaskan proses melihat untuk pertama kalinya,” papar mereka.

Kitab al-Manazhir mendapat pujian dari banyak sejarawan sains Barat. “Alhacen malahan sangat sukses mengembangkan teori yang menjelaskan proses penglihatan oleh sinar terang yang dilanjutkan ke mata dari setiap titik pada obyek yang ia dibuktikan melalui eksperimen,” ungkap DC  Lindberg dalam karyanya bertajuk Theories of Vision from al-Kindi to Kepler.

GJ Toomer dalam Review: Ibn al-Haythams Weg zur Physik by Matthias Schramm, mengungkapkan, perpaduan optik geometrik dengan bentuk falsafah fisika yang dikupsa dalam Kitab al-Manazhir telah  membentuk dasar optik modern.
Dr Mahmoud Al Deek dalam karyanya Ibn Al-Haitham: Master of Optics, Mathematics, Physics and Medicine,  menuturkan bahwa Ibnu al-Haitham dalam Buku Optik-nya telah membuktikan perjalanan sinar terang di garis lurus. Selain itu, di buku itu juga diungkapkan mengenai sejumlah percobaan dengan lensa, cermin,  pembiasan, dan refleksi.

“Ia (al-Haitham) adalah orang pertama yang mengurangi refleksi dan pembelokan sinar cahaya ke komponen vertikal dan horisontal yang mendasar dalam pengembangan optik geometri,” cetus Albrecht Heeffer dalam karyanya Kepler’s Near Discovery of the Sine Law: A Qualitative Computational Model.

Al-Haitham juga menemukan teori yang mirip dengan hukum sinus Snell, tutur AI Sabra dalam karyanya Theories of Light from Descartes to Newton. ”Namun tidak mengukur dan berasal dari hukum matematis,” katanya.

Menurut KB Wolf dalam karyanya “Geometry and dynamics in refracting systems, pemikiran Ibnu al-Haitham dalam Buku Optik tak seperti ilmuwan kontemporer (ilmuwan sebelumnya).  J Wade dan Finger, menegaskan, Ibnu al-Haitham sangat dihargai dan dihormati berkat penemuan kamera obscura dan kamera pinhole. Ilmuwan hebat ini juga menulis  pembiasan cahaya, terutama pada pembiasan atmospheric, penyebab pagi dan senja sore.

Dalam Buku Optik-nya, al-Haitham juga berhasil memecahkan masalah dengan mencari titik pada cermin cembung pada sebuah sinar yang berasal dari satu titik yang memantulkan ke titik lain. “Dia juga melakukan percobaan pada penyebaran cahaya ke dalam komponen warna,”  papar Al Deek.

Sejarawan Sains JJ O’Connor dan Edmund F Robertson, dalam karyanya Abu Ali al-Hasan Ibnu al-Haitham, mengatakan, Ibnu al-Haitham melakukan percobaan pada kecepatan terbatas cahaya. “Ibnu al-Haitham juga menemukan bahwa cahaya adalah variabel dan bergerak lambat dalam benda yang padat,” jelas O’Connor dan Robertson. Hamarneh menambahkan, Ibnu Al-Haitham berspekulasi pada perambatan garis lurus dan aspek electromagnetik cahaya.

Dalam Kitab Al-Manazhir,  Ibnu Haitham juga telah menjelaskan mengenai  warna matahari terbenam serta beragam fenomena fisika seperti bayangan, gerhana, dan pelangi, dan spekulasi pada fisik alami cahaya.

Ia diyakini sebagai orang pertama yang menjelaskan secara akurat berbagai bagian mata dan memberikan penjelasan ilmiah dari proses penglihatan. Dia juga berusaha untuk menjelaskan penglihatan binocular (teropong dua lensa) dan penambahan nyata pada ukuran matahari dan bulan ketika dekat kaki langit.

Keunggulan Kitab Al-Manazhir

Berikut ini adalah penjelasan Ibnu al-Haitham dalam Kitab al-Manazhir yang terbukti kebenarannya berdasarkan optik modern:

“Dia menjelaskan bahwa penglihatan merupakan hasil dari cahaya menembus mata dari benda, dengan demikian merupakan bantahan terhadap kepercayaan kuno yang mengatakan bahwa sinar penglihatan datang dari mata.”

“Dia menunjukkan bahwa wilayah kornea mata adalah lengkung dan dekat dengan conjunctiva/penghubung, tetapi kornea mata tidak bergabung dengan conjunctiva.”

“Dia menyarankan bahwa permukaan dalam kornea pada titik di mana ia bergabung dengan foramen mata menjadi cekung sesuai dengan lengkungan dari permukaan luar. Tepi-tepi permukaan foramen dan bagian tengah daerah kornea menjadi bahkan namun tidak satu. “

”Dia terus berupaya oleh penggunaan hiperbola dan geometri optik ke grafik dan merumuskan dasar hukum pada refleksi/penyebaran, dan dalam atmospheric dan pembiasan sinar cahaya. Dia berspekulasi  dalam bidang electromagnetic cahaya, yakni mengenai kecepatan, dan perambatan garis lurus. Dia merekam pembentukan sebuah gambar dalam kamera obscura saat gerhana matahari (prinsip dari kamera pinhole).”

”Ia menyatakan bahwa lensa adalah bagian dari mata yang pertama kali merasakan penglihatan.”

”Dia berteori  mengenai bagai mana foto dikirim melalui saraf optik ke otak dan membuat perbedaan antara tubuh yang bercahaya dan yang tidak bercahaya.”

Sang Penulis Kitab Optik

Sejatinya, ia bernama lengkap Abu Ali Muhammad al-Hassan Ibnu al-Haitham atau Ibnu Haitham. Ilmuwan kesohor itu lahir di Basrah (kini Irak) sekitar tahun 965 M dan wafat di Kairo sekitar tahun 1039 M. Ia juga dikenal di kalangan ilmuwan Barat, dengan nama Alhazen. Ia merupakan seorang ilmuwan Islam yang ahli dalam bidang sains, falak, matematika, geometri, pengobatan, dan filsafat.

Ibnu al-Haitham telah banyak melakukan penyelidikan mengenai cahaya, dan telah memberikan ilham kepada ahli sains barat seperti Boger, Bacon, dan Kepler dalam menciptakan mikroskop serta teleskop.

Karena kehebatannya dalam menjabarkan optik,  RL Verma dalam karyanya Al-Hazen: father of modern optics, menabalkan Ibnu al-Haitham sebagai “Bapak optik moderen”. Rosanna Gorini dalam karyanya bertajuk “Al-Haytham the Man of Experience, menyebut Ibnu al-Haitham  sebagai pelopor  metode ilmiah moderen.

Tak hanya itu, Ibnu al-Haitham juga dijuluki sebagai pendiri percobaan fisika. Hal ini dijelaskan oleh Rüdiger Thiele dalam karyanya In Memoriam: Matthias Schramm”, Arabic Sciences and Philosophy.

Ibnu al-Haitham juga dianggap sejumlah orang sebagai penemu percobaan psikologi, untuk karya pertamanya dalam psikologi persepsi visual dan ilusi optik. Ibnu al-Haitham membuat banyak laporan subyek berhubungan dengan penglihatan, karena itu ia dianggap sebagai psikolog pertama.

Kehebatan-kehebatannya inilah yang membuatnya disebut sebagai “ilmuwan pertama”. Secara lugas Bradley Steffens menyebut al-Haitham sebagai The First Scientists.she/des

sumber: Republika.
thumbnail

Antara Saya, Abu Sufyan, Dan Hindun

Oleh: Abdul Hakim

BAGIAN yang sulit saya terima ketika membuka shirah nabawiah adalah saat peristiwa fathul makah. Peristiwa dimana kaum muslimin berhasil kembali ke kota pertama dakwah Islam dijalankan Muhammad. Kota yang menjadi saksi peristiwa-peristiwa penting di awal kenabian Muhammad SAW.

Fathul makah sendiri merupakan peristiwa penting untuk kemajuan Islam. Dapat dibayangkan perasaan bahagia mendalam para sahabat Nabi. Belum lekang dari ingatan mereka suasana duka yang mendalam saat terpaksa harus keluar dari mekah. Terusir, terpisah dengan sanak keluarga, menempuh gersangnya sahara, melangkah menjauh dari tempat mereka menghabiskan hari demi hari. Setiap jengkal kota mekah teramat memberikan kenangan mendalam.
Dan hari itu mereka kembali. Bukan sebagai pecundang, namun sebagai pemenang yang dengan lantang dan gagah memasuki tanah mekah.

Ketakutan pun menyelimuti kaum kafir quraisy. Penyiksaan-penyiksaan yang telah mereka lakukan akan berbalas, penindasan, pembunuhan dan kesewenang-wenangan mereka akan menuai hasil. Tidak ada lagi tempat untuk berlari. Tidak ada lagi keselamatan kecuali dengan terpaksa menerima Islam. Kurang lebih seperti itulah yang ada dibenak kaum kafir quraisy kala itu.

Namun, apa yang dilakukan Nabi Muhammad sungguh jauh dari sangkaan. Tidak ada pertumpahan darah karena kesemena-menaan, tidak ada satu hati pun yang dipaksa untuk berislam, bahkan keselamatan dan perlindungan yang mereka dapatkan. Satu hal yang sangat diluar sangkaan adalah penyataan Nabi bahwa barang siapa yang berhimpun di Abu Sofyan kala itu maka mereka termasuk yang “selamat”. Sampai disini saya tertegun. Hati kecil seolah-olah tak dapat menerima. Bukankah Abu Sofyan begitu memusuhi Islam! Bukankah Abu sofyan telah memusuhi nabi dengan hebatnya. Kenapa tak diperintahkan saja untuk membunuhnya?! lupakah Rasulullah ketika Hindun istri Abu Sufyan mengunyah-ngunyah jantung Hamzah paman yang teramat dicintainya! Lupakah Rasulullah betapa pilunya peristiwa bukit uhud

Simaklah sekelumit peristiwa fathul makkah :

Abu Sufyan segera berlari menuju Makkah. Setibanya di sana, ia langsung berteriak sekuat tenaga, ”Wahai segenap kaum Quraisy, sesungguhnya Muhammad telah tiba di sini. Ia membawa pasukan yang tidak mungkin kalian lawan, maka menyerahlah. Dan, siapa yang masuk ke rumah Abu Sufyan, berarti dia selamat.”

Mendengar teriakan suaminya, Hindun segera mendekat dan memegang kumisnya, seraya berkata, ”Bunuh saja orang yang sama sekali tidak berguna ini. Engkau adalah seorang tokoh yang sungguh memalukan!”

Abu Sufyan membalas, ”Wahai segenap orang Quraisy, jangan termakan oleh ucapan wanita ini. Aku tidak main-main. Muhammad datang dengan pasukan yang tidak mungkin kalian lawan. Siapa yang masuk rumah Abu sufyan, maka dia selamat.”

Orang-orang Quraisy berkata, ”Celakalah engkau! Bagaimana mungkin rumahmu cukup menampung kami semua?”

Abu Sufyan berkata lagi, ”Siapa yang masuk ke dalam rumahnya, maka dia selamat. Dan siapa yang masuk ke dalam masjid, maka dia selamat.”

Mendengar keterangan tersebut, orang-orang Quraisy segera berhamburan menuju rumah masing-masing dan masjid.

 Di saat-saat seperti itulah, Islam masuk ke dalam hati Abu Sufyan. Ia menemui Rasulullah Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam dan berkata, ”Wahai Rasulullah, hancurlah sudah Quraisy. Besok, yang tersisa dari Quraisy tinggal namanya saja.”

Rasulullah berkata, ”Siapa yang masuk rumah Abu Sufyan, maka dia selamat. Siapa yang meletakkan senjata, maka dia selamat. Dan siapa yang masuk ke dalam rumahnya, maka dia selamat.”

Dan demikianlah, Rasulullah sudah memaafkan Abu Sufyan. Salah satu tokoh yang berperan besar dalam menyakiti kaum muslimin dipermulaan dakwah Rasulullah. Dan bagaimanakah nasib Hindun. Bagaimanakah nasib perempuan yang telah melumat jantung paman kesayangan Muhammad. Berikut petikan peristiwa setelah fathul makkah :

Tak lama berselang setelah pasukan muslimin memasuki kota mekkah, Hindun mengutarakan keinginannya untuk memeluk Islam pada Abu Sufyan,

Abu Sufyan menjawab, ”Kemarin, aku melihat engkau sangat benci mengucapkan kata-kata seperti itu.”

Hindun berkata, ”Demi Allah, aku tidak pernah melihat pemandangan manusia menyembah Allah dengan sebenar-benarnya di dalam masjid, seperti yang kulihat tadi malam. Demi Allah, mereka datang ke sana, lalu menunaikan shalat; berdiri, ruku’, dan sujud.”…

Setelah membai’at kaum laki-laki, Rasulullah membaiat kaum wanita. Di antara wanita-wanita yang berbai’at, terdapat Hindun binti ’Utbah. Ia datang memakai pakaian yang tertutup. Ia takut dikenali oleh Rasulullah Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam karena tindakannya terhadap Hamzah dimasa lalu.

Rasulullah Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam berkata, ”Aku meminta kalian berjanji untuk tidak menyekutukan apa pun dengan Allah (syirik).” Umar menyampaikan yang dikatakan Rasulullah kepada kaum wanita dan memastikan jawaban mereka.

Rasulullah melanjutkan, ”Dan tidak boleh mencuri.”

Tiba-tiba Hindun menyela, ”Sesungguhnya Abu Sufyan sangat kikir. Bagaimana jika aku mengambil sebagian hartanya tanpa dia ketahui?”

Abu Sufyan yang berada tidak jauh dari tempat tersebut menimpali, ”Semua yang engkau ambil telah kuhalalkan.”

Mendengar dialog tersebut, Rasulullah Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam tersenyum dan langsung mengenalinya. Beliau berkata, ”Engkau pasti Hindun?”

Hindun menjawab, ” Benar. Maafkanlah segala kesalahanku di masa lalu, wahai Nabi Allah. Semoga Allah mengampunimu.”

Rasulullah Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam melanjutkan, ”Dan tidak boleh berzina.”

Hindun menyela, ”Apakah wanita merdeka suka berzina?”

Rasulullah Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam berkata lagi, ”Dan tidak boleh membunuh anak-anak kalian.”

Hindun berkata, ”Kami telah bersusah payah membesarkannya, tapi setelah besar, kalian membunuhnya. Kalian dan mereka lebih mengetahui tentang hal ini.”

Mendengar pernyataan tersebut, Umar tertawa sampai berbaring, sedangkan Rasulullah Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam tersenyum.

Rasulullah berkata lagi, ”Dan tidak boleh membuat tuduhan palsu.”

Hindun berkata, ”Demi Allah, tuduhan palsu adalah perbuatan yang sangat jelek. Engkau menyuruh kami untuk melakukan perbuatan baik dan akhlak yang mulia.”

Rasulullah Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam melanjutkan, ”Dan tidak boleh mendurhakaiku dalam perkara yang baik.”

Hindun berkata, ”Demi Allah, saat kami datang di tempat ini, kami sama sekali tidak menyimpan niat untuk mendurhakaimu.”

Itulah sekelumit dari peristiwa fathul makkah, secara emosi sangat sulit saya menerima perlakuan Rasulullah terhadap Abu Sufyan dan Hindun. Tapi begitulah Rasulullah mengajarkan kita, bahwa emosi tidak boleh mengalahkan iman. Walaupun memang sangat sulit untuk kita lakukan. Dan lihatlah buah dari kebijakan Rasulullah terhadap Abu sufyan dan Hindun. Sejarah telah mencatat Abu Sufyan termasuk pejuang Islam dan perawi hadist yang diperhitungkan. Dan Simaklah sepenggal jejak Hindun pada perang Yarmuk:

Ibnu Jarir menyatakan, ”Pada hari itu, kaum muslimin bertempur habis-habisan. Mereka berhasil menewaskan pasukan Romawi dalam jumlah yang sangat besar. Sementara itu, kaum wanita menghalau setiap tentara muslim yang terdesak dan mundur dari medan laga. Mereka berteriak, ’Kalian mau pergi ke mana? Apakah kalian akan membiarkan kami ditawan oleh pasukan Romawi?’ Siapa pun yang mendapat kecaman yang pedas seperti itu, pasti kembali menuju kancah pertempuran.”

Tentara muslim yang sebelumnya hampir melarikan diri, kemudian bertempur kembali membangkitkan semangat pasukan yang lain. Mereka benar-benar terbakar oleh kecaman pedas yang diteriakkan oleh kaum wanita, terutama Hindun binti ’Utbah. Dalam suasana seperti itu, Hindun menuju barisan tentara sambil membawa tongkat pemukul tabuh dengan diiringi oleh wanita-wanita Muhajirin. Hindun membaca bait-bait puisi yang pernah dibacanya dalam perang Uhud.

Tiba-tiba, pasukan berkuda yang berada di sayap kanan pasukan muslim berbalik arah, karena terdesak musuh. Melihat pemandangan tersebut, Hindun berteriak, ”Kalian mau lari ke mana? Kalian melarikan diri dari apa? Apakah dari Allah dan surga-Nya? Sungguh, Allah melihat yang kalian lakukan!” Hindun juga melihat suaminya, Abu Sufyan, yang berbalik arah dan melarikan diri. Hindun segera mengejar dan memukul muka kudanya dengan tongkat seraya berteriak, ”Engkau mau ke mana, wahai putra Shakhr? Ayo, kembali lagi ke medan perang! Berjuanglah habis-habisan agar engkau dapat membalas kesalahan masa lalumu, saat engkau menggalang kekuatan untuk menghancurkan Rasulullah Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam.”

Zubair bin Al-’Awwam yang melihat semua kejadian itu berkata, ”Ucapan Hindun kepada Abu Sufyan itu mengingatkanku kepada peristiwa Perang Uhud, saat kami berjuang di depan Rasulullah Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam.”

Zubair melanjutkan, ”Saat itu juga, Abu Sufyan membelokkan kudanya dan kembali menuju medan laga. Langkahnya segera diikuti oleh pasukan muslim lainnya. Aku juga melihat kaum wanita bergabung dengan mereka, bahkan bergerak lebih dulu. Aku terkejut ketika ada seorang wanita yang menyerang tentara Romawi yang perawakannya tinggi besar dan menunggang kuda. Wanita itu menarik tubuh tentara tersebut hingga berhasil menjatuhkannya, lalu ia membunuhnya sambil berteriak, ’Inilah bukti yang nyata pertolongan Allah kepada kaum muslimin’.”

Kurang lebih satu minggu yang lalu saya mendapat pesan dari mentor, guru sekaligus sahabat saya. ”Kita terkadang terlanjur memberikan cap si fulan buruk seperti ini. Si fulanah buruk seperti itu. Dan itu berlaku terus menerus. Seolah-olah si fulan takkan berubah. Dan si fulanah akan berlaku seperti itu selamanya.”

Saya tertegun dan melihat kedalam. Ya. Begitulah saya tepatnya selama ini. Emosi terkadang dominan menguasai penilaian. Hingga kesalahan seseorang dimasa lalu menjadi faktor dominan penilaian. Atau mungkin menjadi “faktor mati” dalam menilai. Sehingga seolah-olah orang itu takkan pernah berubah. Jika hitam, maka hitamlah selamanya. Jika buruk maka buruklah selamanya. Walaupun orang tersebut telah menyadari keburukannya, berupaya untuk memperbaiki dirinya sehingga mungkin dia lebih mulia dan lebih baik daripada saya dalam pandangan Allah dan Rasul-Nya.

Astaghfirullah, seharusnya saya bisa melihat apa yang ingin Rasulullah sampaikan lewat perlakuan dia terhadap Abu Sufyan dan Hindun.

Astaghfirullah hal adzhim, ampuni dosa hamba Mu ya Allah untuk semua hilaf dan dengki dalam hati…

Astaghfirullah hal adzhim, untuk semua emosi yang kadang lebih dominan dari keimanan pada Mu ya Allah…