Website Iklan Tayang Selamanya
Selamat datang di situs web periklanan jaringan unikbaca.com "Semoga Hari Anda Selalu Menyenangkan!"
Setidaknya satu iklan Anda posting juga di situs web iklan ini!
Agar pengunjung atau pengakses dapat mencari dan tahu usaha Anda
📝 POSTING Hari ini DISKON 50%

Tampilkan postingan dengan label Suriah Terkini. Tampilkan semua postingan
thumbnail

Adik Hasan Nasrallah Dan Lebih Dari 480 Tentara ‘Hizbullah’ Tewas Di Qusayr

Khidir Nasrallah saat pemakaman, Foto : Islam Memo

Mujahidin suriah telah mengkonfirmasi kepada Tim Media Forum Indonesia Peduli Syam (FIPS) bahwa pada hari Jum’at (07/06/2013). Mereka menyatakan jumlah tentara Hizbullah yang mati di Qusayr sebanyak 480 orang.

Jumlah ini terus bertambah hingga hari ini Minggu (08/06/2013). Diantara jumlah yang mati tersebut terdapat adik dari Hasan Nasrallah Sekjend organisasi yang disebut Yusuf Qardhawi sebagai Hizbusyaiton. Yaitu Khidir Nasrallah.

Kabar kematian adik Hasan Nasrallah ini juga dirilis oleh situs Islammemo.

Hingga berita ini diturunkan, Mujahidin Suriah sedang mundur dari front pertempuran sebagai bagian dari strategi. Hal ini dikarenakan subsidi amunisi yang habis. Para Mujahidin akan kembali barisan depan perlawanan Qusayr setelah cukup mengumpulkan amunisi baru secara kolektif.

Strategi mundur ini juga digunakan untuk memfokuskan para Mujahidin mengevakuasi masyarakat sipil di Qusayr. Saat ini bukan hanya Mujahidin, tapi rakyat sipil, wartawan hingga tim medis juga menjadi sasaran tentara rezim Suriah.

“Jika Qusayr sudah aman dari warga sipil, kami akan beritahu Hizbullah apa arti kemenangan sebenarnya.” Jelas seorang pejuang oposisi dilansir situs berita Al Moktsar, Minggu (09/06/2013).(bumisyam)
thumbnail

Mufti Besar Arab Saudi Dukung Yusuf Qardhawi Kecam Syiah Iran


Mufti Besar Arab Saudi Abdul Aziz al Sheikh pada hari Kamis 06/06 memuji sikap ulama Sheikh Yusuf Qardhawi beberapa waktu lalu yang mengecam Iran dan Hizbullah, lapor Al Arabiya.

Sheikh Qardhawi, presiden Persatuan Ulama Muslim Internasional itu pada Sabtu lalu mengecam milisi Syiah Libanon (Hizbullah) yang ikut campur dalam konflik di Suriah. Qardawi kemudian menyerukan Jihad melawan Hizbullah.

Dalam pidatonya di DOha, Qatar, Qardhawi mengatakan "Setiap muslim yang yang terlatih berperang dan mampu harus bersedia berjihad melawan Asad dan Hizbullah di Suriah."

"Iran sudah mengirimkan persenjataan dan tentaranya, jadi mengapa kita hanya berdiri saja?" Tanyanya. Ia menggambarkan milisi Syiah Hizbullah (tentara Allah_red) sebagai "partai setan".

"Pemimpin partai setan datang untuk memerangi Sunni.... sekarang kita tahu apa yang diinginkan Iran... Mereka ingin pembantaian untuk membunuh Sunni berlanjut," kata Qardhawi.

"Bagaimana mungkin 100 juta Syiah (di seluruh dunia) mengalahkan 1,7 miliar (Sunni)? Hanya karena (Sunni) Muslim yang lemah."

Sebelumnya Qardhawi pernah menyampaikan dukungan kepada Hizbullah dan Iran didepan para ulama Saudi. Namun kini ia mengakui dirinya keliru memberikan dukungan itu.

"Saya membela Nasrallah dan partainya, partai tirani... di depan ulama Arab Saudi," katanya.

"Tampaknya para ulama Arab Saudi yang lebih dewasa dari saya," tambah Qaradhawi.(muslimdaily)
thumbnail

Wasiat Terakhir Tentara Asad Kecaman kepada Sahabat Nabi


Keterlibatan unsur-unsur syiah dalam konflik Suriah sangat jelas. Salah satunya milisi Hizbullah Lebanon. Meski mendapat hujan kecaman dari timur tengah maupun dunia internasional, milisi syiah tersebut keukeuh mendukung rezim Basyar Asad. Termasuk dalam pertempuran yang sedang memanas di Qushair.

Selain Hizbullah, Iran ikut bahu membahu dengan rezim militer Suriah. Koran Anba’ Suudiyah memberitakan saat ini Iran membuka kantor pendaftaran bagi relawan yang akan dikirim ke Syiria. Diperkirakan dalam 2 bulan dapat menjaring kurang lebih 17 ribu orang.

Trio syiah ekstrem tersebut menjadi lawan yang sekarang ini dihadapi oleh mujahidin Suriah. Ketiganya disatukan ikatan keyakinan yang berbasis ajaran Syiah.

Syiah selama ini menanamkan kebencian luar biasa kepada pengikut sunni dan ajaran ahlu sunnah wal jamaah. Baru-baru ini mujahidin suriah menemukan satu bukti tentang hal itu.

Ketika memeriksa salah satu jenazah tentara militer pemerintah bernama Yamin Kulaib. Selain itu menemukan kartu anggota militer Suriah, Mujahidin dari kelompok Liwa’ Tauhid turut menemukan selembar kertas berisi kutukan kepada tiga orang sahabat Nabi.

“Ya Allah kutuklah Abu Bakar dalam tiap bulan. Kutuklah Umar setiap saat. Kutuklah Utsman sepanjang masa. Ya rabbi, kutuklah pengikut mereka hingga hari kiamat dan hari pembalasan.”  Bunyi sebagian tulisan tersebut.

Umumnya tentara yang terjun ke medan perang. Surat yang dibawa adalah pesan terakhir untuk keluarga. Namun, justru ditemukan surat berisi kecaman kepada ketiga khalifah sebut. Dalam ajaran Syiah khalifah selain Ali bin Abi thalib dianggap sebagai musuh.

Yamin Kulaib adalah salah satu korban dari puluhan jenazah yang ditemukan oleh mujahidin. Hingga saat ini mujahidin masih mempertahankan kota Qushair dari serangan pasukan koalisi syiah. [an-najah]
thumbnail

950 Mujahidin Suriah di Qusayr Lawan 4 Ribu Pasukan Assad dan Milisi Syi’ah


Pertempuran hebat saat ini sedang terjadi di 22 fronts di Qusayr, Homs yang berbatasan dengan Lebanon, antara para pejuang pembebasan Suriah, Jaysul Hurr/Free Syrian Army, dengan pasukan rezim Basyar al-Assad yang dibantu ribuan milisi Syi’ah dari Lebanon, Iraq, Iran dan lain-lainnya.

Pada saat yang bersamaan, gempuran dari udara terus dilancarkan tanpa henti. Rudal-rudal dan bom-bom dijatuhkan tanpa ampun ke kawasan-kawasan pemukiman. Korban terbanyak adalah anak-anak. Sampai sekitar Zuhur waktu setempat saja, sudah dijatuhkan 45 rudal ke arah kota Al-Qusayr dari berbagai arah.

“Kami mengkhawatirkan terjadinya pembantaian di kalangan wanita dan anak-anak,” demikian Abu Ja’far al-Homsi, seorang relawan media, kepada TV FSA.

Berbagai sumber media mengabarkan bahwa saat ini ada sekitar 950 orang mujahidin di Qusayr yang sudah menyatakan mereka akan terus berjuang mempertahankan kota demi menyelamatkan warga, sampai titik darah penghabisan.

Sebagaimana sudah diberitakan, ada ribuan milisi Syi’ah Hizb*** yang berusaha menyerbu masuk dan menaklukkan Qusayr. Perancis menyebutkan angka 4000 tentara Hizb*** Lebanon, sementara pihak Jasyul Hurr memperkirakan jumlah milisi Syi’ah itu sekitar 6000-an. Sejauh ini, sekitar 300 tentara Hizb*** sudah dibunuh oleh para pejuang di Qusayr. Di pihak mujahidin sendiri, jumlah mereka yang syahid (Insya Allah) juga dikabarkan sangat tinggi namun mereka menolak menyebut angka dan menyatakan dengan tegas bahwa mereka masih memiliki banyak sekali mujahidin yang akan terus berjihad membela 40 ribuan warga dan kota Qusayr.

Masih Berlangsung

Saat berita ini diturunkan, pertempuran masih terus berlangsung, demikian dikabarkan Abu Ja’far.

“Para tentara bayaran Hizb*** dan milisi Assad hanya bisa sampai di pinggiran kota al-Qusayr, mereka hanya bisa menguasai sekitar 20-an rumah,” demikian Abu Ja’far, membantah pemberitaan berbagai media Barat termasuk BBC yang mengatakan bahwa al-Qusary sudah jatuh ke tangan rezim.

“Ada pertempuran ‘tabrak lari’ yang terus berlangsung dan mereka tidak bisa masuk ke pusat kota,” kata Abu Ja’far, menekankan pentingnya untuk segera menolong dan mengevakuasi mereka yang cedera agar tidak terjadi pembantaian yang serupa dengan yang terjadi di Baba Amru ketika 740 warga kota – termasuk yang cedera – dibunuh oleh pasukan rezim.

Abu Ja’far membenarkan bahwa sebagian pejuang sudah menarik diri sementara rezim dan Hizb*** maju, tapi ini adalah mundur taktis. “Ini bukan pertempuran yang seimbang. Ini pertempuran antara Jaysul Hurr melawan 5 negara. Kami (warga Qusayr) sudah mengatakan kepada Jaysul Hurr/FSA bahwa kalau mundurnya kalian itu baik untuk kalian dan warga sipil, maka mundurlah. Karena revolusi akan terus berjalan meskipun Qusayr sampai jatuh. Masih ada fronts lain, Dar’aa, kawasan utara Aleppo dan Homs. Revolusi bukan cuma di Qusayr.” (Sahabat Suriah)

thumbnail

Revolusi Suriah; Tragedi Berkepanjangan Menuntut Kebebasan

Di Suriah, fenomena Arab Spring masih membara. Dua tahun lebih perjuangan revolusi rakyat menuntut kebebasan dan demokratisasi belum juga usai. Demostrasi massa di berbagai kota besar Suriah belum mampu menggulingkan symbol otoritarisme Suriah, Basyar Assad, dari kursi presiden. Bahkan sebaliknya, ia bersikeras untuk tetap bertahan pada jabatannya dan menggunakan segala cara guna menggagalkan revolusi rakyat, bahkan dengan jalur kekerasan.

Sementara itu, Negara-negara tetangga semisal Tunisia, Libya dan Yaman telah berhasil menggulingkan  rezim berkuasa di wilayah masing-masing. Negara-negara tersebut kini mulai merealisasikan berbagai tujuan dan impian besar revolusi. Lantas, bagaimana dengan revolusi Suriah?

Puncak kemarahan Rakyat

Revolusi rakyat Suriah tidaklah mencetus secara sepontan. meski revolusi  tersebut muncul di tengah-tengah fenomena Arab Spring yang melanda dunia Arab, namun tidak bisa dibenarkan bila Arab Spring menjadi satu-satunya sebab terjadinya revolusi di Suriah.

Gelombang revolusi Suriah merupakan puncak dari akumulasi berbagai faktor represif dan kemarahn rakyat Suriah yang sudah belangsung hampir setengah abad, dan Arab Spring menjadi momen yang tepat sekaligus memberikan rasa percaya diri bahwa rakyat Suriah juga mampu melawan pemerintah yang otoriter.

Seperti rezim-rezim Arab lainya, rezim pemerintah Suriah cendrung korup, represif, dan tidak memperhatikan kepentingan dan apresiasi masyarakat, atau yang Clement Henry Moore sebut dengan bungker regimes. Model ini sudah ada sejak pertengahan abad ke-20, atau tepatnya sejak Hafez Assad melangkah ke kursi presiden bersama partai Sosialis Ba’ats (hizb al-ba’ats al-Isytiraki) tahun 1963.

Sejak saat itu, secara sistematis dan terus-menerus rezim Assad melakukan segala hal untuk merealisasikan sebuah kekuasaan mutlak di Suriah. Dengan berkoalisi dengan militer, rezim Assad mengambil berbagai kebijakan untuk mengokohkan kekuasaan. Kekuatan militer dan pihak keamanan ditingkatkan, hingga menjadi kekuatan militer terbesar ke dua di kawasan regional setelah Mesir. Konstitusi dan undang-undang pun tak luput direkayasa guna mencegah tumbuh dan berkembangnya segala gerakan oposisi , baik yang berideologi Islam, liberal hingga sosialis. Sepanjang tahun 1979-1982, rezim Assad membasmi akar Jamaah Ikhwanul Muslimin (IM) Suriah, khususnya sayap militer mereka. Dengan cara inilah, rezim Suriah di bawah kepemimpinan hafez Assad bisa bertahan.

Pada tahun 2000, ketika umur Hafez Assad semakin senja, ia mengagandekan ‘pewarisan’ kekuasaan kepada putranya, Bashar Assad. Parlemen Suriah pun lalu mengadakan rapat luar biasa untuk mengamandemenkan konstitusi dengan mengubah batas minimal umur presiden Suriah. Sehingga, sang ‘putra mahkota’ Bashar Assad bisa diajukan menjadi presiden dan memenangkan referendum pada tahun tersebut. Bashar Assad kemudian kembali terpilih pada 2007, dan masih menjabat sebagai presiden Suriah hingga saat ini.

Peran Partai Sosialis Ba’ats (Hizb al-ba’ats al-Isytiraki) sebagai partai penguasa di Suriah juga sangat besar. Di parlemen, partai ini membentuk koalisi  Front Nasional Progresif (al-jabhah al-Wathaniyah at-Taqaddumiyah) bersama dengan partai-partai lain, sehingga bisa menguasai pos-pos pembuat kebijakan publik di Suriah. Uniknya, mayoritas petinggi partai ini merupakan anggota kelompok Syiah Alawiyah, yang jumlahnya tidak lebih dari 12% dari jumlah keseluruhan rakyat Suriah. Sehingga, banyak pengamat melihat bahwa Suriah merupakan salah satu benteng Syiah di kawasan itu bersama dengan Iran dan Irak di bawah kepemimpinan Alwi al-Maliki.

Perjalanan Panjang Revolusi

Keberhasilan revolusi Tunisia dan Mesir di awal tahun 2011, mendorong para pemuda dan aktifis Suriah untuk menggelar aksi serupa di negaranya. Dengan memanfaatkan jejaring sosial sebagai sarana komunikasi utama, mereka menyeru rakyat untuk hadir dalam aksi protes rakyat “hari kemarahan Suriah” pada 15 Maret. Aksi protes tersebut lalu berkembang menjadi seruan untuk menjatuhkan rezim Bashar Assad.

Aksi protes rakyat Suriah dengan sangat cepat menyebar ke berbagai kota. Pada 25 Maret, hari yang mereka sebut dengan “Hari kejayaan Suriah”, dengan serentak rakyat Suriah menggelar demostrasi besar di tujuh propinsi dari 14 propinsi yang ada.

Eskalasi demostrasi rakyat yang begitu cepat dan signifikan di berbagai penjuru kota akhirnya memaksa Bashar Assad untuk berpidato didepan parlemen pada 31 Maret. Dengan siasat politiknya, Assad mencoba menenangkan kemarahan rakyat dengan berjanji akan mengandengkan reformasi politik di Suriah. Assad juga membentuk pemerintahan baru, yang ternyata komposisinya tidak jauh berbeda dengan pemerintah sebelumnya.

Selain itu, Assad berjanji akan segera mengusut segala pihak yang terbukti melakukan kekerasan terhadap para demostran. Segala siasat damai yang dilakukan Assad untuk meraih hati rakyat dan menghentikan gelombang revolusi ternyata tidak membuahkan hasil. Keberhasilan revolusi Tunisia dan Mesir membuat rakyat semakin percaya diri dan yakin bahwa keberhasilan revolusi Suriah adalah suatu keniscayaan.

Assad semakin geram. Ia pun kemudian menerapkan siasat baru. Dengan dukungan penuh militer, pada akhir April militer Suriah mulai melakukan tekanan dan kekerasan kepada para demostran. Korban yang berjatuhan meningkat tajam. Awal Juni 2011, pihak militer Suriah menembaki para demostran di kota Hamah sehingga menewaskan puluhan orang. Tindak kekerasan semacam itu masih terus berlangsung hingga saat ini. Awal Februari 2012, serangan bom dilancarkan militer pro pemerintah di wilayah Khalidiya, provinsi Homs awal Februari. Lalu, disusul dengan berbagai operasi militer di berbagai daerah  dan merupakan operasi paling kejam selama masa revolusi. Hampir seribu orang meninggal dalam jangka hanya dua minggu. Yang lebih ironis, adalah pada hari digelarnya referendum nasional terkait konstitusi baru suriah, rezim Assad terus melakukan tindak kekerasan di Homs dan Hamah hingga menelan korban jiwa sebanyak 65 orang.

HIngga 30 Mei 2013, dalam 805 hari revolusi tercatat setidaknya 69.191 korban jiwa, sebagaimana yang dirilis situs syriansyuhada.com. Besar kemungkinan, jumlah sesungguhnya korban revolusi Suriah lebih besar dari datatersebut.

Reaksi Internasional

Kekejaman yang dilakukan rezim Assad dan pelanggaran atas hak asasi manusia, membuat dunia internasional menyatakan atas hak asasi manusia, membuat dunia Internasional menyatakan sikap. Pada pertengahan Agustus 2011 , Amerika Serikat (AS), Perancis, Inggris, Uni Eropa dan Kanada menyatakan bahwa rezim Suriah tidak lagi sah. Mereka juga menyeru Assad untuk segera meletakkan jabatan.

Reaksi Internasional berlanjut, dengan agenda resolusi Dewan Keamanan PBB. Gurita-gurita kapitalis yang menjabat sebagai polisi dunia tersebut ingin menerapkan skenario Libya atas Suriah, dengan menjadikan isu perlindungan hak asasi manusia sebagai alasan. Mereka hendak menguasai Suriah yang mempunyai geostrategic, pasar dan sumber daya alam yang sangat menggiurkan. Namun, seperti telah diprediksikan, Rusia dan China menggunakan hak veto mereka. Agenda intervensi asing akhirnya gagal diterapkan atas Suriah.

Liga Arab juga tidak tinggal diam. Organisasi regional Arab ini mengutus para pengamatnya ke Suriah. Mereka kemudian menawarkan protocol pengamat Arab yang menjadi bagian dari resolusi Liga Arab. Pada mulanya Suriah bersedia menandatangani protokol tersebut. Akan tetapi, ketika protokol berikutnya menawarkan penyelesaian konflik dengan menyeru Assad agar menyerahkan kekuasaan pada wakilnya, dengan tegas Assad menolak tawaran tersebut. Para pengamat liga Arab pun akhirnya keluar, dan diganti dengan pengutusan pasukan penjaga keamanan.

Usaha terakhir dunia Internasional adalah dibentuknya apa yang disebut dengan sahabat Suriah, yang terdiri dari Negara-negara Arab dan barat. Dalam pertemuan yang pertama, sahabat Suriah menuntut rezim Assad untuk melakukan genjatan senjata. Pertemuan yang itu juga meminta Suriah meloloskan bantuan dari organisasi kemanusiaan bagi warga sipil yang mengalami penderitaan.

Revolusi yang Lamban

Mengapa Revolusi Suriah tak kunjung berhasil menggulingkan rezim Assad? Itulah pertanyaan besar terkait revolusi Mesir mampu menggulingkan rezim Mubarak hanya dalam 18 hari, Revolusi Yasmin di Tunisia berhasil melengserkan ben Ali dalam waktu satu bulan, dan Revolusi Libya juga sudah berhasil menjatuhkan Qaddafi-meski dengan skenario yang sangat tragis-, mengapa rezim Assad masih mampu bertahan hingga hari ini?

Setidaknya ada empat faktor utama mengapa revolusi di Suriah yang sudah berjalan satu tahun tersebut belum mampu menggulingkan rezim penguasa. Keempat faktor tersebut adalah: koordinasi yang kurang antar pejuang revolusi, kekuatan oposisi yang lemah, sikap miter yang masih pro pemerintah, dan tarik ulur dukungan minoritas.

Pada mulanya, revolusi Suriah berjalan tanpa ada strategi dan koordinasi yang matang. Tak ada organisasi rakyat yang mengakar dan mampu memobilisasi massa dalam jumlah besar dan dalam waktu singkat. Hal tersebut diperparah dengan minimnya pengalaman pergerakan di kalangan pemuda Suriah. Hingga saat tekanan rezim Assad semain besar dan tak jarang menggunakan kekerasan, dan korban yang berjatuhan semakin banyak, para pejuang revolusi Suriah mendirikan komite koordinasi demonstrasi. Mulanya, komite-komite tersebut dibentuk untuk mensuplay kebutuhan para demostran memberikan bantuan untuk para korban revolusi. Akan tetapi, lambat laun mereka berkembang menjadi sebuah kekuatan strategis untuk mensukseskan revolusi. Para aktivis politik dan hukum mulai masuk dalam organisasi-organisasi ini, hingga akhirnya terbentuklah dewan umum yang menggabungkan semua komite koordinasi revolusi Suriah.  

Langkah represif yang selalu diterapkan oleh rezim Assad, mengakibatkan lemahnya segalam bentuk kekuatan oposisi. Secara umum, oposisi Suriah terbagi dalam dua kategori, oposisi dalam negeri dan oposisi luar negeri.

Oposisi dalam negeri didominasi oleh partai-partai politik, yang bisa kita klasifikasikan ke dalam dua kelompok. Kelompok pertama, adalah partai oposisi resmi yang bergabung dalam koalisi Front Nasional Progresif (al-Jabhah al-Wathaniyah at-Taqaddumiyah), misalnya adalah Partai Nasionalis Suriah. Di awal revolusi, partai-partai tersebut masih mengamati perkembangan, hingga ketika revolusi semakin besar, mereka menyeru pemerintah untuk segera mengandengkan reformasi politik dan ekonomi. Kelompok kedua,  adalah koordinasi nasional kekuatan perubahan demokrasi, yang mencakup partai-partai tidak resmi di Suriah. Pergerakan dan tuntutan mereka lebih lantang melawan kebijakan rezim, dan mereka lebih dekat dengan tuntutan revolusi.

Disamping itu, ada beberapa koalisi oposisi Suriah lainnya, seperti gerakan bersama, koalisi kiri Suriah dan Aliran Pembangunan Negeri Suriah. Namun, organisasi-organisasi ini tidak banyak memberikan pengaruh besar.

Sementara itu, oposisi di luar negeri terdiri dari dua kekuatan, yaitu koalisi nasional Mendukung Revolusi dan Mejelis Nasional Suriah. Yang terakhir ini, merupakan kelompok oposisi luar negeri terbesar Suriah, dengan Ikhwanul Muslimin sebagai penggerak utamanya. Di kancah Internasional, Majelis nasional Suriah menjadi representasi paling kuat. Bahkan, diisukan bakal menjadi representasi resmi Suriah. Sayangnya, pengaruh mereka di dalam negeri tidak terlalu kuat.

Sikap militer yang mendukung penuh rezim Suriah menjadi penghambat utama kesuksesan revolusi. Militer menyebut revolusi rakyat Suriah sebagai ‘sebuah gerakan separatis’ yang dilakukan oleh segelintir kelompok untuk menciptakan ketidakstabilan keamanan dalam negeri. Dengan dalih itulah, militer Suriah menggunakan segala cara untuk menekan dan memberantas pergerakan revolusi Suriah.

Selain menggunakan militer sebagai instrument menggagalkan revolusi, rezim Assad juga terus berusaha mendekati kelompok-kelompok minoritas Suriah, seperti umat Kristen, Alawy dan ismailiyyah yang berjumlah hampir 30% dari jumlah penduduk. Jumlah yang cukup besar ini tentunya sangat berpengaruh terhadap revolusi. Dengan mencegah keterlibatan mereka dalam revolusi, Assad ingin menciptakan opini public bahwa apa yang terjadi sekarang di Suriah bukanlah revolusi rakyat; melainkan sebuah gerakan separatis golongan tertentu. Tepatnya, sebuah gerakan separatis Sunni melawan Syiah yang kini menguasai pemerintahan. Oleh karenanya., Assad menakuti-nakuti mereka dengan kemungkinan-kemungkinan buruk yang akan menimpa mereka bila kelompok Sunni memegang kekuasaan di Suriah.

Masa Depan Revolusi
Perjalanan panjang revolusi Suria yang sudah berlangsung selama dua tahun tanpa henti ini mengindikasikan bahwa rezim Assad sejatinya tidak mampu membendung dan menghentikan gelombang revolusi, meskipun berbagai macam cara telah mereka tempuh.
Di sisi lain, para pejuang revolusi sampai saat ini belum juga mampu menjatuhkan rezim Assad yang semakin gencar melemahkan kekuatan mereka. Hingga hari ini, revolusi di Suriah masih dihadang banyak hambatan dan tantangan, baik dalam tataran nasional, regional hingga internasional.

Di dalam negeri, rezim Assad terus melancarkan serangan dan kekerasan kepada para demostran. Dengan sekuat tenaga, ditambah dukungan Iran, China dan Rusia, rezim Assad berusaha menggagalkan segala bentuk demostran aksi protes rakyat.

Para pengamat politik memandang bahwa Suriah merupakan salah satu basis Syiah bersama Iran dan Irak dibawah pemerintahan Alwi al-Maliki. Dengan letak geostrategis  yang dimiliki Suriah dan ditambah kesamaan ideologi dengan Negara-negara tetangga, menjadikan kejatuhan rezim Suriah akan berakibat fatal negar-negara basis Syiah tersebut, dan juga bagi Hizbullah di Lebanon.

Oleh karenanya, Iran mendukung penuh langkah rezim Assad untuk mempertahankan kekuasaannya. Bahkan salah satu anggota Majelis Ahli Iran, Ahmad Jannati dalam khutbah Jum’atnya (24/02) di Tehehan menyeru umat Syiah Arab untuk memasuki Suriah dan berjihad bersama pihak Assad.

Sementara itu, Israel yang merupakan sekutu abadi AS dan berbatasan langsung dengan Suriah sangat menginginkan konflik internal Suriah terus berlangsung. Instabilitas Suriah berarti keamanan bagi Israel. Dengan kondisi ini, Suriah akan disibukkan dengan permasalahan internalnya dari pada konflik berkepanjangan mereka dengan Israel. Pada waktu yang sama, konflik internal Suriah akan melumpuhkan perekonomian dan militer  Suriah, bahkan perekonomian Iran yang banyak memberikan bantuan kepada Suriah.

Senada dengan Israel, AS sejatinya tidak menginginkan Suriah menjadi sebuah Negara demokrasi. Meski pada awalnya, AS tampak mendukung revolusi rakyat Suriah, namun sejatinya AS hanya ingin memanfaatkan momentum tersebut sebagai jalan untuk mempertahankan kepentingannya di kawasan, dan mengepung Iran setelah tentara mereka angkat kaki dari Irak. AS melihat, bahwa berdirinya Suriah sebagai sebuah Negara demokrasi akan mengancam kepentingan AS di kawasan. Politik Suriah yang demokratis akan menjadi cerminan keinginan-keinginan rakyat, yang sewaktu-waktu bisa mengancam eksistensi sekutunya, Israel.

Demikian juga dengan Rusia dan China yang tidak ingin kepentingan mereka di Suriah tergangu. Suriah sangat berarti bagi Rusia. Di kota Latakia dan Tartus, Rusia menempatkan basis angkatan laut terakhir mereka dan satu-satunya di kawasan. Letak geografis Suriah cukup dekat dengan Rusia, sekaligus bersandingan dengan Turki sebagai salah satu anggota NATO. Rusia tentu tidak menginginkan hegemoni Eropa-AS di kawasan Timur Tengah semain besar. Rusia juga tidak ingin scenario Libya terulang untuk kedua kalinya.

Sama halnya dengan China, yang kini menjadi kekuatan ekonomi kedua terbesar setelah AS. China tidak ingin pasokan minyak Suriah ke negaranya terganggu, begitu juga dengan hubungan dagang antara kedua Negara.

Penutup
Berbagai hambatan dan rintangan diatas tentunya sangat berpengaruh terhadap kelangsungan revolusi Suriah ke depan. Kemampuan Majelis Nasional sebagai kekuatan revolusi terbesar untuk menggandeng pihak minoritas ke dalam basis revolusi, keberhasilan mereka dalam menghapus ketakutan-ketakutan mereka, dan upaya diplomasi untuk menyakinkan dunia bahwa kepentingan mereka akan terjamin, menjadi titik tolak utama keberhasilan revolusi mereka, niscaya rezim Assad tidak akan mampu bertahan lama dalam kekuasaan. Penguasaan media juga tak kalah penting, agar mampu membentuk opini masyarakat, dan memberikan berita yang berimbang tentang apa yang dilakukan oleh rezim Assad terhadapa revolusi rakyat Suriah.

Terakhir, intervensi asing dalam permasalahan internal Suriah bagaimanapun juga bukanlah solusi yang baik, sebagaimana hal itu tidak diinginkan oleh rakyat Suriah. Sejak Majelis Nasional Suriah berdiri, mereka menolak segala intervensi asing, termasuk bantuan militer dan serangan kepada rezim Assad. Bagi rakyat Suriah, intervensi asing justru mendatangkan lebih banyak kerugian bagi mereka. Wallahu a’lam. (sinaimesir)
thumbnail

Abu Jaudaat, Instruktur Mujahidin yang Gabung dengan Ikhwanul Muslimin Suriah

Namanya Abu Jaudaat. Usianya sudah 61 tahun. Awalnya kami, Tim Media FIPS (Forum Indonesia Peduli Syam)  mengiranya petani biasa…

Tapi kami cukup dibuat terperangah, setelah menyaksikannya mahir sekali membogkar dan memasang senjata AK 47. Abu Jaudaat bisa bongkar pasang ak 47 tak sampai 1 menit.

Kami jadi penasaran, mengapa ia bisa semahir itu. Maka, kami pun bertanya berapa kali dia berlatih sampai bisa bongkar pasang AK 47 secepat itu?  “Ratusan kali,” jawabnya.

Kami makin penasaran… Obrolan berlanjut.  Ternyata dia pernah menjadi instruktur Mujahidin di Irak.

Inilah cerita singkatnya. Sebelum 1981 ia melakukan petualangan jihad. Abu Jaudaat melarikan diri dari Suriah, hijrah ke Irak sampai tahun 2000. Ia angkat kaki dari Suriah yang saat itu dipimpin diktator Hafez Asad (ayah Basyar Asad), lantaran bergabung dengan gerakan Ikhwanul Muslimin pimpinan Syaikh Said Hawa.

Dalam sejarah kelam Suriah, telah terjadi pembantaian dan penangkapan besar-besaran terhadap umat Islam dan  aktivis Ikhwanul Muslimin di Kota Hama pada 1982, yang dilakukan oleh rezim laknat Hafez Asad.

Peristiwa tersebut terjadi dalam rangkaian konflik antara rezim diktator Hafez al Asad dengan gerakan Islam al Ikhwan al Muslimun, yang saat itu merupakan kelompok oposisi paling aktif dan kuat dalam melawan rezim junta militer Hafez Asad.

Pembantaian kota Hama berlangsung selama hampir satu bulan, dimulai 2 Februari 1982. Rezim otoriter Asad mengerahkan sejumlah brigade pertahanan, pasukan tank dan artileri, serta pasukan payung. Ditambah pula satuan-satuan khusus dari intelijen nasional dan barisan partai yang bersenjata.

Semua pasukan itu bersatu memborbardir dan menghancurkan kota Hama, kemudian menyerang lewat darat serta membakar kota. Rezim telah melakukan genosida terhadap warga Suriah dengan korban antara 30-40 ribu nyawa melayang.

Banyak distrik yang rata dengan tanah, 88 masjid hancur. Puluhan ribu warga lainnya mengungsi menyelamatkan diri dari pembunuhan dan pembantaian.

Dalam masa pelarian itulah, Abu Jaudaat yang telah mengikuti berbagai medan jihad, sempat menjadi instruktur Mujahidin di Irak.

Pada tahun 2000, Abu Jaudaat kembali ke Suriah. Setahun kemudian, 2001, ia ditangkap dan menghuni penjara rezim Nushairiyah hingga 2007.

Kini, di tengah Suriah yang tengah bergolak dan berkobar dalam Tsauroh Rabbani (Revolusi Rabbani), Abu Jaudaat aktif membantu Dr Romi Habib Al Jablawi, Direktur Rumah Sakit Lapangan (RSL) Salma-Jabal Akrod, membangun infrastruktur seperti pembangunan jalan, pengadaan air bersir, dan lainnya.(bumisyam)
thumbnail

Syaikh Al Qaradhawi: Iran adalah Kuffar, Musuh Seluruh Umat Islam



Syaikh Yusuf Al Qaradhawi, dalam siaran televisi Al Jazeera Qatar, 02 Juni 2013, mendoakan agar Iran dan Hizbullah dikutuk Allah, karena merupakan pemimpin seluruh kejahatan. Ia merujuk pada tindakan keduanya yang mendukng Basyar Al Assad dan membunuh kaum Sunni di Suriah.

“Semoga Allah mengutuk Iran, pemimpin seluruh kejahatan. Dan semoga Allah mengutuk Hisbusy Syaithan dan kaki tangannya di Iraq,” demikian pernyataannya.

Ia mengaku selama ini telah salah pernah memberi dukungan pada Hizbullah dalam perang melawan Israel.

“Saya telah salah mengira selama ini tentang saudara Salafi dan Wahabi di Saudi, mereka terlebih dahulu mengetahui mengenai Syiah dan Iran lebih dari yang saya ketahui. Selama ini saya hanya mengatakan mereka, Iran, sebagai kaum Kkuffar padahal hakikatnya mereka adalah musuh kita, musuh seluruh ummat Islam. Orang-orang Syiah sebenarnya telah mengkhianati kita sejak sekian lama dan akhirnya, hari ini, semuanya telah jelas. Mereka di Suriah dibantu Hizbullat sedang membunuhi saudara seaqidah kita.”

Ia menyatakan bahwa Hizbullah tidak pantas menyandang nama itu, tetapi lebih tepat disebut Hizbusy Syaithan, “Jangan panggil mereka Hisbullah (tPartai Allah), mereka lebih layak dijuluki Hisbusy Syaithan (Partai Syaithan). Tidak pantas menyandingkan Allah dengan musuh-musuh Allah itu.”

Ketua Persatuan Ulama Dunia itu menyerukan seluruh umat Islam melawan Syiah di dalam organisasi Hizbullah.

“Saya menyeru seluruh ummat Islam untuk melawan kuffar Syiah yang ada di tubuh Hisbullat. Mereka, orang-orang Hizbullat, adalah kuffar tanpa sedikit keraguan. Mereka sedang menjalankan operasi pembersihan etnik di Syria dengan tujuan untuk mendirikan’Negara Syiah Barat’ di barat Suriah. Dengan terdirinya negara baru itu, ummat Islam akan semakin terpecah-pecah dan bertambah kecil.”

Beliau kemudian menyerukan jihad melawan mereka demi mempertahankan Bumi Syam, “Saya juga telah menyeru dalam khutbah shalat Jum’at agar semua umat Islam di seluruh dunia yang memiliki kemampuan dan kekuatan untuk melawan Iran dan Hisbusy Syaithan agar pergi sekarang ke Suriah dan berjuang mempertahankan tanah Syam. Dan saya mengucapkan salam saya kepada saudara-saudara kita di teluk Arab atas keputusan baru yang mereka buat beberapa menit lalu bahwa Hizbullat adalah organisasi teroris dan jika ditemukan anggota Hizbullat di negara-negara teluk akan dibunuh sebagai murtad kafir.”

Beliau juga menampik pernyataan Hizbullah yang mengaku berperang di Suriah untuk membantu kaum Muslimin, padahal sejatinya adalah untuk membunuhi mereka, “Hari ini, Hisbullat membuat pernyataan yang mengatakan mereka sedang mempertahankan Suriah dan untuk membantu Sunni di Suriah melawan kuffar. Lalu apa berikutnya? Apakah mereka ingin mempertahankan Islam dan kaum Muslimin di Arab dengan cara membantai di Al Qusair?”

Iran, yang merupakan pemimpin Syiah saat ini tak luput dari kecaman Syaikh Al Qaradhawi.

“Semoga Allah mengutuk Iran, pemimpin seluruh kejahatan. Dan semoga Allah mengutuk Hisbusy Syaithan dan kaki tangannya di Iraq. Semoga Allah memberi kemenangan yang cepat ke atas Mujahidin di Suriah serta menyembuhkan mereka yang terluka dan membebaskan mereka yang diculik. Dan seterusnya, negeri Syam yang tercinta akan datang kembali kepada kita, Insya Allah,” pungkasnya.(fimadani)
thumbnail

120 Tentara Bashar Ditahan Mujahidin Suriah, 30 Orang Lainnya Tewas Di Qusayr


Pers rilis terbaru dari Mujahidin Suriah, Senin (0/05/2013) menyatakan sebanyak 120 orang tentara dan perwira Tentara Syabihah la’anahumullah ditawan. Sementara 30 orang lainnya terbunuh dalam pertempuran 3 jam di Qusayr.

Penawanan 120 tentara Syiah itu juga memberikan keuntungan bagi para Mujahidin Suriah. Pasalnya pasokan senjata para pejuang oposisi tersebut juga mendapat suntikan senjata dari rampasan perang.

Dalam video rilis yang diterima redaksi, para mujahidin menyuruh baris para tentara rerim Bashar Al Assad. Menelanjangi badannya lalu berjalan kaki menuju kamp tawanan.(bumisyam)
thumbnail

Qardhawi : Bagaimana mungkin 100 juta Syiah (di seluruh dunia) mengalahkan Muslim 1,7 miliar?


Ulama Muslim , Sheikh Yusuf Al-Qaradawi mengimbau Muslim Sunni di seluruh dunia untuk bergabung  dan mendukung  mujahidin oposisi Suriah dalam perjuangan mereka melawan rezim  Suriah Bashar Al-Assad.

“Setiap muslim dilatih untuk melawan dan mampu melakukan hal itu (harusnya) membuat dirinya bersedia” untuk mendukung oposisi Suriah, Qaradhawi mengatakan di sebuah Demonstrasi di Doha dikutip oleh Agence France-Presse (AFP) pada hari Sabtu, 1 Juni.

Pertempuran telah menyebabkan tewasnya lebih dari 70,000 nyawa melayang dan memaksa lebih dari satu juta warga Suriah meninggalkan rumah mereka ke negara-negara tetangga di samping perpindahan dari dua juta lainnya di negara itu.

Ribuan mujahidin  asing diyakini telah bergabung dalam pertempuran di Suriah melawan rezim Assad.

Sheikh Qaradawi mengecam Iran dan Hizbullah yang sekutu Syiah untuk mendukung rezim Assad.

“Iran mendorong para lelakinya maju dengan senjata untuk mendukung rezim Suriah,  jadi mengapa kita berdiri menganggur?” katanya.

Ulama terkemuka itu menggambarkan kelompok Hizbullah Lebanon, sebagai “partai setan”.

“Pemimpin partai Setan datang untuk melawan Sunni … Sekarang kita tahu apa yang Iran inginkan … Mereka ingin pembantaian lanjutan untuk membunuh Sunni,” kata Qaradhawi.

Hizbullah, sekutu dekat Iran dan rezim Suriah, secara terbuka terlibat dalam perang melawan pasukan anti-rezim di Suriah.

Pejuang Hizbullah saat ini terlibat dalam pertempuran sengit melawan pasukan anti-rezim untuk saling kuasai  kota Qusayr dekat perbatasan Lebanon.

Kelompok Hizbullah Lebanon telah kehilangan puluhan orang dalam pertempuran untuk Qusayr.

Pada hari Sabtu, pemimpin Hizbullah Hassan Nasrallah bersumpah kepada Assad untuk memberikan  kemenangan dalam perang sipil Suriah.

Pemimpin Syiah itu juga berjanji bahwa Hizbullah akan memainkan gelombang konflik dalam mendukung Assad, dan tetap bersama Assad selama diperlukan untuk melakukannya.

“Bagaimana mungkin 100 juta Syiah (di seluruh dunia) mengalahkan 1,7 miliar (Sunni)?” Qaradhawi berseru.

“Hanya karena (Sunni) Muslim yang lemah.”

Syeikh Qaradhawi menyesali dukungan sebelumnya  untuk Hizbullah dan pemimpinnya, yang meraih popularitas pada  perang melawan Israel pada 2006. “Ternyata ulama Saudi lebih dewasa dibanding saya” ucapan penyesalan dari Syeikh Qordhowi atas dukungan yang pernah ia lontarkan pada saat perang Libanon 2006.(em)